Bismillah.......Mantra Istriku

Media Barak Time.com
By -
0

 



 Oleh : Rosmaini

 

Fikri mengetukkan bolpoint di tangannya ke ujung meja. Suara ujung bolpoint beradu dengan meja terdengar cukup keras hingga manarik perhatian Bang Salman yang duduk bersebelahan dengannya.


“Ada apa, Fik,” tanya Bang Salman. Fikri menoleh dengan agak terkejut. Dia tak menyangka Bang Salman masih berada di kantor. Gara-gara hanyut dalam pikiran sendiri dia tak sadar dengan sekeliling.


“Gak pa-pa, Bang. Bolpoint sekarang sering macet,” jawabnya sekenanya untuk menghindari tatapan Bang Salman. Di sekolah ini Bang Salman sudah dianggapnya sebagai saudara. Setiap ada masalah dia selalu bertukar pikiran dengan Bang Salman. Tetapi saat ini dia tak ingin Bang Salman tahu permasalahan yang dihadapinya. Tepatnya belum ingin bercerita.


Bang Salman hanya tersenyum menanggapi kata-kata Fikri  tadi. Setelah megucapkan salam, beliau pamit untuk masuk ke dalam kelas. Sekarang tinggal Fikri sendiri di kantor guru. Jam mengajarnya sedang kosong. Jadi sekarang dia punya cukup waktu untuk merenungi masalah yang sedang dihadapinya.


Bulan Rabiul Awal yang lalu, Fikri baru saja menyempurnakan sebagian agamanya dengan menyunting Faradila Umar, seorang ukhti sahabat Mbak Nining, istri Bang Salman. Selama dua bulan memadu kasih dalam mahligai pernikahan, Fikri mulai mengenal segala sifat istrinya lahir batin. Fikri bersyukur karena Fara seorang wanita salihah yang benar-benar dambaan hatinya. Tetapi ada hal yang mengganggu kebahagiaannya. Dan dia khawatir telah menikahi gadis yang salah.


“Tolong ambilkan kitab di atas meja kerja, sayang,” ujar Fikri ketika Fara menyelesaikan qira’ah Al Qur’an-nya. Fara meletakkan Al Qur’an yang baru dibacanya. Mulutnya berkomat-kamit menggumamkan sesuatu. Mengambil kitab yang diminta Fikri. Berkomat-kamit lagi. Lalu berjalan ke arah suaminya dan sebelum menyerahkan kitab itu berkomat-kamit lagi.

“Kitab yang ini, sayang?” tanya Fara sambil menyodorkan kitab di tangannya.


“Hm, ya,” jawab Fikri dengan masygul. Ini untuk kesekian kali dia mengamati kebiasaan Fara. Setiap akan melakukan apa saja selalu mulutnya berkomat-kamit tak jelas. Ketika menyediakan makanan, meletakkan hidangan di meja, masuk ke kamar tidur, pokoknya setiap melakukan pergerakan. Saat mengerjakan pekerjaan di rumah ataupun berbicara, pasti Fara berkomat-kamit tak jelas. Bahkan ketika dia akan mendekati Fara di tempat tidur pun dia melihat bibir istrinya itu berkomat-kamit.


Mulanya Fikri mengira istrinya sedang bersungut-sungut dengan tugas-tugasnya di rumah. Tetapi mimik wajah Fara tetap jernih dan teduh. Tak ada indikasi kalau Fara sedang kesal atau jenuh. Hanya saja Fikri tak habis pikir mengapa Fara selalu berkomat-kamit tak jelas. Hingga suatu kali timbul sangkaan dalam hatinya. Jangan-jangan Fara sedang melafalkan mantra-mantra. Siapa tahu Fara tergolong orang yang percaya dengan takhyul.


            “Kamu jangan su’udzan. Siapa tahu itu hanya perkiraan kamu saja. Lagipula apa kamu pernah melihat istrimu melakukan ritual yang aneh-aneh,” kata Mbak Dina waktu Fikri menceitakan hal itu lewat telepon. Iseng-iseng dia mengadukan masalahnya pada kakaknya semata wayang.


            “Melakukaan hal-hal aneh, sih, tidak, Mbak. Tapi kalau selalu komat-kamit nggak jelas gitu apa juga tidak aneh,” Fikri balas bertanya.

            “Kenapa tidak kamu tanyakan langsung pada Fara?” saran Mbak Dina.


Bertanya pada Fara? Itu hampir dilakukannya. Tetapi dia takut menyinggung perasaan isrinya itu. Sebenarnya dia juga ingin menceritakan hal itu pada Bang Salman, tetapi mengingat Bang Salman yang telah memperkenalkannya dengan Fara, dia merasa tidak enak hati. Jadilah masalah itu tetap dipendamnya hingga saat ini.


Sore ini Fikri sedang leyeh-leyeh di halaman depan. Sebuah bangku panjang di bawah pohon mangga cukup memberi tempat sejuk untuk beristirahat. Udara panas siang tadi mulai redup ketika matahari bergeser ke ufuk barat. Fikri memandangi bunga-bunga mangga yang mulai bersemi di pucuk-pucuk dahan. Dilatari langit jernih dengan gumpalan-gumpalan awan, bunga-bunga mangga itu terlihat seperti ukiran di tengah kanvas biru. Fikri menoleh ketika mendengar suara sandal bergerak pelan. Fara dengan gamis putih berbunga kecil-kecil datang membawa segelas minuman dingin. Jilbab panjangnya yang berwarna merah muda berkibar ditiup angin sore. Minuman dingin itu diletakkan Fara di meja rendah dekat suaminya yang sedang tiduran menikmati udara sejuk sore itu. Seperti biasa bibirnya berkomat-kamit lagi.


“Silakan diminum, sayang,” ujarnya lembut.

Bersambung............

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)