Karya : WAI Nasution
Tiba-tiba, Pak Dullah berbicara tanpa mengubah posisi kepalanya
yang menghadap lurus ke depan.
"Nak Bayu... apakah kantormu tahu kalau jalan menuju
kampung ini hanya punya satu arah?"
Suaranya bukan lagi parau, melainkan bergema pelan, seolah
berasal dari dasar sumur yang sangat dalam. Bayu membuka mata sedikit, dan
jantungnya hampir copot. Di kaca spion motor yang retak, ia tidak melihat
pantulan wajah Pak Dullah.
Spion itu hanya memantulkan jok motor
yang kosong di bagian depan, sementara ia sendiri tampak duduk sendirian,
melayang di atas mesin yang berjalan tanpa pengemudi.
Dengan sisa tenaganya, Bayu berlari menuju hutan untuk
menhindari Pak Dullah yang malam itu terkesan misterius. Dengan menggunakan
senter HP nya, Bayu terus berlari tanpa menghiraukan suara parau Pak Dullah
yang memanggil-manggil namanya.
Ranting-ranting tajam menyabet wajah dan lengannya, namun Bayu
terus memacu kakinya. Di dalam hutan, kegelapan terasa lebih padat, seolah-olah
udara di sana berubah menjadi cairan hitam yang menyesakkan. Langkah kakinya
yang menginjak dedaunan kering terdengar seperti suara tulang yang remuk.
“Tenang yu, sebentar lagi sampai” bathinnya member semangat pada
dirinya sendiri.
“Sebentar lagi pasti sampai,” bathinnya.
Di depannya, kabut tipis mulai tersingkap, menampakkan deretan
rumah panggung tua yang tertata melingkar. Itulah Kampung Tua. Namun, tidak ada
lampu listrik di sana. Setiap teras rumah hanya diterangi oleh lampu templok
atau lampu yang terbuat dari sisa kaleng-kaleng yang bersumbukan kain dengan
pemicu pembakarannya menggunakan minyak tanah.
Bayu melangkah keluar dari batas hutan dengan ragu. Saat kakinya
menginjak tanah perkampungan, suara bisikan ribuan mulut mulai terdengar dari
balik dinding-dinding bambu rumah-rumah tersebut.
"Satu lagi... yang datang atas kemauan sendiri..."
“Ada apa sebenarnya di kampung ini”
Bayu melihat sebuah rumah yang pintunya sedikit terbuka,
memancarkan cahaya yang lebih terang dari yang lain. Di atas pintunya,
tergantung sebuah papan nama kayu yang sudah lapuk: "Gudang Ilmu".
Namun, saat ia hendak melangkah ke sana, tanah
di bawah kakinya mulai bergetar hebat.
Dari dalam kegelapan di antara sela-sela rumah, muncul
sosok-sosok bayangan tinggi besar dengan mata yang bersinar seperti bara api.
Mereka adalah penjaga kampung yang sebenarnya.
Melihat dua orang berbadan kekar itu berjalan ke arahnya, Bayu menyelinap di balik rumah atau gudang ilmu dengan senyap agar tidak ketahuan. Bathinnya kecut saat teringat kalimat dari warga yang rapat di rumah itu.
“Apa sebenarnya ritual yang tidak boleh diketahui oleh umum”
bathinnya
Lonceng tua di balai desa berdentang sekali, suaranya parau,
seolah tercekik karat dan usia. Di bawah cahaya purnama yang pucat pasi,
Kampung Tua itu tampak seperti tengkorak raksasa yang menganga. Rumah-rumah
kayu yang lapuk berdiri miring, dengan jendela-jendela gelap yang menyerupai
mata yang terus mengawasi setiap langkahnya.
Tiba-tiba nyaliku kecut seakan raga tidak berdaya untuk
melanjutkan investigasi yang diperintahkan atasannya. Namun disisi lain, Bayu
merasa tertantang dengan kisah misterius yang secara turun temurun dilakukan
orang kampung tua itu setiap datangnya bulan purnama.
“Penasaran juga, apa sebenarnya yang mereka tutup rapat dari
khalayak ramai, sehingga siapapun yang datang akan mereka siasati dan membuat
tidak betak” bathinnya lagi sambil menepuk pipinya yang dihinggapi nyamuk.
“Alahh…ini lagi….situasi mencekam seperti ini masih saja di
ganggu serangga penghisap darah” celetuknya. (bersambung)


Posting Komentar
0Komentar