Oleh : WAI Nasution
“Oalah....,
Rindy...Rindy...”
“Ya..sudah
gi makan sana, sudah mbak siapkan tu” kata Ningsih sambil masuk ke kamar.
“Jangan
lupa selesai makan, semua piring kotor di cuci ya, jangan bebankan lagi hal
sepele itu sama bik inah ya?” pesan Ningsih. Selain mereka berdua ada seorang
pembantu yang sudah cukup lama tinggal dengan mereka dan sudah mereka anggap
sebagai saudara sendiri.
“oke...mbakku
yang cantik” puji Rindy
Ningsih
sebagai anak tertua harus bisa menggantikan peran Ibunya yang telah lama
meninggal. Saat itu Rindy masih berumur 4 tahun. Jadi belum tau apa-apa.
Sementara Sang Ayah baru 2 tahun meninggalkan mereka. Tinggallah dia dan Rindy
hidup berdua saling menjaga tanpa ada orang lain. Hanya pamannya lah yang
sering bertandang kerumah mereka untuk sekedar melihat perkembangan kedua
ponakannya itu. Disamping itu, Bi Inah la yang menjadi teman sejati mereka.
“Assalamu’alaikum.....”
“Rindy.......
“Siapa..?” sahut
suara dari dalam
“Rangga”
Mendengar
suara Rangga, Rindy cepat-cepat berlari ke arah pintu dan membukanya.
“Tumben
ga, ada angin apa kemari. masuklah?” tanya Rindy sekedar berbasa basi.
“disini
aja Rin..?” jawab Rangga datar sambil duduk di kursi teras.
“Maaf
ya ga, tadi pagi aku bangun kesiangan” ujar Rindy membuka pembicaraan. Lebih
baik dia dulu mengutarakannya sebelum Rangga bertanya kesana-kemari. Bisa repot
urusannya.
“Hebat
ya, sudah ngerjai aku 3 jam di taman kota. Seperti orang gila aja aku sendiri
menunggu orang yang tak kunjung datang!” Ujar Rangga sambil mengibaskan rambut
ikalnya yang menjuntai ke dahi.
“Maaf
ga...., sekali lagi aku mohon kau bisa memaafkan atas keteledoranku.”pinta
Rindy
“Satu
yang harus kau ingat Rin, kau harus bisa menghargai orang lain kalau kau mau di
hargai” kata Rangga sambil menatap tajam mata Rindy.
Melihat
tatapan Rangga yang masih kesal padanya
membuat Rindy tertunduk. Dia menyesal atas keteledorannya tadi. “gara-gara
mendung pagi tadi kacau jadinya” Dasar Rindy goblok, sudah tahu ada janji
eh..malah enak-enakan tidur” bathinnya mengutuk dirinya sendiri.
Seketika
suasana menjadi hening karena Rangga masih diam dan belum bisa menghilangkan
kejengkelannya tadi.
“Rangga,
mau minum apa, biar aku buatin, yang dingin atau yang panas” pujuk Rindy ingin
mencairkan suasana.
“Huh!......”
“Gak
usah repot Rin....”
“Ah...gak
kok, “ jawab Rindy singkat
“Oke
deh, aku minta yang dingin biar suasana hatiku bisa terurai menjadi lebih
tenang” kata Rangga.
“Baik
pak bos...” kata Rindy berlalu dari hadapan Rangga.
Berselang
beberapa menit Rindy datang membawa minuman dan meletakkannya diatas meja.
“Silahkan
diminum ga” tawar Rindy
“Terima
kasih Rin”
Rangga
meminum itu dengan dua kali teguk. Melihat hal itu Rindy senyum manyun.
“Haus
Ga”
“Eh....hm......”
“Gak
pa pa Ga, biar aku buatin lagi ya”kata Rindy
“Ah..gak
usah,” jawab Rangga
“Sudahlah
gak usah malu, kayak baru sekali ini aja kau kerumah ku” ujar Rindy lalu masuk
kembali. Kali ini Rindy membawa langsung sak ceret nya.
“Aih...apa-apaan
ini Rin, jangan gitu lah, memang aku lagi haus, tapi gak gini-gini amat......,
si amat aja gak gini” kata Rangga menahan rasa malu.
(Bersambung....)


Posting Komentar
0Komentar