“Ayo. Rai!” ajak Raftah sambil menarik tangan
Rainy, “nanti kita terlambat. Pertandingannya udah dimulai tuh,” katanya lagi
sambil mempercepat langkah.
Dasar Raftah. Kalau urusan nonton pertandingan voli, sebenarnya Rainy tak perlu
ditarik-tarik. Rainy paling ingin segera sampai ke lapangan voli bahkan sebelum
pertandingan dimulai. Apalagi Rainy tahu ada seseorang yang akan ikut bermain.
Tapi busana muslim, seragam sekolahnya di sore hari, membuatnya tidak bebas
bergerak. Belum lagi kerudung yang selalu melorot ke depan.
Rainy mempercepat langkahnya. Sorak sorai orang-orang dari lapangan voli kian
membakar rasa penasaran Rainy. Kakinya sudah tidak lagi berjalan, tetapi
berlari. Tangannya mengangkat ujung rok sedemikian rupa hingga ia bisa
melangkah lebar. Tanpa sadar Raftah jauh tertinggal.
“Rainy....tunggulah!” seru Raftah sambil berusaha mengimbangi kegesitan Rainy.
“Awak yang nunggu dia, malah dia pula yang duluan,” gerutu Raftah.
Rainy cuek saja. Dia harus segera sampai ke tempat pertandingan itu. Di
lapangan, orang-orang sudah padat mengepung lapangan. Tak tersisa sedikit pun
ruang bagi Rainy untuk dapat melihat suasana pertandingan. Rainy berusaha
mengitari lapangan untuk mencari celah agar dapat menyelinap di antara
orang-orang yang berdesakan. Dengan memiringkan bahu dia berhasil menyelinap di
antara pinggul dua pria bertubuh kurus. Kedua orang itu melirik sejenak. Salah
seorang malah melotot pada Rainy. Dasar cuek, dia malah melengos saja. Rainy
sudah tidak peduli di mana Raftah berada. Sekarang dia tepat di sisi tempat
service bola. Dan dia sudah melihat seseorang yang membuatnya rela
berhimpit-himpit untuk melihat pertandingan voli itu.
Rainy mengenalnya tanpa sengaja. Bintang lapangan voli itu seorang siswa SMA
sore yang berdekatan dengan sekolah Rainy.
Saban sore Rainy bersekolah di sebuah mastab. Di situ dia sekelas dengan
Raftah. Kakak Raftah kebetulan berjualan di kantin SMA itu. Setiap waktu
istirahat, Raftah selalu mengajak Rainy ke kantin kakaknya. Dan di sanalah
pertama kali Rainy melihatnya.
“Silakan diambil kuenya, Dek.”
Rainy terkesima beberapa saat memandangi wajah cowok berambut lurus itu.
Belahan rambutnya tepat di tengah dengan gelombang di bagian depan serasi
dengan bentuk rahangnya yang tegas. Bibirnya yang manis tersenyum ramah. Rainy
tersipu.
“Nah, awak ramah pun adeknya diam aja,” ujar cowok itu lagi.
Rainy makin malu. Dia tak mengambil kue yang ditawarkan cowok itu, tapi dia
juga tak bisa lupa pada senyumnya.
Sudah berkali-kali bertandang ke kantin kakak Raftah, entah mengapa baru kali
ini Rainy bertemu dengan makhluk tampan itu.
“Ayo, Rai. Udah bel!” ajak Raftah mengagetkan Rainy yang tengah melambung ke awang-awang
menikmati getar suara cowok yang baru saja dilihatnya tadi.
Cowok itu sudah berlalu bersama teman-temannya. Mereka berkumpul di lapangan
sekolah untuk bermain voli. Rainy mencuri-curi pandang sampai bayangan cowok
itu tak terlihat lagi.
Suatu sore, di lapangan dekat masjid diadakan pertandingan voli antar
kecamatan. Rainy yang tak suka menonton pertandingan olahraga terpaksa ikut
karena semua temaan-teman pergi ke sana. Semula dia hanya berdiri saja agak
jauh dari kerumunan orang-orang, hingga tanpa sengaja sekelebat di melihat
makhluk tampan itu tengah menservis bola. Hup... bola melambung dengan
lengkungan indah. Dan Rainy merasa turut melambung bersama bola itu.
Tinggiiiiii....sekali. dan tanpa sadar dia sudah ikut berdesakan. Bahkan lebih
parah dari yang lain, Rainy memaksa masuk hingga persis berdiri di samping
garis servis.
“Cowok yang sekolah di SMA sebelah tadi ikut main ya?” tanya Rainy pada Raftah
seusai pertandingan.
“Ooo, Bang Yan. Dia memang bintang lapangan voli,.....”
Masih panjang lagi kata-kata Raftah bercerita tentang si bintang lapangan voli
itu. Tapi Rainy sudah tak mendengar apa-apa. Satu hal yang terus terngiang di
benaknya. Si Bintang lapangan voli itu bernama Yan.
Sejak itu Rainy selalu tergila-gila menonton pertandingan voli. Dia selalu
berharap bisa melihat si Yan itu bermain voli. Dan memang hampir di setiap
pertandingan Yan selalu ada. Belakangan Rainy tahu, kalau Yan seorang pemain
voli ‘semi profesional’ yang sering mewakili sebuah perusahaaan.
***
Sudah beberapa hari Rainy tak pernah mau diajak ke rumah kakak Raftah. Padahal
biasanya dia yang paling semangat. Bahkan jika Raftah sedang tidak ingin ke
rumah kakaknya, Rainy selalu berusaha membujuk agar Raftah mau ke sana.
Macam-macam saja alasannya. Yang kangen masakan kakak Raftah lah sampai kangen
sama kucing peliharaan kakak Raftah. Padahal kakak Raftah sama sekali tidak
memelihara kucing.
Tapi belakangan ini bujukan Raftah tak pernah berhasil membuatnya luluh.
Terpaksa Raftah cari teman lain untuk menemaninya ke rumah kakaknya itu.
Tak ada yang tahu kenapa Rainy jadi berubah. Beberapa kebiasaan yang jadi
kegemarannya pun ditingggalkan secara mendadak. Termasuk acara berdesak-desakan
menonton pertandingan voli di lapangan dekat mesjid.
Berawal pada suatu sore waktu Rainy dan Raftah sedang makan mie di kantin kakak
Raftah. Suara tawa menarik perhatian mereka berdua.
“Siapa sih tuh cewek?” tanya Rainy, “kecentilan banget,” katanya lagi sambil
menoleh ke arah suara itu.
“Oooo....pacarnya Bang Yan. Idolamu itu,” jawab Raftah santai. Mulutnya
meneruskan mengunyah mie. Raftah tak sadar kalau Rainy mendadak jadi enek
melihat mie di piringnya.
Sssstttt.... Memang Rainy tak pernah cerita. Dan ini hanya jadi rahasia hatinya
sendiri. Dia sedang patah hati. Dasar Raftah gak punya perasaan. Apa dia nggak
tau Rainy lagi kesengsem bintang bola voli itu. Huuuhhh....
Lagipula ngapain juga ngidolain cowok yang jauh lebih tua. Kamu kan masih SMP.
Rainy....Rainy.....ada-ada saja.
Diselesaikan di Kotapinang, 18 Mei 2013.


Posting Komentar
0Komentar