Mustahil mengaku pecinta sastra jika tak kenal Chairil Anwar. Kita memang tak pernah bertegur sapa langsung dengannya, namun kehadirannya terasa begitu nyata dalam tiap catatan sejarah yang kita baca. Lahir di tengah riuh Medan pada tahun 1922, ia adalah buah hati satu-satunya Toeloes dan Saleha. Meski lahir di tanah Deli, darah Lima Puluh Kota dari kedua orang tuanya tetap mengalir deras, membawanya tumbuh menjadi sosok yang mengubah wajah puisi modern Indonesia.
Manja tapi keras kepala—itulah Chairil
Anwar. Sebagai anak tunggal, ia tumbuh dengan ego yang sekeras batu, persis
seperti orang tuanya. Bagi si pencipta sajak Nisan ini,
sekolah formal terasa menyesakkan. Ia memutuskan 'drop out' di usia 18 tahun,
sebuah keputusan yang sebenarnya sudah ia pendam sejak umur 15 demi mengejar
takdir sebagai seniman.
Meski meninggalkan sekolah, Chairil
tidak berhenti belajar. Ia justru melampaui kurikulum zamannya dengan menguasai
bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman secara mandiri. Alih-alih membaca buku
teks, ia melahap karya-karya dunia milik W.H. Auden hingga J. Slaurhoff.
Chairil membuktikan bahwa tanpa ijazah formal, ia mampu membangun cakrawala
sastra yang mendunia.
Setahun pasca meninggalkan bangku
sekolah, badai menghantam hidup Chairil. Perceraian orang tuanya memaksa ia
angkat kaki dari kenyamanan, memulai pengembaraan baru bersama sang ibu menuju
riuhnya Batavia (Jakarta). Di kota inilah, sang penyair berdarah Minang itu
mulai menenun napasnya ke dalam dunia sastra. Meski keluarga besarnya telah
terbelah, sang ayah tetap setia memenuhi nafkah, memberi ruang bagi Chairil
untuk terus merajut kata demi kata.
Menjadi seniman bukanlah jalan yang
bertabur bunga bagi Chairil. Di awal karier, pintu-pintu penerbit kerap
tertutup rapat untuknya; karyanya dianggap terlalu liar, individualis, dan
"berbahaya" bagi arus utama zaman itu. Namun, keberuntungan memihak
pada si keras kepala ini. Di usia yang baru menginjak 20 tahun, namanya meledak
lewat sajak berjudul "Nisan". Sejak itu, tema-tema
tentang kematian, eksistensi, dan kesunyian seolah menjadi bayang-bayang yang
melekat erat pada hampir semua dari 96 karya yang ia lahirkan.
Kecintaan Chairil pada sastra dunia membawa warna baru, namun juga tudingan
miring. Sang Paus Sastra, H.B. Jassin, sempat melontarkan isu plagiarisme dalam
tulisan ikoniknya di Mimbar Indonesia. Jassin menyoroti kemiripan
antara "Karawang-Bekasi" dengan "The
Young Dead Soldiers" karya Archibald MacLeish. Meski demikian,
Jassin tak pernah menghakimi Chairil. Baginya, meski struktur ceritanya mirip,
"ruh" dan rasa yang berdenyut di dalamnya tetaplah murni milik
Chairil—sajak MacLeish hanyalah pematik api kreatif sang penyair.
Lonceng Terakhir sang Penyair
Puncak kejayaan Chairil ternyata berkejaran dengan waktu. Belum sempat
merayakan usia 27 tahun, tubuhnya yang ringkih mulai digerogoti berbagai
penyakit. Gaya hidup yang semrawut membuat infeksi dan penyakit paru-paru
menjadi teman setianya, hingga akhirnya tifus memaksa ia terbaring di rumah
sakit. Dalam igauan panas tinggi di detik-detik terakhirnya, Chairil hanya
menyebut satu nama: "Tuhanku, Tuhanku...". Lonceng
kematian akhirnya berdentang tepat pukul 15.00 pada 28 April 1949, menutup usia
sang legenda namun memulai keabadian karyanya.
Sumber : Sastra Indonesia.net (28 Februari 2018).

.jpg)
Posting Komentar
0Komentar