Oleh: Wan Ades Iskandar Nasution
Sorkam: Rahim Budaya
di Pesisir Barat
Jauh sebelum batas administratif membelah wilayah, Sorkam telah berdiri sebagai salah satu permata tertua di Tapanuli Tengah. Terletak sekitar 30 kilometer dari Sibolga, bandar perdagangan bersejarah ini telah menjadi kawah candradimuka multikultural sejak abad ke-14. Di sinilah identitas "Ughang Pasisi" lahir—sebuah harmoni budaya yang mempertemukan akar Melayu sebagai mayoritas dengan arus migrasi Minangkabau dan Batak. Dari tanah yang kaya akan sejarah inilah, sesosok tokoh besar memulai pengembaraannya.
Sang Ulubalang dan
Berdirinya Patihe
Sejarah Desa Patihe di Kecamatan Sei Kanan, Labuhanbatu Selatan, tidak bisa dilepaskan dari sosok heroik bernama Ulu Balang Manunggal Tanjung. Ia adalah seorang panglima perang tangguh yang berasal dari Sorkam. Langkah kakinya membawa sang panglima menembus belantara hingga tiba di sebuah wilayah yang kemudian ia beri nama Patihe Jae. Di sanalah ia meletakkan batu pertama peradaban.
Seiring waktu, Ulu
Balang Manunggal membangun keluarga dan memerintahkan keturunannya untuk
memperluas cakrawala. Dari instruksinya, lahirlah perkampungan-perkampungan
baru yang kini kita kenal sebagai Patihe Julu, Bargot Topong, Padangri, Aek
Gambir, Janji Manahan, Parsoburan, hingga Siandopuk. Wilayah Patihe inilah yang
menjadi tonggak sejarah sekaligus titik nol persebaran Marga Tanjung di bumi
Labuhanbatu Selatan.
Panglima Perang yang
Melegenda
Sosok Ulu Balang Manunggal Tanjung adalah figur yang unik. H. Rustam Tanjung, salah seorang hatobangon (tokoh adat) di Patihe Julu, mengisahkan bahwa sang panglima menduduki wilayah tersebut jauh sebelum cahaya Islam masuk sepenuhnya. Bukti sejarah ini masih terpahat pada makam beliau yang letaknya melintang—sebuah ciri khas pemakaman masa pelbegu (kepercayaan leluhur) yang belum mengikuti arah kiblat sesuai syariat Islam.
Sebagai seorang ahli
strategi perang, ia dikenal sebagai pengembara yang kerap berpindah tempat
sesuai panggilan tugas dari berbagai kerajaan. Konon, jasa besarnya dalam
memenangkan pertempuran sering kali dibayar dengan kehormatan mempersunting
gadis dari kerajaan yang dibelanya. Hal inilah yang menjelaskan mengapa
keturunan Ulu Balang Manunggal Tanjung sangat banyak dan tersebar luas di
berbagai penjuru untuk membentuk komunitas baru.
Menjaga Ingatan: Tugu
di Atas Bukit
Kini, untuk menjaga agar api sejarah tetap menyala, para tokoh adat mengusulkan pembangunan sebuah tugu peringatan kepada pemerintah daerah. Rencananya, tugu ini akan didirikan dengan gagah di atas perbukitan Desa Patihe. Bukan sekadar beton dan batu, tugu ini akan menjadi simbol penghormatan bagi sang perintis, pengingat bagi generasi muda bahwa identitas Marga Tanjung di Labuhanbatu Selatan berakar dari keberanian seorang Ulubalang asal Sorkam.
Sumber
: H. Rustam Tanjung (Tokoh Adat Patihe/Hatobangan).


Posting Komentar
0Komentar