Penulis : Wai Nasution
Setelah pesanan
datang, obrolan mereka mengalir kembali ke masa-masa seragam putih-biru yang
penuh kekonyolan. Tawa renyah sesekali meledak, terutama dari Rudi yang
perlahan mulai berhasil mengendalikan kegugupannya di depan sang dokter.
"Jadi, sekarang
kau benar-benar bertugas di sini, Rud?" tanya Yanti sambil mengaduk
minumannya.
"Begitulah, Yan.
Kau sendiri?"
"Kebetulan aku
dokter, dan baru saja ditempatkan di kota ini," jelas Yanti dengan nada
rendah hati.
"Wah, ternyata Bu
Dokter, toh? Luar biasa," puji Rudi dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan.
"Biasa saja,
tidak usah monyong-monyong begitu mulutnya!" Yanti tertawa, membuat
suasana makin cair.
Rudi terdiam sejenak,
menatap Yanti dengan tatapan yang lebih serius. "Yan... aku minta maaf,
ya. Soal kejahilanku yang keterlaluan dulu."
Yanti meletakkan
sedotannya, tatapannya mendalam. "Justru karena itulah aku harus
menemuimu, Rud."
"Loh, kenapa
begitu?" Rudi mengerutkan kening.
"Aku dapat kabar
dari Tono kalau kau tugas di sini. Secara kebetulan aku juga dipindah ke kota
yang sama. Jadi, aku rasa ini waktu yang tepat untuk menuntut balas," ujar
Yanti, suaranya naik satu oktav, memberi kesan dingin yang dibuat-buat.
"Maksudmu?"
"Ya, menuntut
balas atas semua perbuatanmu padaku dulu."
Rudi mulai gelisah.
"Kan aku sudah minta maaf, Yan..."
"Maaf saja tidak
cukup. Enak sekali kalau cuma dimaafkan begitu saja. Kau tidak tahu bagaimana
tersiksanya aku saat itu, bahkan sampai sekarang," cecar Yanti.
Wajah Rudi mulai
menegang. Kebingungan menyergapnya. "Aku semakin tidak mengerti, Yan. Apa
sebenarnya yang ingin kau tuntut dariku?"
"Ternyata kau
memang kurang peka. Ya sudah kalau begitu, Rud," sahut Yanti, berpaling
seolah-olah kecewa.
"Tolong, Yan...
jangan buat aku bingung seperti ini. Katakan saja apa maumu," desak Rudi
cemas.
"Pikirkan saja
sendiri apa yang sudah kau lakukan padaku."
"Iya, aku paham
soal itu. Jujur saja, bayang-bayang kejahilanku padamu dulu masih sering
menari-nari di pikiranku. Bahkan yang lebih parah... wajahmu tidak pernah
benar-benar hilang dari ingatanku. Aku terus memikirkanmu," ucap Rudi
tanpa sadar.
Seketika ia
tersentak. Waduh, gawat! Kenapa aku malah keceplosan? batin
Rudi merutuki mulutnya sendiri.
Yanti tersenyum penuh
kemenangan, sebuah kilatan jenaka muncul di matanya. "Nah, itu dia... kau
sendiri yang bilang. Ternyata selama ini kau merasa sepi tanpaku, dan itu
alasan kenapa kau masih tetap menjomblo, kan?"
Rudi mencoba memasang
pertahanan terakhirnya. "Kata siapa aku menjomblo?"
"Indra yang bilang,"
sahut Yanti enteng.
Hening seketika
menyergap meja itu. Awas kau, Indra. Habis kau di tanganku nanti, kutuk
Rudi dalam hati.
"Sekarang
pikirkan baik-baik, Rud. Apa kita mau terus begini? Saling menyimpan rasa
sampai mati?" suara Yanti melunak, menatap Rudi dalam-dalam. (Bersambung)


Posting Komentar
0Komentar