RINDY JANGAN PERGI

Media Barak Time.com
By -
0

 



Oleh : WAI Nasution

 

Cuaca mendung yang mengitari wajah Kotapinang pagi itu membuat Rindy enggan beranjak dari peraduannya. Ditariknya kembali selimut yang berada di sampingnya untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan  dan meringkik kembali di balik selimut tebal.

Rindy kembali pulas tertidur menyambung mimpi-mimpi indah yang terurai di benaknya.

“Krinnnnggggg.......kringggg...”

Bunyi jam beker yang berada tepat disampingnya berbunyi  begitu nyaring membuat Rindy terbangun lagi.


“Sial....lagi  enak tidur ada saja yang mengganggu...” bathinnya sambil mematikan jam beker tua peninggalan ibunya.

“Huh!...” helaan nafas panjang menunjukkan ketidak senangannya dengan bunyi jam tadi. Setelah mematikan jam beker diapun kembali terlelap di tempat tidurnya. Terdengar dengkuran merdu bersahutan seakan mewarnai pagi yang mendung saat itu.


Baru beberapa saat merebahkan badannya. Terdengar jeritan memanggil namanya dan mengedor-gedor pintu kamarnya.

“dor..dor....dor...”

“Rin......., Rin......., sudah jam segini masih saja molor.” Teriak suara dari luar.

“Rin....cepat bangun, masih banyak yang harus di kerjakan” kembali terdengar suara dari luar kamarnya.


“Iya...iya...mbak, cerewet amat sih” jawabnya dan berusaha bangkit.

“Hadehhhh.....kok malas kali hari ini ya,”bathinnya.

Rindy masih malas untuk keluar kamar, dia hanya termenung di sisi tempat tidur. Tiba-tiba  dia terkejut melihat jamnya sudah menunjukkan jam 10 siang.


“Aduh....., ku pikir masih jam 6, eh sudah jam 10 rupanya, gawat! Padahal aku ada janji ketemu dengan Rangga di taman kota jam 8 tadi”

Rindy seperti orang bingung, kesana-kemari tidak tahu apa yang dikerjakannya. Mondar-mandir seperti gosokan di dalam kamarnya.


“Aduh....., Handphone ku mana ya” bathinnya terus mencari HP miliknya.

“Semalam sehabis menerima telepon dari rangga, ku letakkan di....” otaknya berpikir keras.

“Sial masih muda gini kenapa aku jadi pikun”


Rindy membongkar isi lemarinya, tas, rak buku, tong sampah, laci meja. Wah pokoknya semua sudah di bongkar. Kamarnya saja sudah seperti kapal pecah. Tapi HP nya tidak juga ketemu.

“Rin....ada apa” tanya kakaknya

“Gak ada apa-apa mbak, hanya lagi beres-beres.” Jawab Rindi


“Aneh...sudah ku cari dimana-mana kok gak ada. Apa ada tuyul yang ngambil HP ya. Kalau gitu wah gawat, tuyul spesialis hp dong” bathinnya.

Hampir setengah jam dia berhasil memporak-porandakan isi kamarnya, tiba-tiba perutnya mules.

“Aduh...nantilah kalian kurapikan ya, aku harus laporan dulu hehehhe” ujarnya dalam hati sambil berlari ke kamar mandi yang kebetulan berada di kamarnya sendiri.


Namun pikirannya masih terbayang dengan HP nya yang tak kunjung ketemu. Dia tertegun dan berpikir keras, kadang-kadang merutuk dirinya yang bak orang tua pikun. Tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah benda yang berada di atas bak,” oalahhh....pikuuunn...pikun, dasar Rindy pikun.” (Bersambung)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)