"Satu Tamparan Ibu"

Media Barak Time.com
By -
0

 



Karya : Wai Nasution

  

Langit sore itu seperti tumpahan tinta; mendung pekat yang menelan habis sisa-sisa sinar matahari. Udara dingin berdesir, menusuk hingga ke tulang, memaksa orang-orang untuk meringkuk di balik selimut dan melupakan hiruk-pikuk dunia. Namun, ketenangan itu koyak oleh raungan mesin motor Riyan yang membelah jalanan dengan kalap.


Ia memacu motornya seolah nyawa adalah taruhannya. "Sial, dingin sekali!" gerutunya di balik helm. Jika bukan karena ancaman Lia, ia pasti sudah meringkuk manis di rumah dengan segelas kopi hangat.

"Setengah jam dari sekarang. Kalau kamu nggak sampai, kita putus!"

Suara Lia di telepon tadi masih terngiang, tajam dan dingin.


"Ada apa sih, sayang? Kenapa tiba-tiba begini? Kamu bukan Lia yang aku kenal," bantah Riyan saat itu, mencoba mencari celah logika.

"Aku nggak peduli! Cepat ya harus cepat!" bentak Lia telak.

"Tapi soal Lastri itu sudah kujelaskan semalam! Kami cuma teman kantor, nggak lebih!"

"Terserah. Aku nggak mau dengar alasan lagi," balas Lia singkat sebelum memutus sambungan secara sepihak. Klik.


Kata-kata itu menghantam mental Riyan lebih keras dari terpaan angin sore ini. Jarak 10 kilometer menuju Cafe Cinta terasa seperti perjalanan lintas benua dengan waktu yang kian menipis.

"Gila! Dia pikir aku Valentino Rossi?" batinnya dongkol. Rasa kesal dan cemas berbaur menjadi satu, mengaburkan fokusnya dari aspal yang mulai basah. Pikirannya melayang pada kalimat-kalimat tajam Lia yang terus memojokkannya tanpa ampun.


Namun, lamunan itu hancur seketika saat lampu rem mobil di depannya menyala merah secara mendadak.

"Mati aku!"

BRAKK!

Hantaman keras tak terelakkan. Motor Riyan menghantam bumper mobil itu hingga ia terpental sejauh dua meter Dari motornya. Tubuhnya mendarat keras di atas rerumputan yang lembap.

"Aghhh!" Riyan melenguh hebat.


Ia mencoba bangkit, namun pinggangnya terasa seperti dihantam palu godam. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke saraf-saraf kakinya akibat hantaman tadi.

"Ya ampun, Nak! Kamu nggak apa-apa?" Sebuah suara lembut penuh kepanikan menyapa indranya. Seorang ibu paruh baya—pemilik mobil yang ia tabrak—bergegas keluar dan menghampirinya dengan wajah pucat pasi.


"Ah... tidak apa-apa, Bu," jawab Riyan singkat. Ia meringis, berusaha mengumpulkan serpihan tenaganya untuk berdiri.

"Jangan dipaksa dulu, Nak. Badanmu gemetar begitu," cegah si ibu, matanya menyiratkan kecemasan yang dalam.

(Bersambung........)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)