Oleh : WAI Nasution
“Nduuttttt...banguuuuuuuunnnnn,” teriak emaknya
dengan suara super keras sambil
menggedor pintu kamar anaknya yang bontot itu.
“Nduuttttt......udah jam 6.00, kau nggak sekolah, katanya
hari ini ujian!!,”kembali emaknya berteriak dari luar kamar Yuni yang sapaan
akrabnya dirumah si ndut. Karena waktu kecil postur tubuh Yuni memang buntal
dan lucu, siapa yang melihatnya pasti gemas.
Ntah siapa yang
memulai panggilan itu akhirnya menjadi kebiasaan dirumahnya bahkan teman-teman
satu kampung memanggilnya dengan sebutan si Ndut. Tapi Yuni tidak ambil pusing
dengan panggilan itu, karena setelah menginjak remaja tubuhnya tumbuh ideal
seperti gadis lainnya. Dengan rambut ikal sebahu, kulit putih dan wajah bulat
oval yang dihiasi dua lesung pipit di pipinya membuat dirinya sangat cantik dan
menarik. Siapapun akan klepek-klepek melihatnya yang aduhai.
“Cepatlah nak....udah siang nih,” kata emaknya lagi tidak
putus asa.
“ehmm......emm....., iya mak, sebentar..”
Terdengar suara Yuni parau dari dalam kamar yang mungil
berukuran 3 x 3 meter itu, sambil mengucek matanya diapun bangkit dari tempat
tidur. Namun rasa kantuk menghalangi langkahnya untuk segera bergegas ke kamar
mandi. Malah dengan nyantainya dia kembali ke peraduan.
“Nduut... cepatlah nak, bangun........hari hampir siang,
nanti kau terlambat mengikuti ujian hari ini, jangan kayak lagu mbah surip lah
nak. bangun tidur, tidur lagi....” kata
emaknya yang kembali mengingatkan anaknya sambil menyanyi lagu yang di
populerkan alm. Mbah Surip.
Mendengar kata Ujian dan suara fals emaknya, Dia pun
bergegas bangkit langsung memakai sepatu dan mengambil tas yang tergantung di
sudut kamarnya lalu keluar.
“assalamu’alaikum....!!.” katanya sambil berlalu
dihadapan emaknya menuju meja makan.
“Apa-apaan ini ndut,....belum mandi, masih pakai pakian
tidur kok sudah pakai sepatu dan membawa tas,” kata Emaknya heran bukan
kepalang melihat tingkah laku
anaknya sambil tersenyum.
“o alah ndut...ndut...kalau ngigau bilang-bilang lah,
kalau nggak emak tegur mungkin kau berangkat sekolah seperti ini,” ujar
emaknya.
“astagfirullah, mak,” ujar Yuni sambil menepuk jidatnya
“Kok bisa gini ya mak...., perasaan tadi sudah mandi,”
kata Yuni saat menyadari kekeliruannya itu dan berusaha menutupi rasa malu di
hadapan emaknya.
“Makanya kalau tidur baca do’a dulu, jangan langsung
mendengkur gitu, ya...sudah cepat sana mandi, nanti keburu siang, bisa
terlambat kau mengikuti ujian,” perintah emaknya.
“Siap emakku sayang.?” Ujar Yuni sambil berlalu dari
hadapan emaknya.
Berselang beberapa menit, akhirnya Yuni sudah siap dengan
seragam putih abu-abunya dan langsung menyantap hidangan yang telah tersedia di
meja makan.
“Ndak usah buru-buru gitu makannya nak, santai sajalah,”
kata emaknya mengingatkan.
“Hmmm....” gumamnya
Setelah selesai Yuni langsung pamit untuk berangkat
kesekolah yang jaraknya sekitar dua ratus meter sebelah utara rumahnya.
“udah ya mak, ndut berangkat dulu, do’akan agar ndut bisa
menjawab semua soal yang diujikan nanti,” kata yuni sambil menyalam dan mencium
kedua pipi emaknya. (Bersambung......)

.jpg)
Posting Komentar
0Komentar