WAI Nasution
Bergegas Yuni berlalu dari hadapan emaknya sambil
berlari-lari kecil disusurinya jalan yang sedikit licin karena hujan lebat waktu
subuh tadi. Genangan air masih terlihat di jalan yang berlobang.
“Pak maman, tunggu,!!! Teriak Yuni
Maman penjaga sekolah terkejut dengan suara Yuni bak
petir berasal dari jarak 20 meter di depannya. Panggilan Yuni tadi membuat dia tidak jadi menutup pintu
gerbang sekolah.
“Ooo...kau Yun.., kenapa terlambat, cepat masuk bell baru
saja berbunyi,” kata pak Maman mengingatkan Yuni sambil membuka sedikit gerbang
sekolah agar Yuni dapat masuk.
“terima kasih pak,” ujar Yuni dan langsung berlari
keruang kelas.
“Untung kau nggak terlambat, kalau sekian menit saja kau
terlambat bisa distrap bu Nunung yang dikenal sebagai guru killer alias galak
menyalak,” ujar Elsa teman sebangkunya.
“Alahhhh...., biasa saja non, tak usah takut sama guru
galak itu. Kalau memang sanksi yang kita terima itu adalah konsekuensi dari
kesalahan yang kita perbuat, aku rasa itu hal biasa, El” jawab Yuni sambil
menunggu kedatangan bu Nunung membawa lembar soal yang akan di ujikan.
“Eh..., Yun, tadi Andre kirim salam,” kata Elsa
“Simpan dulu salamnya El, saat ini kita harus konsentrasi
menghadapi ujian,’ jawab Yuni singkat
“Jadi....., kita harus lebih memikirkan soal masa depan
kita secara benar, kalau cowok itu sih gampil.pil....pil...pil.,” jawab Yuni
sekenanya.
“Alamak! Kata-katamu itu sungguh membuat jiwaku tersentuh
pengen pipis, hik...hik...hik...” tawa Elsa
“Kurang ajar...! ku pikir sanjungan yang kau berikan,
ternyata...oh...ternyata.....”
Saat asyik bergurau bu Nunung masuk dengan membawa berkas
yang mau di ujikan kepada siswa. Seketika ruangan menjadi sunyi dan sepi
seperti tak berpenghuni. Semua siswa di kelas XII-1 disibukkan dengan mengerjakan
lembaran soal-soal uajian. Tapi ada juga
siswa yang sibuk melihat kopekologi alias mencari jawaban pada tulisan yang
sebelumnya mereka sisipkan di tempat yang aman seperti di telapak tangan, meja,
kursi dan tempat-tempat lainnya seperti paha, bahwa sepatu, kaos kaki. Pokoknya
di tempat yang amanlah. Itupun kalau tidak ketahuan, kalau sang guru killer
tahu bisa berabe urusannya.
“Ehem.....ehemm.....”
Terdengar suara berdehem dari arah meja guru, siswa yang
sedang ujian saling berpandangan.
“Jangan coba-coba kalian bermain curang ya!” tegas
Nunung.
“Kalian kerjakan saja, jangan ada lihat kopekan, hei!..
kau.......!”bentak Nunung
Siswa tertuju pada Agus yang menjadi fokus perhatian bu
Nunung.
“Iiiiyaaa...buuuuu” ujar Agus gemetaran, karena ketahuan
melihat contekan di laci mejanya.
“Bawa kedepan contekan mu!” perintah Nunung.
“Alamak, sudah serapi mungkin kuselipkan di balik laci,
si killer tahu juga” bathin Agus sambil membawa beberapa lembar kertas yang
menjadi bahan kopekannya ke meja Bu Nunung.
“Sudah saya bilang, jangan curang!”
“Sekarang bawa lembar ujianmu kemari” kata Nunug
“Maaf bu...., untuk apa?” jawab Agus
“Untuk apa kau bilang, sudah jangan banyak tanya. Bawa
kemari” perintah Nunung.
Walaupun merasa heran, akhirnya Agus mengambil lembar
ujiannya.”Wah..gawat kalau lembar ujian diambil sama sin Killer, padahal masih
banyak yang belum siap.
“Sekarang kau duduk di bangku saya” kata Nunung
“Iya bu” jawabnya singkat.
(bersambung)

.jpg)
Posting Komentar
0Komentar