Muara Penantian Sang Detektif (II)

Media Barak Time.com
By -
0

 


Karya : WAI Nasution

“Terus?” Rudi mendesak. Rasa penasaran mulai merayap, dibarengi degup jantung yang tiba-tiba berpacu di luar kendali.

“Sebentar, Bang... tenggorokanku kering. Pesan minum dulu ya,” sahut Indra enteng.

“Sompret kau, Ndra!” kutuk Rudi. “Ya sudah, sana. Sekalian pesankan aku jus wortel.”

“Siap, Ndan! Eh... siap, Bang!” Indra nyengir, lalu melenggang pergi.


Rudi menatap punggung sepupunya itu sambil geleng-geleng kepala. Untung kau sepupuku, kalau tidak, sudah kuhajar kau dari tadi, batinnya sembari menyunggingkan senyum tipis. Meski di kantor mereka adalah atasan dan bawahan, ikatan darah tak bisa berbohong.

Tak lama, Indra kembali dengan pesanan mereka. “Jadi begini, Bang. Setelah ngobrol ke sana kemari, dia cerita kalau punya teman polisi yang tugas di Kotapinang. Namanya Rudi.


“Terus?” mata Rudi memicing.

“Ah, jangan ‘terus-terus’ lah, Bang. Macam tukang parkir pula aku abang buat,” ledek Indra sambil terkekeh.


“Alah! Jangan berbelit-belit. Cepat lanjutkan!” desak Rudi, tak sabar.

Indra memajukan duduknya, mengecilkan suara. “Namanya Yanti. Posturnya semampai, rambutnya ikal sebahu. Wah... cantiknya luar biasa, Bang. Benar-benar tipe Abang sekali.”

“Masak, sih?” Rudi berusaha tampak skeptis, meski dadanya kian bergemuruh. Apa mungkin itu Suyanti? Gadis yang dulu sering aku jahili di sekolah? Tapi seingatku dulu dia biasa saja. Jangan-jangan ini cuma akal-akalan Indra untuk mengerjaiku, pikirnya curiga.


“Lah, baru dibilang cantik saja sudah melamun,” celetuk Indra telak.

“Siapa yang melamun? Aku cuma sedang menimbang-nimbang ceritamu itu,” kilah Rudi, berusaha meredam gejolak di hatinya yang mulai tak karuan.

Indra mendengus geli. “Sudahlah, Bang, jangan pura-pura tangguh begitu. Pantas saja Abang jomblo abadi.”


“Enak saja! Aku melajang bukan karena tidak laku, tapi karena dedikasi pada negara. Tugas sebagai polisi itu berat, aku belum mau membagi fokusku untuk hal-hal yang tidak jelas,” tegas Rudi, berusaha menjaga martabatnya sebagai abdi negara.

“Iya, iya... akui saja kalau memang belum laku,” goda Indra lagi.

“Apa yang harus diakui—”


Kalimat Rudi terputus. Sebuah suara lembut yang terasa sangat akrab menyapa dari arah belakangnya, menyapu tengkuknya dengan hawa dingin yang mendebarkan.

“Maaf... boleh saya bergabung di sini?”


Indra terperangah. Matanya membulat menatap sosok yang berdiri tepat di belakang kursi Rudi. Saat Indra hendak membuka mulut untuk bersuara, gadis itu—Yanti—dengan cepat menempelkan jari telunjuk di bibir, memberi isyarat agar Indra diam.

Bersambung.............

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)