Menjaga Tradisi, Menghidupkan Kembali Jati diri Daerah ditengah Arus Zaman (Selesai).

Media Barak Time.com
By -
0

 



Oleh : Ades Iskandar Nasution


Kesultanan Kotapinang Penjaga Marwah yang Relevan

 

Dalam upaya pemajuan budaya, kita tidak bisa melupakan peran strategis para Sultan yang pernah berkuasa di Bumi Santun Berkata Bijak Berkarya ini. Sebab mereka merupakan pionir dalam memulai peradaban di Kotapinang dan wilayah kekuasannya. Mereka adalah lembaga pendidikan karakter yang menyebarkan nilai-nilai kearifan lokal. Mereka pemegang kemudi tradisi awal secara berkesinambungan dan tentunya dari merekalah kehidupan sosial kemasyarakatan terwujud. 


Sebagai generasi saat ini harus mampu melestarikan kebudayaan yang telah diperjuangkan oleh para leluhur kita, bukan malah mengabaikannya begitu saja. Kita bisa berkaca pada jepang, walau di zaman modern dan canggih bisa menyelaraskan diri dengan tradisi yang tetap terjaga sakral.


Kesultanan kotapinang sebagai barometer dalam penyelarasan kearifan lokal harus dapat dibangkitkan kembali, tentunya dengan keseriusan dan motivasi yang tinggi. Disamping pemangku adat, pemerintah setempat juga harus ikut andil dalam pelestarian budaya lokal yang secara turun temurun telah ada. Banyak hal-hal yang dulunya telah menjadi kebiasaan di masyarakat, kini tergerus oleh waktu dan arus zaman. Simbol-simbol ikonik yang mewakili daerah Kotapinang mislanya, dulu tugu pinang terpampang dan manjadi tontonan dan tempat selfi masyarakat saat sore hari di pendopo (sekarang lokasi itu bernama SBBK), kini symbol itu sudah tidak ada lagi.


Kemudian Kotapinang di kenal dengan pohon pinang, sesuai dengan cerita secara turun temurun, bahwa pohon pinang itu dijadikan sebagai pagar atau benteng menuju istana. Saat ini pohon pinang sudah jarang kita lihat. Apakah simbol itu akan hilang selamanya, ataukah pemerintah tidak punya hasrat untuk  membudayakan ikon itu ?

 

Kemudian Penulis mengambil satu contoh lain, Saat pejabat kehormatan dari luar daerah berkunjung ke Labuhanbatu Selatan, masih tetap disuguhi dengan hiburan “live musk” dan makanan yang biasa-biasa saja. Kenapa tidak kita budayakan, saat tamu kehormatan datang ke bumi Labusel ini kita suguhkan dengan lantunan music “Bordah” dan makanan khas kue “Rasidah” dan anyang ayam khas Kotapinang.


Sudah saatnya kita harus bangga dengan kearifan lokal kita sendiri dan membudayakannya dalam kehidupan sehari-hari di tatanan masyarakat.

 

"Selain itu, pemerintah perlu menginisiasi pembudayaan busana daerah—khususnya budaya Melayu—sebagai wujud nyata kepedulian terhadap warisan leluhur dan para Sultan. Langkah ini adalah upaya menjaga marwah kita sebagai masyarakat yang santun sekaligus produktif. Jika diselaraskan dengan moto 'Santun Berkata, Bijak Berkarya', penggunaan busana daerah akan semakin memperkuat identitas daerah. Moto tersebut sejatinya adalah harmoni antara nilai luhur (ramah dan toleran) dengan karakter modern (kerja keras dan inovatif). Slogan kita sudah sangat progresif, kini saatnya kita mewujudkannya dalam keseharian."

 

Kesimpulan

Kebudayaan adalah wajah kita sekaligus perisai moral yang melindungi daerah ini dari pengaruh negatif globalisasi. Masa depan Labuhanbatu Selatan bukan hanya soal angka pertumbuhan ekonomi, melainkan sejauh mana kita berkomitmen merawat akar jati diri agar terus bertumbuh dan berbuah bagi kemajuan Labuhanbatu Selatan di masa mendatang. Tumbuh Kembangkan kearifan lokal khususnya di kalangan generasi muda, agar mereka mencintai akar budaya asli Kotapinang ini. Siapapun yang bernaung di Labuhanbatu Selatan harus bernaung secara Kaffah dan mau membantu daerah untuk lebih pesat perkembangannya. Untuk apa Labuhanbatu Selatan di kelilingi perkebunan sawit dan PKS, jika tidak bermanfaat bagi masyarakatnya.


Kearifan dan kebijaksaan pemegang kepentingan sangat di butuhkan dalam merawat daerah ini agar tampak berseri. Menjaga tradisi dengan menghidupkan kembali jati diri kita sebagai masyarakat yang beradab adalah yang harus dilakukan di tengah kondisi arus zaman yang mengerikan ini.


Kembali lagi, semua itu tergantung kebijakan pemegang kepentingan dan kemauan masyarakat untuk berubah dan menjaga nilai-nilai budaya kita, agar Labuhanbatu Selatan berkultur melayu ini dapat menjadi daerah yang dihargai dan dihormati.

 

 

 

 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)