Menjaga Tradisi, Menghidupkan Kembali Jati diri Daerah di tengah Arus Zaman (II)

Media Barak Time.com
By -
1




 Oleh : Ades Iskandar Nasution


Masyarakat Melayu dahulu sangat mengedepankan Adab. Hal ini terlihat dalam bentuk sastra lisan atau pantun dan adab sopan santun.Karena  puak melayu dalam menyampaikan sesuatu hal tidak akan pernah langsung to the point, akan tetapi senantiasa menggunakan kiasan atau pantun.Ini dimaksudkan untuk menjaga perasaan orang lain agar tidak tersinggung. Disamping itu Adab dalam bergaul jelas mengedepankan sopan santun,  Yang tua dihormati dan yang muda disayangi, semua tradisi itu diatur ketat dalam lingkar adat istiadat.

 

Bumi Santun Berkata Bijak Berkarya adalah slogan atau motto Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat kita pahami sebagai rangkaian kata penuh makna. Slogan atau filosofi "Bumi Santun Berkata, Bijak Berkarya" merupakan kristalisasi dari nilai-nilai luhur (adab) masyarakat Melayu.

Hal ini dapat dipahami bahwa bumi Labuhanbatu Selatan adalah wilayah yang berkedudukan tinggi seperti bumi, meskipun dipijak akan tetap rendah hati dan memberi manfaat bagi sesama. Ini cerminan dari masyarakat melayu yang terbuka, ramah tamah terhadap tamu dan menghargai adat istiadat.

Disamping itu, berkata bijak menjadi landasaran masyarakat Labuhanbatu Selatan dalam menjaga lisan. Artinya, dalam berbicara, masyarakatnya tahu memposisikan diri, tidak menyakiti orang lain, menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak, bak kata pepatah orang melayu,” Tanda orang berakal budi, bahasanya halus maknanya tinggi."

 

Kemudian masyarakat  Labuhanbatu Selatan juga harus tetap termotivasi untuk memberikan karyanya kepada daerah.  Secara Individu harus  produktif. Sebab berkarya bermakna kerja keras bukan kerja santai. Sehingga dengan kerja keras akan bermuara kepada kemaslahatan keluarga dan daerah yang tercinta ini. Kalau malas berkarya, maka ini akan menjadi beban sosial yang pada akhirnya dapat menjatuhkan marwah diri dan daerah.

 

 

Paradoks Kekayaan Budaya dan Krisis Karakter

Labuhanbatu Selatan sebagai suatu daerah yang kaya akan hasil perkebunan, seharsnya sudah sepantasnya dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakatnya kearah yang lebih baik. Bukan hanya sebatas slogan yang sifatnya sementara, seperti dalam pertarungan politik kepentingan dan atau pencitraan semu belaka.

Seharusnya Labuhanbatu Selatan dapat dijadikan "tambang emas" kearifan lokal. Gotong-royong, santun, dan toleransi bukan sekadar kata sifat, melainkan ruh yang kemudian mengkristal menjadi Pancasila. Namun, kita sedang menghadapi paradoks. Di saat Kabupaten Labuhanbatu Selatan secara data sangat dikagumi, bayangkan puluhan perkebunan sawit dan Pabrik Kelapa Sawit ada di daerah iin. Membuat Labuhanbatu Selatan seakan menjadi primadona, namun di lain sisi  generasi muda kita justru perlahan asing di tanah sendiri.

 

Ruang dan waktu yang terkikis oleh teknologi seringkali memicu "krisis karakter". Tanpa fondasi etik yang kuat dari budaya lokal, masyarakat—terutama generasi muda—rentan kehilangan pegangan. Dampaknya nyata: mulai dari lunturnya integritas, hingga Kegelisahan akan jati diri.

 

Generasi muda saat ini tidak kren kalau mengenal akar budayanya dibanding dengan budaya asing  yang justeru menghilangkan norma-norma adat dan agama. Generasi muda mungkin sangat "terjaga" (melek) terhadap budaya populer di media sosial selama 24 jam, tetapi mereka "tertidur" atau tidak tahu apa-apa tentang sejarah daerahnya. Mereka tahu tren terbaru di luar negeri, tapi buta akan filosofi pantun atau makna di balik selembar kain tenun daerahnya.

Krisis karakter semakin jelas terlihat manakala adat istiadat hanya untuk membuat sebuah konten di media sosial, gelar adat di kejar demi prestise, bukan karena tanggung jawab moral. Hal inilah yang terjadi saat ini,  dimana budaya hanya sebuah pajangan, tapi kita kehilangan esensi atau jiwa budaya itu sendiri. Budaya seharusnya menjadi ruang aman untuk kembali, namun insomnia budaya membuat ruang itu terasa asing dan kaku. (Bersambung.....).

Posting Komentar

1Komentar

  1. Sukses untuk menggugah saudar saudara yg sedang pulas tidur dan terlena dengan Budaya Asing.
    Ini saatnya Bangkitkan Budaya Melayu di Bumi Santun Berkata Bijak Berkarya...!

    BalasHapus
Posting Komentar