Misteri Makam Oppu Busmin Nasution: Jejak Karomah Sang Penjaga Waktu di Bumi Sisumut

Media Barak Time.com
By -
0

 

 


Oleh: Wan Ades Iskandar Nasution

 

Perjalanan tim Komunitas Jelajah Sejarah, Wisata dan Budaya (KJ-SWIB) dalam menelusuri situs bersejarah membawa kami ke sebuah dusun terpencil bernama Boom Sisumut, Desa Sisumut, Kotapinang. Dahulu, pemukiman ini berdenyut di pinggiran Danau Tarutung, sebuah aliran Sungai Barumun yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat.

Tepat pukul 15.30 WIB, kami tiba dan disambut oleh Raja Ibrahim Nasution, zuriat keturunan Raja Sisumut yang akan memandu kami menembus belantara. Sebelum mencapai inti makam, kami menyempatkan diri singgah di puing-puing pesangrahan raja dan permaisuri. Di sana, hanya tersisa dinding tua dan sebuah sumur kuno yang membisu, menyimpan rahasia kejayaan masa lalu.


Keindahan di Balik Kekeringan

Langkah kaki kami terus berlanjut menuju komplek makam para Raja Sisumut. Kondisinya cukup memprihatinkan; tidak terawat dan tersembunyi di balik rimbunnya semak belukar. Kami harus merunduk, bergelut dengan duri dan ilalang demi sebuah penghormatan pada sejarah.

Di tengah rasa lelah, kami beristirahat sejenak memandang Danau Tarutung yang sedang merana akibat kemarau. Dasar danau tampak retak-retak, namun di tengahnya masih menyisakan genangan air yang menjadi oase bagi kawanan bangau putih. Sebuah panorama yang cantik sekaligus melankolis.


Getaran Aneh di Bawah Pohon Raksasa

Menjelang senja, sekitar pukul 17.30 WIB, kami bergerak menuju sebuah makam yang berada tepat di bawah pohon raksasa. Ada getaran aneh yang menjalar di sekujur tubuh saat kami mendekat. Suasana kian mencekam ketika jeritan monyet dari atas pohon seolah memberi isyarat agar kami menjaga adab di tanah keramat ini.

Setelah membersihkan nisan dari akar yang melilit, terbaca sebuah nama: Oppu Busmin Nasution, mangkat pada 26 November 1928. Doa pun kami panjatkan, memecah kesunyian hutan yang kian gelap.


Sang Ulama yang "Wara" dan Kisah Karomahnya

Raja Ibrahim Nasution mengisahkan bahwa Oppu Busmin adalah sosok ulama yang sangat wara’. Beliau dikenal sebagai panutan yang ketaatannya pada Sang Khalik tak perlu diragukan. Di zaman ketika jam belum menjadi barang umum, Oppu Busmin memiliki insting spiritual yang tajam untuk menentukan waktu shalat. Di mana pun ia berada, saat waktu tiba, suara azannya akan menggema membelah hutan.

Namun, di balik kelembutannya, tersimpan "tegur" bagi mereka yang tak beradab. Raja Ibrahim menceritakan kisah seorang warga yang tak sengaja merusak mata babatnya saat membersihkan lahan di sekitar makam. Karena kesal, warga tersebut memaki dan mengeluarkan sumpah serapah.

Seketika setibanya di rumah, warga tersebut ambruk. Ia muntah darah dan demam hebat tanpa sebab medis yang jelas. Atas saran seorang datu, ia pun kembali ke makam Oppu Busmin untuk memohon maaf dengan tulus. Ajaibnya, sesaat setelah meminta maaf, penyakitnya hilang seketika—sehat walafiat seperti sedia kala.


Manusia Berjubah Hijau

Misteri tak berhenti di situ. Ada kisah tentang seorang kerabat Raja Ibrahim yang mencoba membawa pulang sebuah batu dari makam Oppu Busmin untuk diletakkan di bawah bantal. Akibatnya, selama tiga malam berturut-turut, ia didatangi sosok pria bertubuh besar dengan jubah hijau yang menatap tajam tanpa kata. Teror visual itu baru berhenti setelah batu tersebut dikembalikan ke tempat asalnya.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB saat kami mengakhiri penelusuran ini. Meski masih banyak tabir sejarah yang ingin kami buka, duka yang sedang menyelimuti keluarga Raja Ibrahim memaksa kami pamit undur diri. Kami meninggalkan Boom Sisumut dengan satu keyakinan: sejarah bukan sekadar deretan angka, ia adalah napas dan peringatan bagi kita yang masih ada.

(Ekspedisi pada 24 Juli 2021)

 

Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)