Oleh : Ades Iskandar Nasution
Di masa ketika hutan
Rasau masih menyimpan rahasia purba, berkuasalah seorang raja agung
bernama Raja Jahanopan Hasibuan. Kekuasaannya membentang luas
hingga ke Bangai, ditegakkan dengan pedang dan kebijaksanaan. Namun, di balik
kebesaran sang Raja, ada bayang-bayang yang selalu mengiringi: seorang Hulubalang,
kepala laskar yang kesetiaannya melampaui nalar manusia biasa.
Bagi sang Hulubalang,
titah raja adalah napas, dan pengabdian adalah harga mati. Namun, takdir tak
mengenal kedaulatan. Saat maut menjemput Raja Jahanopan, dunia sang Hulubalang
runtuh. Ia tak sudi membiarkan tuannya melintasi gerbang kematian sendirian
tanpa pengawalan.
Maka terjadilah sebuah
sumpah yang menggetarkan bulu kuduk.
Demi kesetiaan yang
tak sanggup dibunuh maut, sang Hulubalang meminta dirinya dikubur hidup-hidup.
Di dalam kegelapan liang lahat, ia duduk tegak bersila di samping jasad sang
Raja—menjaga sang penguasa dalam keheningan abadi. Sebagai segel atas sumpah
keramat itu, sebuah nisan batu tak biasa dipahat di atas tempat
persemayamannya.
Bukan sekadar nisan
datar, melainkan bongkahan batu yang diukir menyerupai rupa manusia dengan
detail yang ganjil. Konon, mata pada nisan batu itu seolah selalu mengikuti ke
mana pun langkah kaki bergerak, seakan sang Hulubalang masih memantau siapa
saja yang berani melintasi wilayah kekuasaan tuannya. Guratan pada permukaan
batu yang kasar itu tidak lekang oleh zaman, tetap tegak membatu di tengah
sunyinya hutan seberang Barumun.
Namun, pengabdian sang
Hulubalang ternyata tidak berakhir di bawah tanah. Sebelum napas terakhirnya
habis tertimbun bumi, ia menitipkan sebuah janji mistis kepada penduduk
Rasau: “Jika
bencana mendekat, aku akan bersuara.”
Hingga bertahun-tahun
kemudian, setiap kali maut mengintai dalam rupa banjir bandang, suara gemuruh
misterius sering kali meledak dari arah seberang Sungai Barumun. Suara itu
bukan sekadar guntur, melainkan teriakan isyarat dari sang Hulubalang yang
masih setia berjaga di alam sana. Mendengar isyarat gaib itu, warga memiliki
waktu untuk menyelamatkan diri sebelum banjir melanda kampung mereka.
Kisah kelam yang
heroik ini terus dibisikkan dari generasi ke generasi, sebagaimana dituturkan
kembali oleh Raja Amran Hasibuan, salah satu pemangku adat Desa
Rasau. Sebuah pengingat tentang cinta dan kesetiaan yang mengeras menjadi batu,
abadi bersama aliran Sungai Barumun.


Posting Komentar
0Komentar