Secercah kilat meretakkan gulita langit malam. Sementara rintik-rintik hujan bagai ribuan jarum menyusupi kulit bumi, malam kian merambat naik. Sudah lewat tengah malam. Hawa dini hari kian menggigilkan kulit lenganku yang terbuka. Aku bersedekap mengusir dingin. Rasanya ingin berlama-lama menghayati irama rinai hujan dini hari ini. Menyesapi aroma petrikor menyelusup ke relung-relung indera penciuman. Meninggalkan rasa nostalgia pada sesuatu yang tak terucap.
"Maafkan Bia, Ibu," gadis mungil itu tersengal tertahan, "tugas kemarin belum selesai," lanjutnya diantara sedan napas tertahan.
Bia, remaja belasan tahun itu adalah siswa yang rajin di kelasnya. Meski badannya terlihat ringkih namun menyimpan semangat yang memancar lewat binar matanya yang selalu bercahaya.
Tak pernah terlihat lesu. Selalu giat dalam kegiatan di sekolah. Bahkan Bia mengikuti ekskul karate. Olahraga yang jauh berlawanan dengan tampilan fisiknya.
Bahkan saat terbaring sakit setelah divonis menderita kanker darah, Bia masih mengingat tugas sekolahnya.
Hari itu siswa di kelasku menjenguk Bia. Aku turut hadir selaku wali kelasnya. Bia masih menyambut dengan senyum di matanya yang selalu bersahabat.
Selalu menjadi yang pertama mengumpulkan tugas, dan selalu mengingatkan teman-temannya agar bersegera. Sebab Bia yang selalu mengantarkan tugas-tugas itu ke meja guru.
Sudah berbulan Bia terbaring sakit. Bahkan saat sakit pun, Bia merasa bersalah sebab tak dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktu.
Memasuki semester kedua di kelas sebelas, pandemi melanda negeri ini. Lama belajar secara daring, tak ada yang tahu jika selama itu Bia tengah berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Hingga ketika daring 50% berlaku, Bia tak kunjung datang. Hanya surat dari orang tuanya yang menyatakan Bia tak dapat meninggalkan ranjang karena sakit yang dideritanya
***
Hujan bukan lagi berupa rintik-rintik pada dini hari ini. Namun bagai tercurah dari perut langit yang terbelah oleh kilatan halilintar.
Aku masih menggenggam gadget di tanganku. Cahaya lampu gadget itu kian redup saat mataku masih nanar membaca kabar dari orang tua Bia.
Siswa yang penuh semangat itu telah berpulang. Ia tak menyerah. Namun Tuhan lebih rindu ingin mendekapnya.
Selamat jalan Bia.
Damailah di sisi Tuhanmu.
Dan hujan kian menderas hingga pagi. Seolah langit turut menangisi kepergian Bia untuk selamanya.


Posting Komentar
0Komentar