SANG PENJAGA ABADI DARI SEBERANG BARUMUN

Media Barak Time.com
By -
0





(Sebuah Fragmen Kesetiaan dari Desa Rasau)

Oleh : Ades Iskandar Nasution

 

Di masa ketika hutan Rasau masih menyimpan rahasia purba, berkuasalah seorang raja agung bernama Raja Jahanopan Hasibuan. Kekuasaannya membentang luas hingga ke Bangai, ditegakkan dengan pedang dan kebijaksanaan. Namun, di balik kebesaran sang Raja, ada bayang-bayang yang selalu mengiringi: seorang Hulubalang, kepala laskar yang kesetiaannya melampaui nalar manusia biasa.

 

Bagi sang Hulubalang, titah raja adalah napas, dan pengabdian adalah harga mati. Namun, takdir tak mengenal kedaulatan. Saat maut menjemput Raja Jahanopan, dunia sang Hulubalang runtuh. Ia tak sudi membiarkan tuannya melintasi gerbang kematian sendirian tanpa pengawalan.

 

Maka terjadilah sebuah sumpah yang menggetarkan bulu kuduk.

Demi kesetiaan yang tak sanggup dibunuh maut, sang Hulubalang meminta dirinya dikubur hidup-hidup. Di dalam kegelapan liang lahat, ia duduk tegak bersila di samping jasad sang Raja—menjaga sang penguasa dalam keheningan abadi. Sebagai segel atas sumpah keramat itu, sebuah nisan batu tak biasa dipahat di atas tempat persemayamannya.

 

Bukan sekadar nisan datar, melainkan bongkahan batu yang diukir menyerupai rupa manusia dengan detail yang ganjil. Konon, mata pada nisan batu itu seolah selalu mengikuti ke mana pun langkah kaki bergerak, seakan sang Hulubalang masih memantau siapa saja yang berani melintasi wilayah kekuasaan tuannya. Guratan pada permukaan batu yang kasar itu tidak lekang oleh zaman, tetap tegak membatu di tengah sunyinya hutan seberang Barumun.

Namun, pengabdian sang Hulubalang ternyata tidak berakhir di bawah tanah. Sebelum napas terakhirnya habis tertimbun bumi, ia menitipkan sebuah janji mistis kepada penduduk

Rasau: “Jika bencana mendekat, aku akan bersuara.”

 

Hingga bertahun-tahun kemudian, setiap kali maut mengintai dalam rupa banjir bandang, suara gemuruh misterius sering kali meledak dari arah seberang Sungai Barumun. Suara itu bukan sekadar guntur, melainkan teriakan isyarat dari sang Hulubalang yang masih setia berjaga di alam sana. Mendengar isyarat gaib itu, warga memiliki waktu untuk menyelamatkan diri sebelum banjir melanda kampung mereka.

 

Kisah kelam yang heroik ini terus dibisikkan dari generasi ke generasi, sebagaimana dituturkan kembali oleh Raja Amran Hasibuan, salah satu pemangku adat Desa Rasau. Sebuah pengingat tentang cinta dan kesetiaan yang mengeras menjadi batu, abadi bersama aliran Sungai Barumun.


Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)