Oleh : Ades Iskandar Nasution
Kesultanan Kotapinang Penjaga
Marwah yang Relevan
Dalam upaya pemajuan
budaya, kita tidak bisa melupakan peran strategis para Sultan yang pernah
berkuasa di Bumi Santun Berkata Bijak Berkarya ini. Sebab mereka merupakan
pionir dalam memulai peradaban di Kotapinang dan wilayah kekuasannya. Mereka
adalah lembaga pendidikan karakter yang menyebarkan nilai-nilai kearifan lokal.
Mereka pemegang kemudi tradisi awal secara berkesinambungan dan tentunya dari
merekalah kehidupan sosial kemasyarakatan terwujud.
Sebagai generasi saat
ini harus mampu melestarikan kebudayaan yang telah diperjuangkan oleh para
leluhur kita, bukan malah mengabaikannya begitu saja. Kita bisa berkaca pada
jepang, walau di zaman modern dan canggih bisa menyelaraskan diri dengan
tradisi yang tetap terjaga sakral.
Kesultanan kotapinang
sebagai barometer dalam penyelarasan kearifan lokal harus dapat dibangkitkan
kembali, tentunya dengan keseriusan dan motivasi yang tinggi. Disamping
pemangku adat, pemerintah setempat juga harus ikut andil dalam pelestarian
budaya lokal yang secara turun temurun telah ada. Banyak hal-hal yang dulunya
telah menjadi kebiasaan di masyarakat, kini tergerus oleh waktu dan arus zaman.
Simbol-simbol ikonik yang mewakili daerah Kotapinang mislanya, dulu tugu pinang
terpampang dan manjadi tontonan dan tempat selfi masyarakat saat sore hari di
pendopo (sekarang lokasi itu bernama SBBK), kini symbol itu sudah tidak ada
lagi.
Kemudian Kotapinang di
kenal dengan pohon pinang, sesuai dengan cerita secara turun temurun, bahwa pohon
pinang itu dijadikan sebagai pagar atau benteng menuju istana. Saat ini pohon
pinang sudah jarang kita lihat. Apakah simbol itu akan hilang selamanya,
ataukah pemerintah tidak punya hasrat untuk membudayakan ikon itu ?
Kemudian Penulis
mengambil satu contoh lain, Saat pejabat kehormatan dari luar daerah berkunjung
ke Labuhanbatu Selatan, masih tetap disuguhi dengan hiburan “live musk” dan
makanan yang biasa-biasa saja. Kenapa tidak kita budayakan, saat tamu
kehormatan datang ke bumi Labusel ini kita suguhkan dengan lantunan music
“Bordah” dan makanan khas kue “Rasidah” dan anyang ayam khas Kotapinang.
Sudah saatnya kita
harus bangga dengan kearifan lokal kita sendiri dan membudayakannya dalam
kehidupan sehari-hari di tatanan masyarakat.
"Selain
itu, pemerintah perlu menginisiasi pembudayaan busana daerah—khususnya budaya
Melayu—sebagai wujud nyata kepedulian terhadap warisan leluhur dan para Sultan.
Langkah ini adalah upaya menjaga marwah kita sebagai masyarakat yang santun
sekaligus produktif. Jika diselaraskan dengan moto 'Santun Berkata, Bijak Berkarya',
penggunaan busana daerah akan semakin memperkuat identitas daerah. Moto
tersebut sejatinya adalah harmoni antara nilai luhur (ramah dan toleran) dengan
karakter modern (kerja keras dan inovatif). Slogan kita sudah sangat progresif,
kini saatnya kita mewujudkannya dalam keseharian."
Kesimpulan
Kebudayaan adalah
wajah kita sekaligus perisai moral yang melindungi daerah ini dari pengaruh
negatif globalisasi. Masa depan Labuhanbatu Selatan bukan hanya soal angka
pertumbuhan ekonomi, melainkan sejauh mana kita berkomitmen merawat akar jati
diri agar terus bertumbuh dan berbuah bagi kemajuan Labuhanbatu Selatan di masa
mendatang. Tumbuh Kembangkan kearifan lokal khususnya di kalangan generasi
muda, agar mereka mencintai akar budaya asli Kotapinang ini. Siapapun yang
bernaung di Labuhanbatu Selatan harus bernaung secara Kaffah dan mau membantu daerah untuk lebih pesat perkembangannya. Untuk apa
Labuhanbatu Selatan di kelilingi perkebunan sawit dan PKS, jika tidak
bermanfaat bagi masyarakatnya.
Kearifan dan
kebijaksaan pemegang kepentingan sangat di butuhkan dalam merawat daerah ini
agar tampak berseri. Menjaga tradisi dengan menghidupkan kembali jati diri kita
sebagai masyarakat yang beradab adalah yang harus dilakukan di tengah kondisi
arus zaman yang mengerikan ini.
Kembali lagi, semua
itu tergantung kebijakan pemegang kepentingan dan kemauan masyarakat untuk
berubah dan menjaga nilai-nilai budaya kita, agar Labuhanbatu Selatan berkultur
melayu ini dapat menjadi daerah yang dihargai dan dihormati.


Posting Komentar
0Komentar