Oleh : Wai Nasution
Hujan turun seolah tumpah dari langit, tepat
saat aku baru saja menyelesaikan zikir zuhur di teras masjid. Aku tertegun
melihat rintik yang kian rapat. "Aduh, bagaimana menjemput
anak-anak?" gumamku gelisah.
Aku punya prinsip: pantang membiarkan
anak-anak pulang berhimpitan di atas becak motor (betor) yang over capacity. Bagiku, keselamatan dan kenyamanan mereka
adalah prioritas, meski aku harus repot menjemput setiap hari.
Sambil menunggu reda, mataku tertuju pada
sudut parkiran. Di sana, seorang lelaki separuh baya duduk berteduh. Pakaiannya
kusam, jemarinya memegang sebatang rokok yang asapnya mengepul pasrah mengikuti
embusan napasnya yang berat. Di sampingnya tergeletak sebuah goni besar berisi
barang bekas—harta karun bagi seorang tukang butut.
Beberapa menit kemudian, lelaki itu bangkit.
Ia meletakkan goninya di sudut dinding kamar mandi, mengambil tas kecil dari
bahunya, lalu menghilang di balik pintu tempat wudhu.
Tak lama, ia keluar. Aku tersentak. Sosok
kusam tadi lenyap, berganti menjadi pria bersahaja dengan gamis bersih dan kain
sarung yang rapi. Ia melangkah masuk ke saf masjid dengan kepercayaan diri yang
tenang.
"Subhanallah," batinku bergetar.
Pekerjaan kasar tak membuatnya abai pada sang Khalik. Ia tak butuh pangkat
untuk menghadap Tuhan; ia hanya butuh ketakwaan.
Hujan mulai menipis menjadi gerimis tipis saat
lelaki itu keluar dan duduk di sampingku. Wajahnya tampak segar, sisa air wudhu
masih membekas di kulitnya yang legam.
"Assalamu’alaikum, Nak," sapanya
lembut sambil mengulurkan tangan.
"Wa’alaikumussalam. Dari mana tadi, Pak?" tanyaku basa-basi.
"Biasa, Nak, menjemput rezeki," jawabnya sambil tersenyum tipis.
"Sudah lama Bapak melakoni pekerjaan ini?"
"Ah, belum. Baru beberapa bulan."
"Maaf Pak, sebelumnya Bapak bekerja di mana?" tanyaku penasaran.
Lelaki itu terdiam. Ia menarik napas panjang,
matanya menatap hampa ke ujung kakinya. Ada guratan pilu yang mendadak muncul
di wajahnya.
"Dulu, saya seorang kontraktor,
Nak," ucapnya lirih.
Aku hampir tersedak. "Kontraktor? Kok
bisa… maksud saya, perubahannya sangat drastis, Pak."
Ia terkekeh getir. "Begitulah hidup kalau
kita lupa bersyukur. Dulu, saya punya segalanya, tapi saya buta. Untuk
memenangkan tender proyek, saya rela melakukan apa saja. Menyuap, menjamu
bos-bos dengan wanita, bahkan menemani mereka mabuk-mabukan dan narkoba. Semua
saya lakukan demi tumpukan harta yang saya kira abadi."
Ia tertunduk lebih dalam. "Dosa-dosa itu
seperti candu. Saya mulai ikut tenggelam di dalamnya sampai mengabaikan anak
dan istri. Hingga suatu hari, Allah mencabut semua nikmat itu sekaligus. Semua
proyek bermasalah, saya harus menjual seluruh aset untuk ganti rugi agar tidak
dipenjara. Harta ludes, jabatan hilang, dan akhirnya… istri serta anak-anak
memilih kembali ke rumah orang tuanya. Saya ditinggal sendiri dalam
kehampaan."
"Lalu, apa yang membuat Bapak memilih
jalan ini?" tanyaku, kini dengan rasa hormat yang tumbuh.
"Tobat, Nak. Itu satu-satunya jalan.
Setiap dosa yang kita biarkan akan menumpuk menjadi titik hitam di hati, hingga
hati kita mati. Saya tak mau mati dalam keadaan gelap. Saya pindah ke kota ini,
membawa pakaian seadanya, dan mulai memulung. Saya ingin memastikan bahwa
setiap suap nasi yang masuk ke mulut saya adalah hasil yang benar-benar
halal."
Matanya kini berkaca-kaca. "Saya belum
menemui anak istri saya. Nanti, ada waktunya. Saya ingin menemui mereka dengan
jiwa yang baru, jiwa yang sudah benar-benar ikhlas dan bersih. Saya tidak mau
mereka hidup dari sisa-sisa uang haram saya yang dulu."
Aku melirik jam tangan. Gerimis telah
berhenti. "Pak, maaf sekali, saya harus menjemput anak di sekolah. Terima
kasih banyak atas pelajarannya hari ini."
Lelaki itu bangkit dan menjabat tanganku erat.
"Silakan, Nak. Utamakan keluargamu. Jaga mereka baik-baik, jangan kau
abaikan seperti aku dulu. Rezeki bisa dicari, tapi keberkahan itu yang sulit
dijaga."
Aku menghidupkan mesin motor, meninggalkan
masjid dengan perasaan campur aduk. Lelaki itu kembali ke goni besarnya,
memanggul beban di pundak yang mungkin terasa berat bagi dunia, namun terasa
ringan bagi jiwanya yang kini telah berserah.
(Cerita ini hanya fiksi, jika
ada kesamaan cerita itu hanya kebetulan saja.)


Posting Komentar
0Komentar