Kabut di Puncak Bukit (akhir)

Media Barak Time.com
By -
0

 


Oleh R’Ainy Yusuf

Epilog

Berempat kami berusaha menerobos kegelapan. Lampu senter sebagai penerang satu-satunya telah mulai redup sinarnya. Kini cahaya senter itu hanya mampu menembus sejauh semeter ke depan.

“Bagaimana ini?” tanyaku mulai menangis.

Aku benar-benar ketakutan. Kegelapan sekitar mulai mengendurkan jiwa petualangku yang tak pernah bisa diredam mama.

“Jangan menangis. kita harus berusaha mencari bantuan,” Kak Apri yang jadi ketua regu memberi semangat, “yang penting jangan sampai terpisah dari rombongan” katanya menegaskan.

Aku tetap terisak. Kedua teman yang lain menggenggam erat tanganku. Saat begini barulah aku teringat pada mama.

“Kamu itu anak perempuan, Lila. Kok hobbynya mendaki gunung. Ada-ada saja,” kata mama setiap kali aku akan berangkat bersama teman-teman MAPALA.

Entah sudah berapa lama kami berada di hutan ini. sebelum berangkat tadi, penjaga hutan telah memperingatkan bahwa akan turun hujan. Biasanya juga akan ada kabut tebal menyertai hujan di wilayah ini. tetapi jiwa petualang kami justru menginginkan tantangan.

“Kak, Lila mau pipis,” ujarku untuk kesekian kali.

Udara dingin pegunungan membuatku berkali-kali buang air kecil.

“Ya sudah. Jangan jauh-jauh. Di sini saja,” ujar Kak Apri.

Tapi aku berjalan menjauh dari mereka dan…

“AAARRGH….”

“Lila!” suara Kak Apri disusul cahaya senter kian mendekat.

Aku berusaha berpegangan d bibir tebing. Kedua kakiku tak lagi menemukan tempat berpijak.

“Lila, pegang tangan kakak,” ujar Kak Apri panik.

Aku sudah menggenggam tangannya. Tetapi……

“Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh.”

“Lilaaaaaaaaaaaaaaaa…….” Suara Kak Apri menggema berpantulan di jurang tebing.

***

KOTAPINANG, 7 DESEMBER 2012,09.45


Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)