Oleh : Ades Iskandar Nasution
Masyarakat Melayu
dahulu sangat mengedepankan Adab.
Hal ini terlihat dalam bentuk sastra lisan atau pantun dan adab sopan santun.Karena puak melayu dalam menyampaikan sesuatu hal
tidak akan pernah langsung to the point, akan
tetapi senantiasa menggunakan kiasan atau pantun.Ini dimaksudkan untuk menjaga
perasaan orang lain agar tidak tersinggung. Disamping itu Adab dalam bergaul
jelas mengedepankan sopan santun, Yang
tua dihormati dan yang muda disayangi, semua tradisi itu diatur ketat dalam
lingkar adat istiadat.
Bumi Santun Berkata
Bijak Berkarya adalah slogan atau motto Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat
kita pahami sebagai rangkaian kata penuh makna. Slogan atau filosofi "Bumi Santun Berkata, Bijak
Berkarya" merupakan kristalisasi dari nilai-nilai
luhur (adab) masyarakat Melayu.
Hal ini dapat dipahami bahwa bumi Labuhanbatu
Selatan adalah wilayah yang berkedudukan tinggi seperti bumi, meskipun dipijak
akan tetap rendah hati dan memberi manfaat bagi sesama. Ini cerminan dari
masyarakat melayu yang terbuka, ramah tamah terhadap tamu dan menghargai adat
istiadat.
Disamping itu, berkata bijak menjadi
landasaran masyarakat Labuhanbatu Selatan dalam menjaga lisan. Artinya, dalam
berbicara, masyarakatnya tahu memposisikan diri, tidak menyakiti orang lain,
menyampaikan kebenaran dengan cara yang bijak, bak kata pepatah orang melayu,” Tanda
orang berakal budi, bahasanya halus maknanya tinggi."
Kemudian masyarakat Labuhanbatu
Selatan juga harus tetap termotivasi untuk memberikan karyanya kepada
daerah. Secara Individu harus produktif. Sebab berkarya bermakna kerja
keras bukan kerja santai. Sehingga dengan kerja keras akan bermuara kepada
kemaslahatan keluarga dan daerah yang tercinta ini. Kalau malas berkarya, maka
ini akan menjadi beban sosial yang pada akhirnya dapat menjatuhkan marwah diri
dan daerah.
Paradoks Kekayaan
Budaya dan Krisis Karakter
Labuhanbatu Selatan
sebagai suatu daerah yang kaya akan hasil perkebunan, seharsnya sudah
sepantasnya dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakatnya kearah yang
lebih baik. Bukan hanya sebatas slogan yang sifatnya sementara, seperti dalam
pertarungan politik kepentingan dan atau pencitraan semu belaka.
Seharusnya Labuhanbatu
Selatan dapat dijadikan "tambang emas" kearifan lokal. Gotong-royong,
santun, dan toleransi bukan sekadar kata sifat, melainkan ruh yang kemudian
mengkristal menjadi Pancasila. Namun, kita sedang menghadapi paradoks. Di saat
Kabupaten Labuhanbatu Selatan secara data sangat dikagumi, bayangkan puluhan
perkebunan sawit dan Pabrik Kelapa Sawit ada di daerah iin. Membuat Labuhanbatu
Selatan seakan menjadi primadona, namun di lain sisi generasi muda kita justru perlahan asing di
tanah sendiri.
Ruang dan waktu yang
terkikis oleh teknologi seringkali memicu "krisis karakter". Tanpa
fondasi etik yang kuat dari budaya lokal, masyarakat—terutama generasi
muda—rentan kehilangan pegangan. Dampaknya nyata: mulai dari lunturnya
integritas, hingga Kegelisahan akan jati diri.
Generasi muda saat ini
tidak kren kalau mengenal akar budayanya dibanding dengan budaya asing yang justeru menghilangkan norma-norma adat
dan agama. Generasi muda mungkin sangat "terjaga" (melek) terhadap
budaya populer di media sosial selama 24 jam, tetapi mereka
"tertidur" atau tidak tahu apa-apa tentang sejarah daerahnya. Mereka
tahu tren terbaru di luar negeri, tapi buta akan filosofi pantun atau makna di
balik selembar kain tenun daerahnya.
Krisis karakter semakin
jelas terlihat manakala adat istiadat hanya untuk membuat sebuah konten di
media sosial, gelar adat di kejar demi prestise, bukan karena tanggung jawab
moral. Hal inilah yang terjadi saat ini, dimana budaya hanya sebuah pajangan, tapi kita
kehilangan esensi atau jiwa budaya itu sendiri. Budaya seharusnya
menjadi ruang aman untuk kembali, namun insomnia budaya membuat ruang itu
terasa asing dan kaku. (Bersambung.....).


Sukses untuk menggugah saudar saudara yg sedang pulas tidur dan terlena dengan Budaya Asing.
BalasHapusIni saatnya Bangkitkan Budaya Melayu di Bumi Santun Berkata Bijak Berkarya...!