Penulis : Wai Nasution
"I-iii... ya... Pak," lidah Bayu kelu, suaranya pecah
menjadi serpihan kecil yang tersangkut di tenggorokan.
Dingin yang tidak wajar mulai menjalar dari telapak kakinya.
Bayu tahu ada yang salah. Pak Dullah yang biasanya hangat kini berdiri sekaku nisan
kayu. Sepasang matanya bukan lagi jendela jiwa; mata itu hanyalah dua lubang
gelap yang tak bermuara, kosong dan menghisap, seolah-olah semua kehidupan di
dalamnya telah lama menguap dan digantikan oleh kehampaan yang purba.
"Malam apa ini?" pikirnya,
mencoba meraba ingatan di tengah kabut ketakutan yang kian menebal.
Sesaat kemudian, jantungnya seakan berhenti
berdetak. Darahnya mendidih lalu membeku seketika. Malam Jumat Kliwon. Bayu
tersadar bahwa di jam seperti ini, batas antara dunia manusia dan jagat
lelembut menipis seperti kain kafan yang rapuh. Bulu kuduknya meremang hebat,
seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk pori-porinya, memberi tanda
bahwa ia tidak lagi sendirian di sana—sesuatu yang "lain" mulai
keluar dari persembunyiannya.
"Mari, Bapak
antar sampai ke dalam," tawar Pak Dullah. Suaranya terdengar datar, nyaris
tanpa intonasi.
Biasanya, ini adalah kalimat yang melegakan
bagi Bayu. Selama berminggu-minggu melakukan riset tentang misteri Kampung Tua
untuk medianya, motor tua Pak Dullah adalah satu-satunya akses yang ia
percayai. Namun malam ini, tawaran itu terasa seperti sebuah jebakan. Bayu
menatap jok belakang motor Pak Dullah yang terlihat begitu hitam dan dingin,
seolah siapa pun yang naik ke sana tidak akan pernah benar-benar sampai ke
tujuan.
"I—iya, Pak. Tolong, ya," bisik Bayu, nyaris tak
terdengar.
Ia melangkah mendekat dengan sisa keberanian yang tercecer. Saat
pantatnya menyentuh jok motor, sensasi dingin yang menyengat langsung menembus
celananya—seperti menduduki lempengan es yang diambil dari liang lahat. Motor
itu tidak menderu seperti biasanya; mesinnya hanya mengeluarkan suara rintihan
halus yang lebih mirip isak tangis daripada putaran piston.
Pak Dullah tidak menoleh. Ia langsung memacu motornya menembus
kegelapan.
Angin malam yang menerjang wajah Bayu terasa berbeda. Bukan lagi
angin pegunungan yang segar, melainkan hawa lembap yang membawa aroma tanah
kuburan dan kemenyan yang terbakar. Bayu mencoba memegang pundak Pak Dullah
untuk menjaga keseimbangan, namun tangannya segera ditarik kembali. Pundak itu
terasa keras dan kaku, seperti memegang bongkahan batu nisan yang sudah
berlumut.
Di sepanjang jalan setapak menuju jantung Kampung Tua, pepohonan di kiri dan kanan seolah membungkuk, ranting-rantingnya yang kering tampak seperti jemari kurus yang berusaha menggapai tubuh Bayu. Bayu memejamkan mata rapat-rapat, merapalkan doa yang berantakan di dalam kepalanya. (Bersambung.....)


Posting Komentar
0Komentar