Muara Penantian Sang Detektif (Selesai).

Media Barak Time.com
By -
0



 Oleh : Wai Nasution


Rudi menarik napas panjang, seolah membuang beban yang selama ini menyesakkan dadanya. "Yan, jujur saja... sejak sekolah dulu aku sudah menyukaimu. Sampai sekarang. Tapi dulu aku terlalu pengecut untuk bicara. Bagiku, menjahilimu adalah satu-satunya cara agar aku bisa berinteraksi denganmu."


Yanti tersenyum tipis. "Aku tahu, Rud. Dijahili atau tidak, perasaanku padamu tak pernah berubah. Bagiku, kaulah satu-satunya orang yang mau berteman dengan si cungkring yang lugu dan norak ini. Meski caramu aneh, aku selalu merasa itu adalah bentuk perhatianmu padaku."


Keduanya terdiam. Alunan musik di kafe itu seolah menjadi latar bagi memori yang kembali mengembara. Tanpa sadar, entah siapa yang memulai, tangan mereka perlahan bertaut di atas meja kayu itu.

"Yan... aku sangat mencintaimu. Selama ini aku terus mencari kabarmu tapi selalu menemui jalan buntu. Alhamdulillah, Allah mempertemukan kita di sini," bisik Rudi tulus.


"Oh, Rud... ternyata selama ini kita terjebak di ruang tunggu yang sama."

"Iya, Yan. Kaulah satu-satunya alasanku bertahan untuk tetap sendiri dan menantimu. Tapi... aku tidak tahu, apakah kau juga masih sendiri sepertiku?" tanya Rudi ragu.


Yanti menatapnya lekat, lalu menggeleng pelan. "Siapa bilang aku masih sendiri?"

Spontan, Rudi menarik tangannya. Genggaman yang hangat itu terlepas seketika. Yanti terkejut. "Kenapa, Rud?"


"Berarti... kau sudah punya kekasih?" suara Rudi mendadak serak.

"Iya, Rud..."

"Lalu untuk apa semua ini? Kenapa kau memberiku harapan palsu, Yan?" nada suara Rudi meninggi, ada luka yang menyelinap di sana.


"Siapa yang memberimu harapan palsu?" Yanti tetap tenang.

"Ini apa namanya?! Setelah mengajakku menyelami cerita asmara kita, ternyata semuanya cuma kamuflase!" Rudi berdiri, kursi di belakangnya berderit keras. Ia tak terima dipermainkan seperti ini.


"Apa aku harus berbohong padamu bahwa aku sudah punya kekasih?" tanya Yanti santai, seolah tak peduli dengan kegalauan pria di depannya.

"Sudahlah, Yan. Tidak ada gunanya aku di sini kalau cuma untuk menambah luka." Rudi berbalik, melangkah pergi dengan hati yang remuk.


Namun, baru beberapa langkah, sepasang lengan tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya dari belakang. Yanti memeluknya kuat-kuat.

"Yan, lepas! Aku tidak mau dicap sebagai perebut kekasih orang!" Rudi berusaha melepaskan kaitan tangan itu, namun Yanti justru semakin menenggelamkan wajahnya di punggung tegap sang polisi.

 

"Rud... dengarkan aku," bisik Yanti, suaranya bergetar di balik punggung tegap itu. "Aku memang sudah punya kekasih. Dan kekasih itu adalah kau. Orang yang selama ini menetap dalam pikiranku, yang membuatku bertahan dalam penantian panjang hingga Allah mengizinkan kita bertemu di sini. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Rud. Aku mencintaimu..."


Isak tangis Yanti pecah. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini meluap, membasahi kain jaket kulit Rudi.

Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan rapuh itu, kemarahan Rudi luruh seketika. Ia membalikkan badan, menatap wajah yang kini basah oleh air mata bahagia. Tanpa kata, Rudi merengkuh tubuh Yanti ke dalam dekapan hangatnya, seolah sedang melindungi harta paling berharga yang baru saja ia temukan kembali. Ia menghapus air mata di pipi Yanti dengan ibu jarinya, penuh perasaan.


"Ehem... Hmm!"

Sebuah deheman keras membelah suasana puitis itu. Rudi tersentak dan terpaksa melepaskan pelukannya dengan canggung. Ia menoleh dan mendapati Indra berdiri tak jauh dari sana dengan senyum tak berdosa.


Sompret kau, Indra! Baru sebentar aku bisa memeluknya, sudah kau rusak dengan deheman tak bergunamu itu, gerutu Rudi dalam hati, meski sudut bibirnya tak bisa menyembunyikan senyuman.


Akhirnya, teka-teki tentang kesendirian sang detektif terjawab sudah. Penantian panjang di balik lencana dan tugas kenegaraan itu bukanlah tanpa alasan. Cinta yang dulu sempat tertunda, kini menemukan ritmenya kembali. Di sudut kafe yang tenang itu, sang detektif menyadari bahwa misi tersulitnya telah tuntas: menemukan jalan pulang menuju hati yang selama ini ia cari.

 

("Seluruh rangkaian kisah ini hanyalah buah imajinasi penulis. Nama dan peristiwa di dalamnya diciptakan untuk kepentingan narasi, tanpa bermaksud menyinggung pihak mana pun.")

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)