Oleh : Ades Iskandar
Nasution
Kebudayaan bukan
sekadar tumpukan artefak atau barisan tari-tarian di atas panggung. Ia adalah
"napas" yang menghidupi sebuah bangsa—sebuah identitas kolektif yang
menjadi kompas dalam bernegara. Di Indonesia, kebudayaan adalah fondasi. Sebuah
bangsa hanya akan menjadi besar jika nilai-nilainya menghunjam dalam (deep-rooted)
hingga ke sendi kehidupan masyarakatnya.
Kebudayaan lahir dari
ide dan gagasan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang secara terus menerus
berlangsung. Karya cipta masyarakat tersebut secara kontiniu menjadi tradisi
secara turun temurun hingga sampai dengan saat ini. Budaya mengandung makna
yang mendalam dalam konteks kemanusiaan, seperti kepercayaan, seni, adat
istiadat, dan hukum adat yang terbentuk secara Kolektif memenuhi sisi kehidupan
bermasyarakat.
Setiap daerah pasti
memiliki adat istiadat berbalut budaya yang menaungi masyarakatnya dalam
bergaul, bertindak dan beradab. Karena para leluhur kita dahulunya telah
meramunya dalam satu kesatuan tradsi yang melekat. Seperti di Labuhanbatu
Selatan memiliki akar budaya melayu yang menjadi sandaran dalam kehidupan
masyarakatnya. Apapun yang menjadi kegiatan didalam tatanan masyarakat tetap
mencirikan adat istiadat melayu. Akan tetapi, saat ini peradaban melayu itu
sendiri kian melemah dan hampir punah di bumi “Santun berkata Bijak Berkarya”.
Hal ini disebabkan karena asimiliasi dari kebudayaan luar yang masuk secara
besar-besaran membuat masyarakat lokal susah untuk membendungnya. Ironisnya,
masyarakat melayu awal kian termarjinalkan dari peradaban itu sendiri. Hal ini
bisa di lihat dari berbagai kegiatan, seperti adat pernikahan, pergaulan dan adat dalam berpakaian.
Lantas, bagaimana adat
istiadat Melayu Kotapinang akan bangkit kembali, sementara pemangku kepentingan
dan para pemangku adat tidak respon dengan akar budaya asli Kotapinang itu
sendiri. Apakah Budaya melayu akan hilang dari bumi santun berkata bijak
berkarya ini?
Salah satu bukti bahwa
Kotapinang berakar melayu adalah dengan adanya kesultanan Kotapinang yang
secara turun temurun dari Batara Guru Pinayungan Nan Sakti (1580-1610) sampai
generasi terakhir Yang dipertuan Makmur Perkasa ALamsyah (1905-1946). Ini
menunjukkan bahwa peradaban melayu sudah melekat di hati masyarakatnya waktu
itu, namun saat ini seakan mati tak berkesan.
Norma-norma adat
sangat di junjng tinggi dalam kesehariannya bak kata pepatah melayu "Biar
mati anak, jangan mati adat"—yang menegaskan bahwa adat adalah identitas yang
harus dijaga lebih dari apa pun. Apakah saat ini adat istiadat itu masih
ada?
Sementara tradisi yang merupakan bagian budaya
itu sendiri semakin kabur dan cendrung diabaikan, bahkan percampuran adat yang
kerap kita lihat sering terjadi, hal ini membuat Labuhanbatu Selatan tidak
memiliki adat istiadat yang spesifik.
Bersambung.......


Posting Komentar
0Komentar