Kebijakan Amerika Serikat mengirimkan pasukannya ke zona konflik paling berbahaya kini memicu kekhawatiran besar. Langkah ini dinilai sebagai pertaruhan nyawa yang sangat berisiko, di mana para prajurit harus berhadapan langsung dengan ancaman maut di garis depan. Di tengah situasi yang semakin memanas, pertanyaan besar muncul: Apakah ini strategi militer yang matang, atau justru misi berbahaya yang menjemput maut?.
Klaim kehancuran hingga 70% wilayah Israel akibat hantaman rudal Iran menandai babak baru perang yang tak lagi menyisakan tempat aman. Situasi kian mencekam saat AS mulai memobilisasi pasukan elite untuk memulai operasi darat yang diprediksi akan menekan posisi Iran dalam waktu singkat. Namun, ketenangan otoritas militer Iran menjadi sorotan para pakar; diyakini ada teknologi perang rahasia yang mulai diaktifkan dari situs-situs tersembunyi. Bahkan, gertakan penggunaan senjata nuklir dari pihak lawan tidak menyurutkan langkah Teheran. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergerakan senyap menuju konfrontasi global yang jauh lebih serius dan mematikan daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Skenario kelumpuhan total membayangi kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah. Iran diprediksi akan menyasar titik-titik krusial, mulai dari penghancuran sumber air hingga pemutusan kabel internet bawah laut demi memutus urat nadi komunikasi musuh. Di saat yang sama, dunia menyaksikan ketegangan nuklir mencapai puncaknya; Amerika mulai mengaktivasi kesiagaan hulu ledak nuklirnya, memaksa negara-negara pemilik senjata pemusnah massal lainnya untuk mulai berhitung. Jika ribuan nuklir ini meluncur, kehancuran yang tak terbayangkan hanya tinggal menunggu waktu. Dunia kini berada di ambang perang eksistensial, di mana kekuatan nuklir dipaksa beradu demi menentukan siapa yang akan menguasai sisa daratan, lautan, dan kekayaan alam bumi.
Pada konteks ini mendesak Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk
mengambil peran kepemimpinan global dengan menyerukan perdamaian lintas
benua—Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika—guna mencegah pecahnya perang
nuklir. Selain diplomasi internasional, ia juga menekankan pentingnya
pemerintah mempersiapkan sistem keamanan nasional yang inklusif bersama rakyat
sebagai langkah antisipasi skenario terburuk. Dalam pernyataannya, Prof. Sutan
menegaskan bahwa tindakan Israel merupakan pelanggaran hukum internasional yang
harus diadili. Ia menuntut Israel untuk segera meninggalkan kawasan Timur
Tengah dan mengakui keunggulan militer Iran.
Disamping itu mengingatkan Presiden RI, Jend. (Purn) Prabowo Subianto, agar tetap waspada terhadap segala kemungkinan terburuk yang dapat mengancam kedaulatan NKRI. Beliau mendorong penguatan pertahanan melalui optimalisasi persenjataan canggih hasil karya anak bangsa. 'Ibarat kata, pisau yang tumpul harus terus diasah,' ujar Profesor Sutan dalam sesi tanya jawab bersama para Pemimpin Redaksi media cetak dan daring lintas negara. Penegasan ini merupakan bentuk dukungan penuh dan kekagumannya terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo dalam menjaga stabilitas nasional.
Oleh .
Prof. Sutan Nasomal
(Ketua Partai Koalisi Rakyat Indonesia, Pakar Hukum Pidana Internasional, Jenderal Kompii Pengasuh Ponpes ASS SAQWA PLUS).
Jakarta, 9 April 2026


Posting Komentar
0Komentar