"Satu Tamparan Ibu" (Selesai)

Media Barak Time.com
By -
0




Karya : Wai Nasution


Riyan tertunduk lesu. Hatinya hancur mendapati kenyataan bahwa wanita yang ia perjuangkan habis-habisan ternyata memiliki hati sekeras batu. Sombong, kasar, dan tak punya empati.


Tiba-tiba...

PLAK! PLAK! PLAK!

"Aduh!" jerit Lia histeris.


Riyan tersentak. Ia mendongakkan kepala dan terpaku melihat pemandangan di depannya. Ibu-ibu yang mobilnya ia tabrak tadi sudah berdiri di samping meja mereka, wajahnya merah padam menahan amarah setelah mendaratkan tamparan berkali-kali ke pipi Lia.


"Mama?! Apa-apaan sih, Ma? Kenapa tiba-tiba menamparku?" teriak Lia sambil memegangi pipinya yang panas.

"Kamu terlalu sombong! Hatimu sudah mati!" desis ibu itu tajam. "Mama tidak pernah mengajarimu menjadi manusia tak beradab seperti ini!"


Riyan terpana. Dunianya seolah berhenti berputar. Ibu itu... mamanya Lia? Pantas saja ia merasa asing, selama ini setiap berkunjung, Riyan memang tak pernah bertemu dengan orang tua kekasihnya itu.


"Kenapa Mama bicara begitu? Memangnya apa salahku?" tanya Lia, masih dalam kondisi terguncang.

"Mama melihat semuanya dari tadi! Mama memperhatikan betapa ketusnya kamu pada Riyan, padahal semua yang dia katakan itu benar!" jelas sang mama dengan nada yang menghujam.


"Benar bagaimana? Dia telat, Ma! Dia nggak tepat waktu, itu faktanya!" kilah Lia, mencoba membela diri di tengah rasa malunya yang membuncah.

"Memang Riyan terlambat, tapi apa sedikit saja kamu mau mendengar penjelasannya? Tidak, kan? Kamu hanya peduli pada ego dan dirimu sendiri!" cecar sang mama, suaranya bergetar karena kecewa.


"Sudahlah, Ma! Mama nggak usah ikut campur urusanku!" bantah Lia keras kepala.

PLAK!

Satu tamparan lagi mendarat di pipi Lia, kali ini lebih keras.


"Mama harus ikut campur karena kamu sudah kehilangan hati nurani! Riyan benar, dia kecelakaan. Dan penyebabnya adalah Mama yang mengerem mendadak. Motornya menghantam mobil Mama sampai dia terpental ke rumput!" jelas sang mama dengan napas memburu. "Dia kesakitan, punggungnya cedera parah, tapi dia menolak dibawa ke rumah sakit hanya karena ingin menepati janjinya padamu. Dia bertaruh nyawa demi mengejar waktu yang kamu berikan!"


Mendengar penjelasan sang mama yang begitu gamblang, benteng keangkuhan Lia runtuh seketika. Dadanya terasa sesak. Setitik air mata lolos dari sudut matanya, diikuti isak tangis yang mulai pecah. Ia menyesal telah membiarkan hatinya membatu dan mengabaikan ketulusan pria yang baru saja ia maki-maki.


"Sekarang, minta maaf pada Riyan! Kamu seharusnya bersyukur punya kekasih sepertinya, bukan malah menginjak-injak harga dirinya," perintah mamanya tegas.

Tanpa mempedulikan gengsi lagi, Lia menghambur ke pelukan Riyan. Ia menangis tersedu-sedu di dada pria itu. Riyan sempat gelagapan, bingung harus bereaksi apa di bawah tatapan tajam calon mertuanya.


"Sayang... maafkan aku. Aku khilaf," isak Lia sesenggukan. "Aku berdosa padamu. Hanya karena pengaruh orang lain yang belum tentu tulus, aku tega memfitnahmu soal Lastri. Maafkan aku, Sayang..."

"Aduhh...!" Riyan tiba-tiba meringis.

"Kenapa? Mana yang sakit?" tanya Lia panik, melepaskan pelukannya perlahan.

"Pinggangku... sakit sekali kalau ditekan," rintih Riyan.


"Sudah, Nak. Bawa Riyan ke mobil sekarang. Kita ke rumah sakit," potong mamanya dengan nada yang kini melembut. "Mama tidak mau terjadi apa-apa dengan calon mantu Mama."

Lia dan Riyan saling berpandangan, keduanya tertegun mendengar pernyataan wanita paruh baya itu. Lia tersenyum kecil, rona ceria kembali menghiasi wajahnya.

"Kamu pakai jampi-jampi apa sampai Mama bisa langsung setuju begitu?" ledek Lia, mencoba mencairkan suasana.


"Ah, entahlah..." jawab Riyan sambil nyengir menahan perih.

Mobil itu pun melaju membelah sisa-sisa mendung sore itu. Riyan merebahkan punggungnya di jok mobil dengan perasaan lega yang luar biasa. Di tengah rasa sakit fisiknya, ia tersenyum dalam hati. Ternyata benar, akan selalu ada pelangi setelah badai, dan ada nikmat yang manis setelah sengsara yang hebat.

 

(Seluruh rangkaian kisah ini hanyalah buah imajinasi penulis. Nama dan peristiwa di dalamnya diciptakan untuk kepentingan narasi, tanpa bermaksud menyinggung pihak mana pun.)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)