Penulis : Wai Nasution
"Saya harus
pergi, Bu. Ada janji yang menyangkut masa depan saya," sahut Riyan dengan
nada getir. Detak jantungnya berpacu lebih cepat dari denyut lukanya. Waktu
pemberian Lia hampir habis—atau mungkin sudah habis.
Dengan sisa kekuatan
yang ada, Riyan bangkit, tertatih dibantu ibu itu menuju motornya yang
tergeletak malang di aspal. Kondisinya cukup mengenaskan; velg ban depan oleng
dan lampu utama hancur menyisakan pecahan kaca. Riyan mencoba memutar kunci
kontak. Satu kali, dua kali... brem!
"Alhamdulillah..."
bisiknya lega. "Aku harus sampai, bagaimanapun caranya."
Tanpa memedulikan rasa
nyeri yang menusuk pinggang, Riyan kembali memacu motornya yang kini bergetar
tidak stabil. Ia meninggalkan ibu itu yang terpaku bingung di pinggir jalan.
Padahal, ibu itu berniat membawanya ke rumah sakit, namun ditolak
mentah-mentah.
"Maaf, Bu, saya
harus pergi. Jika tidak, orang yang saya cintai akan hilang. Mohon
doanya," seru Riyan lirih sebelum melesat pergi.
Setelah perjuangan
yang nyaris merenggut nyawanya, Riyan akhirnya sampai di depan cafe. Ia
terlambat lima belas menit. Dengan langkah pincang dan baju yang kotor terkena
rumput dan tanah, ia menghampiri meja Lia.
"Maaf, Sayang...
aku terlambat tadi. Aku—"
"Nggak usah
banyak alasan!" potong Lia tajam. Suaranya dingin, tanpa ada sedikit pun
empati melihat kondisi Riyan yang berantakan. "Kalau telat, ya telat saja.
Jangan banyak bacot."
Riyan terpaku.
"Astaghfirullah... Lia, dengar dulu penjelasanku. Aku kecelakaan
tadi—"
"Apa perlu aku
dengar dongeng ngawurmu itu?" Lia memutar bola mata, wajahnya semakin
ketus.
Riyan hanya bisa beristighfar
dalam hati. Sosok di depannya ini terasa asing. Hanya karena api cemburu pada
teman sekantor, watak Lia berubah 180 derajat. Apa mungkin ini alasan
sebenarnya? batin Riyan
ragu.
"Kita
putus!"
Kalimat itu menghantam
Riyan bak petir di siang bolong. Dadanya sesak, lebih sakit daripada benturan
aspal tadi. "Apa yang kamu katakan, Say?" tanyanya, seolah telinganya
salah menangkap frekuensi.
"Telingamu budek?
Kita. Pu. Tus!" Lia menekankan setiap kata. "Aku sudah bilang, telat
satu menit pun artinya hubungan ini berakhir."
"Tapi kenapa
harus putus karena masalah sepele ini? Aku nggak mengerti, Kalau cuma karena Lastri, nggak mungkin kamu
sedrastis ini. Apa... ada pria lain?" selidik Riyan, suaranya bergetar.
Lia membuang muka,
menatap ke arah jalanan dengan sinis. "Pikir saja sendiri. Kamu yang
selingkuh dengan Lastri, kok malah menuduhku yang punya simpanan? Sudahlah, aku
muak!"
"Sayang... kalau
saja tadi aku tidak kecelakaan, aku pasti sampai tepat waktu," rintih Riyan
sambil menekan pinggangnya yang kian berdenyut nyeri. Keringat dingin mulai
membasahi pelipisnya.
"Halah, itu cuma
alasan klasikmu saja!" sahut Lia cuek.
Ia membuang muka,
sibuk memoles ego di balik bayang-bayang Hasan—mahasiswa paling populer di
kampusnya. Hubungan gelap yang baru berjalan seminggu itu terasa jauh lebih
mendebarkan dibanding kesetiaan Riyan yang membosankan. Bagi Lia, selingkuh itu
indah, dan Riyan hanyalah beban lama yang harus segera ia buang.
"Alasan? Sejak
kapan aku pernah membohongimu?" suara Riyan bergetar, menahan perih di
raga dan hatinya.
"Aku nggak mau
tahu! Jangan bawa-bawa kecelakaan atau apalah. Intinya kamu telat, dan kita
putus. Titik!" tegas Lia tanpa sedikit pun menoleh ke arah luka-luka di
tubuh Riyan.
"Lia... kamu
berubah. Mana Lia yang dulu? Yang penuh kasih, yang lembut..."
"Sudahlah, Yan!
Nggak usah drama. Jangan pengaruhi aku dengan rengekan anak kecilmu itu. Aku
sudah putuskan, terima saja!" bentak Lia telak. (Bersambung.....)


Posting Komentar
0Komentar