“Terus?” Rudi mendesak. Rasa penasaran mulai
merayap, dibarengi degup jantung yang tiba-tiba berpacu di luar kendali.
“Sebentar, Bang... tenggorokanku kering. Pesan
minum dulu ya,” sahut Indra enteng.
“Sompret kau, Ndra!” kutuk Rudi. “Ya sudah,
sana. Sekalian pesankan aku jus wortel.”
“Siap, Ndan! Eh... siap, Bang!” Indra nyengir,
lalu melenggang pergi.
Rudi menatap punggung sepupunya itu sambil
geleng-geleng kepala. Untung kau sepupuku, kalau tidak, sudah kuhajar
kau dari tadi, batinnya sembari menyunggingkan senyum tipis. Meski di
kantor mereka adalah atasan dan bawahan, ikatan darah tak bisa berbohong.
Tak lama, Indra kembali dengan pesanan mereka. “Jadi begini, Bang. Setelah ngobrol ke sana kemari, dia cerita kalau punya teman polisi yang tugas di Kotapinang. Namanya Rudi.
“Terus?” mata Rudi memicing.
“Ah, jangan ‘terus-terus’ lah, Bang. Macam
tukang parkir pula aku abang buat,” ledek Indra sambil terkekeh.
“Alah! Jangan berbelit-belit. Cepat
lanjutkan!” desak Rudi, tak sabar.
Indra memajukan duduknya, mengecilkan suara.
“Namanya Yanti. Posturnya semampai, rambutnya ikal sebahu. Wah... cantiknya
luar biasa, Bang. Benar-benar tipe Abang sekali.”
“Masak, sih?” Rudi berusaha tampak skeptis,
meski dadanya kian bergemuruh. Apa mungkin itu Suyanti? Gadis yang dulu
sering aku jahili di sekolah? Tapi seingatku dulu dia biasa saja. Jangan-jangan
ini cuma akal-akalan Indra untuk mengerjaiku, pikirnya curiga.
“Lah, baru dibilang cantik saja sudah
melamun,” celetuk Indra telak.
“Siapa yang melamun? Aku cuma sedang
menimbang-nimbang ceritamu itu,” kilah Rudi, berusaha meredam gejolak di
hatinya yang mulai tak karuan.
Indra mendengus geli. “Sudahlah, Bang, jangan
pura-pura tangguh begitu. Pantas saja Abang jomblo abadi.”
“Enak saja! Aku melajang bukan karena tidak
laku, tapi karena dedikasi pada negara. Tugas sebagai polisi itu berat, aku
belum mau membagi fokusku untuk hal-hal yang tidak jelas,” tegas Rudi, berusaha
menjaga martabatnya sebagai abdi negara.
“Iya, iya... akui saja kalau memang belum
laku,” goda Indra lagi.
“Apa yang harus diakui—”
Kalimat Rudi terputus. Sebuah suara lembut
yang terasa sangat akrab menyapa dari arah belakangnya, menyapu tengkuknya
dengan hawa dingin yang mendebarkan.
“Maaf... boleh saya bergabung di sini?”
Indra terperangah. Matanya membulat menatap
sosok yang berdiri tepat di belakang kursi Rudi. Saat Indra hendak membuka mulut
untuk bersuara, gadis itu—Yanti—dengan cepat menempelkan jari telunjuk di
bibir, memberi isyarat agar Indra diam.
Bersambung.............


Posting Komentar
0Komentar