Malam Purnama di Kampung Tua (II)

Media Barak Time.com
By -
0


 

Penulis : Wai Nasution


"I-iii... ya... Pak," lidah Bayu kelu, suaranya pecah menjadi serpihan kecil yang tersangkut di tenggorokan.


Dingin yang tidak wajar mulai menjalar dari telapak kakinya. Bayu tahu ada yang salah. Pak Dullah yang biasanya hangat kini berdiri sekaku nisan kayu. Sepasang matanya bukan lagi jendela jiwa; mata itu hanyalah dua lubang gelap yang tak bermuara, kosong dan menghisap, seolah-olah semua kehidupan di dalamnya telah lama menguap dan digantikan oleh kehampaan yang purba.


 "Malam apa ini?" pikirnya, mencoba meraba ingatan di tengah kabut ketakutan yang kian menebal.


Sesaat kemudian, jantungnya seakan berhenti berdetak. Darahnya mendidih lalu membeku seketika. Malam Jumat Kliwon. Bayu tersadar bahwa di jam seperti ini, batas antara dunia manusia dan jagat lelembut menipis seperti kain kafan yang rapuh. Bulu kuduknya meremang hebat, seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk pori-porinya, memberi tanda bahwa ia tidak lagi sendirian di sana—sesuatu yang "lain" mulai keluar dari persembunyiannya.

 

"Mari, Bapak antar sampai ke dalam," tawar Pak Dullah. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa intonasi.


Biasanya, ini adalah kalimat yang melegakan bagi Bayu. Selama berminggu-minggu melakukan riset tentang misteri Kampung Tua untuk medianya, motor tua Pak Dullah adalah satu-satunya akses yang ia percayai. Namun malam ini, tawaran itu terasa seperti sebuah jebakan. Bayu menatap jok belakang motor Pak Dullah yang terlihat begitu hitam dan dingin, seolah siapa pun yang naik ke sana tidak akan pernah benar-benar sampai ke tujuan.

 

"I—iya, Pak. Tolong, ya," bisik Bayu, nyaris tak terdengar.


Ia melangkah mendekat dengan sisa keberanian yang tercecer. Saat pantatnya menyentuh jok motor, sensasi dingin yang menyengat langsung menembus celananya—seperti menduduki lempengan es yang diambil dari liang lahat. Motor itu tidak menderu seperti biasanya; mesinnya hanya mengeluarkan suara rintihan halus yang lebih mirip isak tangis daripada putaran piston.


Pak Dullah tidak menoleh. Ia langsung memacu motornya menembus kegelapan.

Angin malam yang menerjang wajah Bayu terasa berbeda. Bukan lagi angin pegunungan yang segar, melainkan hawa lembap yang membawa aroma tanah kuburan dan kemenyan yang terbakar. Bayu mencoba memegang pundak Pak Dullah untuk menjaga keseimbangan, namun tangannya segera ditarik kembali. Pundak itu terasa keras dan kaku, seperti memegang bongkahan batu nisan yang sudah berlumut.


Di sepanjang jalan setapak menuju jantung Kampung Tua, pepohonan di kiri dan kanan seolah membungkuk, ranting-rantingnya yang kering tampak seperti jemari kurus yang berusaha menggapai tubuh Bayu. Bayu memejamkan mata rapat-rapat, merapalkan doa yang berantakan di dalam kepalanya. (Bersambung.....)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)