Menjaga Tradisi, Menghidupkan Kembali Jati Diri Daerah di Tengah Arus Zaman

Media Barak Time.com
By -
0

 


Oleh : Ades Iskandar Nasution

 


Kebudayaan bukan sekadar tumpukan artefak atau barisan tari-tarian di atas panggung. Ia adalah "napas" yang menghidupi sebuah bangsa—sebuah identitas kolektif yang menjadi kompas dalam bernegara. Di Indonesia, kebudayaan adalah fondasi. Sebuah bangsa hanya akan menjadi besar jika nilai-nilainya menghunjam dalam (deep-rooted) hingga ke sendi kehidupan masyarakatnya.

 

Kebudayaan lahir dari ide dan gagasan manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang secara terus menerus berlangsung. Karya cipta masyarakat tersebut secara kontiniu menjadi tradisi secara turun temurun hingga sampai dengan saat ini. Budaya mengandung makna yang mendalam dalam konteks kemanusiaan, seperti kepercayaan, seni, adat istiadat, dan hukum adat yang terbentuk secara  Kolektif memenuhi sisi kehidupan bermasyarakat.

 

Setiap daerah pasti memiliki adat istiadat berbalut budaya yang menaungi masyarakatnya dalam bergaul, bertindak dan beradab. Karena para leluhur kita dahulunya telah meramunya dalam satu kesatuan tradsi yang melekat. Seperti di Labuhanbatu Selatan memiliki akar budaya melayu yang menjadi sandaran dalam kehidupan masyarakatnya. Apapun yang menjadi kegiatan didalam tatanan masyarakat tetap mencirikan adat istiadat melayu. Akan tetapi, saat ini peradaban melayu itu sendiri kian melemah dan hampir punah di bumi “Santun berkata Bijak Berkarya”. Hal ini disebabkan karena asimiliasi dari kebudayaan luar yang masuk secara besar-besaran membuat masyarakat lokal susah untuk membendungnya. Ironisnya, masyarakat melayu awal kian termarjinalkan dari peradaban itu sendiri. Hal ini bisa di lihat dari berbagai kegiatan, seperti adat pernikahan, pergaulan dan  adat dalam berpakaian.

 

Lantas, bagaimana adat istiadat Melayu Kotapinang akan bangkit kembali, sementara pemangku kepentingan dan para pemangku adat tidak respon dengan akar budaya asli Kotapinang itu sendiri. Apakah Budaya melayu akan hilang dari bumi santun berkata bijak berkarya ini?

Salah satu bukti bahwa Kotapinang berakar melayu adalah dengan adanya kesultanan Kotapinang yang secara turun temurun dari Batara Guru Pinayungan Nan Sakti (1580-1610) sampai generasi terakhir Yang dipertuan Makmur Perkasa ALamsyah (1905-1946). Ini menunjukkan bahwa peradaban melayu sudah melekat di hati masyarakatnya waktu itu, namun saat ini seakan mati tak berkesan.

 

Norma-norma adat sangat di junjng tinggi dalam kesehariannya bak kata pepatah melayu  "Biar mati anak, jangan mati adat"—yang menegaskan bahwa adat adalah identitas yang harus dijaga lebih dari apa pun. Apakah saat ini adat istiadat itu masih ada?

 

Sementara tradisi yang merupakan bagian budaya itu sendiri semakin kabur dan cendrung diabaikan, bahkan percampuran adat yang kerap kita lihat sering terjadi, hal ini membuat Labuhanbatu Selatan tidak memiliki adat istiadat yang spesifik.

Bersambung.......

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)