Rindy, Jangan Pergi (III)

Media Barak Time.com
By -
0


 


Oleh : WAI Nasution


“Oalah...., Rindy...Rindy...”

“Ya..sudah gi makan sana, sudah mbak siapkan tu” kata Ningsih sambil masuk ke kamar.

“Jangan lupa selesai makan, semua piring kotor di cuci ya, jangan bebankan lagi hal sepele itu sama bik inah ya?” pesan Ningsih. Selain mereka berdua ada seorang pembantu yang sudah cukup lama tinggal dengan mereka dan sudah mereka anggap sebagai saudara sendiri.


“oke...mbakku yang cantik” puji Rindy

Ningsih sebagai anak tertua harus bisa menggantikan peran Ibunya yang telah lama meninggal. Saat itu Rindy masih berumur 4 tahun. Jadi belum tau apa-apa. Sementara Sang Ayah baru 2 tahun meninggalkan mereka. Tinggallah dia dan Rindy hidup berdua saling menjaga tanpa ada orang lain. Hanya pamannya lah yang sering bertandang kerumah mereka untuk sekedar melihat perkembangan kedua ponakannya itu. Disamping itu, Bi Inah la yang menjadi teman sejati mereka.


“Assalamu’alaikum.....”

“Rindy.......

“Siapa..?” sahut suara dari dalam

“Rangga”

Mendengar suara Rangga, Rindy cepat-cepat berlari ke arah pintu dan membukanya.


“Tumben ga, ada angin apa kemari. masuklah?” tanya Rindy sekedar berbasa basi.

“disini aja Rin..?” jawab Rangga datar sambil duduk di kursi teras.

“Maaf ya ga, tadi pagi aku bangun kesiangan” ujar Rindy membuka pembicaraan. Lebih baik dia dulu mengutarakannya sebelum Rangga bertanya kesana-kemari. Bisa repot urusannya.


“Hebat ya, sudah ngerjai aku 3 jam di taman kota. Seperti orang gila aja aku sendiri menunggu orang yang tak kunjung datang!” Ujar Rangga sambil mengibaskan rambut ikalnya yang menjuntai ke dahi.

“Maaf ga...., sekali lagi aku mohon kau bisa memaafkan atas keteledoranku.”pinta Rindy


“Satu yang harus kau ingat Rin, kau harus bisa menghargai orang lain kalau kau mau di hargai” kata Rangga sambil menatap tajam mata Rindy.

Melihat tatapan Rangga yang masih kesal padanya membuat Rindy tertunduk. Dia menyesal atas keteledorannya tadi. “gara-gara mendung pagi tadi kacau jadinya” Dasar Rindy goblok, sudah tahu ada janji eh..malah enak-enakan tidur” bathinnya mengutuk dirinya sendiri.


Seketika suasana menjadi hening karena Rangga masih diam dan belum bisa menghilangkan kejengkelannya tadi.

“Rangga, mau minum apa, biar aku buatin, yang dingin atau yang panas” pujuk Rindy ingin mencairkan suasana.


“Huh!......”

“Gak usah repot Rin....”

“Ah...gak kok, “ jawab Rindy singkat

“Oke deh, aku minta yang dingin biar suasana hatiku bisa terurai menjadi lebih tenang” kata Rangga.


“Baik pak bos...” kata Rindy berlalu dari hadapan Rangga.

Berselang beberapa menit Rindy datang membawa minuman dan meletakkannya diatas meja.

“Silahkan diminum ga” tawar Rindy

“Terima kasih Rin”

Rangga meminum itu dengan dua kali teguk. Melihat hal itu Rindy senyum manyun.

“Haus Ga”

“Eh....hm......”

“Gak pa pa Ga, biar aku buatin lagi ya”kata Rindy

“Ah..gak usah,” jawab Rangga


“Sudahlah gak usah malu, kayak baru sekali ini aja kau kerumah ku” ujar Rindy lalu masuk kembali. Kali ini Rindy membawa langsung sak ceret nya.

“Aih...apa-apaan ini Rin, jangan gitu lah, memang aku lagi haus, tapi gak gini-gini amat......, si amat aja gak gini” kata Rangga menahan rasa malu.

(Bersambung....)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)