Satu Tamparan Ibu (II)

Media Barak Time.com
By -
0



 Penulis : Wai Nasution


"Saya harus pergi, Bu. Ada janji yang menyangkut masa depan saya," sahut Riyan dengan nada getir. Detak jantungnya berpacu lebih cepat dari denyut lukanya. Waktu pemberian Lia hampir habis—atau mungkin sudah habis.


Dengan sisa kekuatan yang ada, Riyan bangkit, tertatih dibantu ibu itu menuju motornya yang tergeletak malang di aspal. Kondisinya cukup mengenaskan; velg ban depan oleng dan lampu utama hancur menyisakan pecahan kaca. Riyan mencoba memutar kunci kontak. Satu kali, dua kali... brem!

"Alhamdulillah..." bisiknya lega. "Aku harus sampai, bagaimanapun caranya."


Tanpa memedulikan rasa nyeri yang menusuk pinggang, Riyan kembali memacu motornya yang kini bergetar tidak stabil. Ia meninggalkan ibu itu yang terpaku bingung di pinggir jalan. Padahal, ibu itu berniat membawanya ke rumah sakit, namun ditolak mentah-mentah.

"Maaf, Bu, saya harus pergi. Jika tidak, orang yang saya cintai akan hilang. Mohon doanya," seru Riyan lirih sebelum melesat pergi.

 

Setelah perjuangan yang nyaris merenggut nyawanya, Riyan akhirnya sampai di depan cafe. Ia terlambat lima belas menit. Dengan langkah pincang dan baju yang kotor terkena rumput dan tanah, ia menghampiri meja Lia.

"Maaf, Sayang... aku terlambat tadi. Aku—"


"Nggak usah banyak alasan!" potong Lia tajam. Suaranya dingin, tanpa ada sedikit pun empati melihat kondisi Riyan yang berantakan. "Kalau telat, ya telat saja. Jangan banyak bacot."

Riyan terpaku. "Astaghfirullah... Lia, dengar dulu penjelasanku. Aku kecelakaan tadi—"


"Apa perlu aku dengar dongeng ngawurmu itu?" Lia memutar bola mata, wajahnya semakin ketus.

Riyan hanya bisa beristighfar dalam hati. Sosok di depannya ini terasa asing. Hanya karena api cemburu pada teman sekantor, watak Lia berubah 180 derajat. Apa mungkin ini alasan sebenarnya? batin Riyan ragu.

"Kita putus!"


Kalimat itu menghantam Riyan bak petir di siang bolong. Dadanya sesak, lebih sakit daripada benturan aspal tadi. "Apa yang kamu katakan, Say?" tanyanya, seolah telinganya salah menangkap frekuensi.


"Telingamu budek? Kita. Pu. Tus!" Lia menekankan setiap kata. "Aku sudah bilang, telat satu menit pun artinya hubungan ini berakhir."


"Tapi kenapa harus putus karena masalah sepele ini? Aku nggak mengerti,  Kalau cuma karena Lastri, nggak mungkin kamu sedrastis ini. Apa... ada pria lain?" selidik Riyan, suaranya bergetar.


Lia membuang muka, menatap ke arah jalanan dengan sinis. "Pikir saja sendiri. Kamu yang selingkuh dengan Lastri, kok malah menuduhku yang punya simpanan? Sudahlah, aku muak!"


"Sayang... kalau saja tadi aku tidak kecelakaan, aku pasti sampai tepat waktu," rintih Riyan sambil menekan pinggangnya yang kian berdenyut nyeri. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Halah, itu cuma alasan klasikmu saja!" sahut Lia cuek.


Ia membuang muka, sibuk memoles ego di balik bayang-bayang Hasan—mahasiswa paling populer di kampusnya. Hubungan gelap yang baru berjalan seminggu itu terasa jauh lebih mendebarkan dibanding kesetiaan Riyan yang membosankan. Bagi Lia, selingkuh itu indah, dan Riyan hanyalah beban lama yang harus segera ia buang.


"Alasan? Sejak kapan aku pernah membohongimu?" suara Riyan bergetar, menahan perih di raga dan hatinya.

"Aku nggak mau tahu! Jangan bawa-bawa kecelakaan atau apalah. Intinya kamu telat, dan kita putus. Titik!" tegas Lia tanpa sedikit pun menoleh ke arah luka-luka di tubuh Riyan.


"Lia... kamu berubah. Mana Lia yang dulu? Yang penuh kasih, yang lembut..."

"Sudahlah, Yan! Nggak usah drama. Jangan pengaruhi aku dengan rengekan anak kecilmu itu. Aku sudah putuskan, terima saja!" bentak Lia telak. (Bersambung.....)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)