BARAKTIME.COM|SIAK —
Nada bicara meninggi dan kritik tanpa tedeng aling-aling datang dari Bupati
Siak, Afni
Zulkifli. Di hadapan para anggota DPR RI,
pemimpin perempuan asal Provinsi Riau ini membongkar borok ketidakadilan
pembagian kuota anggaran antara pemerintah pusat dan daerah penghasil.
Afni
secara blak-blakan menyoroti betapa timpangnya timbal balik yang diterima
daerahnya, padahal Kabupaten Siak berkontribusi masif terhadap pundi-pundi kas
negara.
"Daerah
kami tahun lalu setor Rp1 triliun ke pemerintah pusat, tapi balasannya jalan
nasional hanya 1 kilometer. This
is not fair, Pak!" tegas Afni dengan nada
bergetar menahan geram, seperti dikutip dari rekaman rapat di Senayan yang
viral di media sosial.
Daerah Kaya Sumber Daya, Tapi
Diperas Sampai Miskin
Kekesalan
Afni bukan tanpa alasan kuat. Kabupaten Siak dan wilayah Riau secara umum
dikenal sebagai lumbung komoditas besar nasional, mulai dari sektor minyak bumi
(migas) hingga perkebunan kelapa sawit. Namun, skema Dana Bagi Hasil (DBH) saat
ini dinilai tidak berpihak kepada daerah yang mengeksploitasi alamnya demi
kepentingan nasional.
Ia
mempertanyakan logika kebijakan fiskal Jakarta yang seolah membuat daerah
penyumbang justru kesulitan berkembang. Menurutnya, sangat aneh ketika suatu
wilayah yang kaya akan sumber daya alam justru dipaksa menghadapi ruang fiskal
yang sempit dan serba terbatas.
"Masa
daerah semakin kaya sumber daya alamnya, dia dibikin semakin miskin gitu. Yang
kita butuhkan sekarang adalah transparansi, keadilan, dan kepastian dari
pusat," lanjut politisi perempuan tersebut.
Gelombang Desakan Otonomi dan
Keadilan
Pernyataan
keras Afni Zulkifli ini langsung memicu gelombang diskusi panas di ruang publik
digital. Banyak warganet dan tokoh daerah menilai kritik ini sebagai puncak
gunung es dari rasa frustrasi daerah terhadap dominasi pengelolaan keuangan
oleh Jakarta.
Publik
kini mendesak adanya reformasi total terhadap UU Hubungan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD). Jika pusat terus-menerus
menutup mata terhadap ketimpangan ini, kekhawatiran akan mendinginnya hubungan
emosional antara daerah penghasil dan Jakarta diprediksi bisa semakin
meruncing. Suara lantang dari Siak kini menjadi sinyal kuat bahwa daerah tidak
ingin lagi sekadar menjadi penonton di atas kekayaan alamnya sendiri. (red)

.jpg)
Posting Komentar
0Komentar