Budaya dan Sastra

RINDY JANGAN PERGI

Oleh : WAI  Nasution   Cuaca mendung yang mengitari wajah Kotapinang pagi itu membuat Rindy enggan beranjak dar…

Malam Purnama di Kampung Tua (III)

Karya : WAI Nasution Tiba-tiba, Pak Dullah berbicara tanpa mengubah posisi kepalanya yang menghadap lurus ke depan. …

"Satu Tamparan Ibu" (Selesai)

Karya : Wai Nasution Riyan tertunduk lesu. Hatinya hancur mendapati kenyataan bahwa wanita yang ia perjuangkan habis-…

Muara Penantian Sang Detektif (Selesai).

Oleh : Wai Nasution Rudi menarik napas panjang, seolah membuang beban yang selama ini menyesakkan dadanya. "Yan, …

Satu Tamparan Ibu (II)

Penulis : Wai Nasution "Saya harus pergi, Bu. Ada janji yang menyangkut masa depan saya," sahut Riyan dengan…

Muara Penantian Sang Detektif (IV)

Penulis : Wai Nasution Setelah pesanan datang, obrolan mereka mengalir kembali ke masa-masa seragam putih-biru yang pe…

"Satu Tamparan Ibu"

Karya : Wai Nasution     Langit sore itu seperti tumpahan tinta; mendung pekat yang menelan habis sisa-sisa sin…