NDUT (II)

Media Barak Time.com
By -
0

 


WAI Nasution


Bergegas Yuni berlalu dari hadapan emaknya sambil berlari-lari kecil disusurinya jalan yang sedikit licin karena hujan lebat waktu subuh tadi. Genangan air masih terlihat di jalan yang berlobang. 

“Pak maman, tunggu,!!! Teriak Yuni


Maman penjaga sekolah terkejut dengan suara Yuni bak petir berasal dari jarak 20 meter di depannya. Panggilan Yuni tadi membuat dia tidak jadi menutup pintu gerbang sekolah.


“Ooo...kau Yun.., kenapa terlambat, cepat masuk bell baru saja berbunyi,” kata pak Maman mengingatkan Yuni sambil membuka sedikit gerbang sekolah agar Yuni dapat masuk.

“terima kasih pak,” ujar Yuni dan langsung berlari keruang kelas.


“Untung kau nggak terlambat, kalau sekian menit saja kau terlambat bisa distrap bu Nunung yang dikenal sebagai guru killer alias galak menyalak,” ujar Elsa teman sebangkunya.

“Alahhhh...., biasa saja non, tak usah takut sama guru galak itu. Kalau memang sanksi yang kita terima itu adalah konsekuensi dari kesalahan yang kita perbuat, aku rasa itu hal biasa, El” jawab Yuni sambil menunggu kedatangan bu Nunung membawa lembar soal yang akan di ujikan.


“Eh..., Yun, tadi Andre kirim salam,” kata Elsa

“Simpan dulu salamnya El, saat ini kita harus konsentrasi menghadapi ujian,’ jawab Yuni singkat


“Jadi....., kita harus lebih memikirkan soal masa depan kita secara benar, kalau cowok itu sih gampil.pil....pil...pil.,” jawab Yuni sekenanya.

“Alamak! Kata-katamu itu sungguh membuat jiwaku tersentuh pengen pipis, hik...hik...hik...” tawa Elsa


“Kurang ajar...! ku pikir sanjungan yang kau berikan, ternyata...oh...ternyata.....” 

Saat asyik bergurau bu Nunung masuk dengan membawa berkas yang mau di ujikan kepada siswa. Seketika ruangan menjadi sunyi dan sepi seperti tak berpenghuni. Semua siswa di kelas XII-1 disibukkan dengan mengerjakan  lembaran soal-soal uajian. Tapi ada juga siswa yang sibuk melihat kopekologi alias mencari jawaban pada tulisan yang sebelumnya mereka sisipkan di tempat yang aman seperti di telapak tangan, meja, kursi dan tempat-tempat lainnya seperti paha, bahwa sepatu, kaos kaki. Pokoknya di tempat yang amanlah. Itupun kalau tidak ketahuan, kalau sang guru killer tahu bisa berabe urusannya.


“Ehem.....ehemm.....”

Terdengar suara berdehem dari arah meja guru, siswa yang sedang ujian saling berpandangan.

“Jangan coba-coba kalian bermain curang ya!” tegas Nunung.

“Kalian kerjakan saja, jangan ada lihat kopekan, hei!.. kau.......!”bentak Nunung

Siswa tertuju pada Agus yang menjadi fokus perhatian bu Nunung.


“Iiiiyaaa...buuuuu” ujar Agus gemetaran, karena ketahuan melihat contekan di laci mejanya.

“Bawa kedepan contekan mu!” perintah Nunung.


“Alamak, sudah serapi mungkin kuselipkan di balik laci, si killer tahu juga” bathin Agus sambil membawa beberapa lembar kertas yang menjadi bahan kopekannya ke meja Bu Nunung.

“Sudah saya bilang, jangan curang!”

“Sekarang bawa lembar ujianmu kemari” kata Nunug

“Maaf bu...., untuk apa?” jawab Agus

“Untuk apa kau bilang, sudah jangan banyak tanya. Bawa kemari” perintah Nunung.


Walaupun merasa heran, akhirnya Agus mengambil lembar ujiannya.”Wah..gawat kalau lembar ujian diambil sama sin Killer, padahal masih banyak yang belum siap.

“Sekarang kau duduk di bangku saya” kata Nunung  

“Iya bu” jawabnya singkat.

(bersambung)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)