Muara Penantian Sang Detektif (IV)

Media Barak Time.com
By -
0



 Penulis : Wai Nasution


Setelah pesanan datang, obrolan mereka mengalir kembali ke masa-masa seragam putih-biru yang penuh kekonyolan. Tawa renyah sesekali meledak, terutama dari Rudi yang perlahan mulai berhasil mengendalikan kegugupannya di depan sang dokter.


"Jadi, sekarang kau benar-benar bertugas di sini, Rud?" tanya Yanti sambil mengaduk minumannya.

"Begitulah, Yan. Kau sendiri?"

"Kebetulan aku dokter, dan baru saja ditempatkan di kota ini," jelas Yanti dengan nada rendah hati.


"Wah, ternyata Bu Dokter, toh? Luar biasa," puji Rudi dengan ekspresi yang dilebih-lebihkan.

"Biasa saja, tidak usah monyong-monyong begitu mulutnya!" Yanti tertawa, membuat suasana makin cair.


Rudi terdiam sejenak, menatap Yanti dengan tatapan yang lebih serius. "Yan... aku minta maaf, ya. Soal kejahilanku yang keterlaluan dulu."

Yanti meletakkan sedotannya, tatapannya mendalam. "Justru karena itulah aku harus menemuimu, Rud."

"Loh, kenapa begitu?" Rudi mengerutkan kening.


"Aku dapat kabar dari Tono kalau kau tugas di sini. Secara kebetulan aku juga dipindah ke kota yang sama. Jadi, aku rasa ini waktu yang tepat untuk menuntut balas," ujar Yanti, suaranya naik satu oktav, memberi kesan dingin yang dibuat-buat.

"Maksudmu?"

"Ya, menuntut balas atas semua perbuatanmu padaku dulu."

Rudi mulai gelisah. "Kan aku sudah minta maaf, Yan..."


"Maaf saja tidak cukup. Enak sekali kalau cuma dimaafkan begitu saja. Kau tidak tahu bagaimana tersiksanya aku saat itu, bahkan sampai sekarang," cecar Yanti.

Wajah Rudi mulai menegang. Kebingungan menyergapnya. "Aku semakin tidak mengerti, Yan. Apa sebenarnya yang ingin kau tuntut dariku?"


"Ternyata kau memang kurang peka. Ya sudah kalau begitu, Rud," sahut Yanti, berpaling seolah-olah kecewa.

"Tolong, Yan... jangan buat aku bingung seperti ini. Katakan saja apa maumu," desak Rudi cemas.

"Pikirkan saja sendiri apa yang sudah kau lakukan padaku."


"Iya, aku paham soal itu. Jujur saja, bayang-bayang kejahilanku padamu dulu masih sering menari-nari di pikiranku. Bahkan yang lebih parah... wajahmu tidak pernah benar-benar hilang dari ingatanku. Aku terus memikirkanmu," ucap Rudi tanpa sadar.


Seketika ia tersentak. Waduh, gawat! Kenapa aku malah keceplosan? batin Rudi merutuki mulutnya sendiri.

Yanti tersenyum penuh kemenangan, sebuah kilatan jenaka muncul di matanya. "Nah, itu dia... kau sendiri yang bilang. Ternyata selama ini kau merasa sepi tanpaku, dan itu alasan kenapa kau masih tetap menjomblo, kan?"


Rudi mencoba memasang pertahanan terakhirnya. "Kata siapa aku menjomblo?"

"Indra yang bilang," sahut Yanti enteng.

Hening seketika menyergap meja itu. Awas kau, Indra. Habis kau di tanganku nanti, kutuk Rudi dalam hati.


"Sekarang pikirkan baik-baik, Rud. Apa kita mau terus begini? Saling menyimpan rasa sampai mati?" suara Yanti melunak, menatap Rudi dalam-dalam. (Bersambung)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)