Budaya dan Sastra

Rindy Jangan Pergi (II)

Oleh : WAI Nasution  Dia mengambil HP yang berada di atas bak mandi. Baru dia ingat sebelum tidur malam itu Rangga mene…

NDUT

Oleh : WAI  Nasution     “Nduuttttt...banguuuuuuuunnnnn,” teriak emaknya dengan   suara super keras sambil me…

RINDY JANGAN PERGI

Oleh : WAI  Nasution   Cuaca mendung yang mengitari wajah Kotapinang pagi itu membuat Rindy enggan beranjak dar…

Malam Purnama di Kampung Tua (III)

Karya : WAI Nasution Tiba-tiba, Pak Dullah berbicara tanpa mengubah posisi kepalanya yang menghadap lurus ke depan. …

"Satu Tamparan Ibu" (Selesai)

Karya : Wai Nasution Riyan tertunduk lesu. Hatinya hancur mendapati kenyataan bahwa wanita yang ia perjuangkan habis-…

Muara Penantian Sang Detektif (Selesai).

Oleh : Wai Nasution Rudi menarik napas panjang, seolah membuang beban yang selama ini menyesakkan dadanya. "Yan, …

Satu Tamparan Ibu (II)

Penulis : Wai Nasution "Saya harus pergi, Bu. Ada janji yang menyangkut masa depan saya," sahut Riyan dengan…