Malam Purnama di Kampung Tua (IV)

Media Barak Time.com
By -
0


 

Karya : Wai Nasution


Angin malam berembus membawa aroma aneh—perpaduan antara tanah basah, melati busuk, dan sesuatu yang amis. Tak ada suara jangkrik, tak ada gonggongan anjing. Kesunyian di sini terlalu padat, sampai-sampai suara detak jantungku sendiri terdengar seperti palu yang menghantam dada.


“Gila..!, kampung apa sebenarnya ini. Padahal kemaren saat pertama datang, sikap orang kampung begitu hangat dan ramah. Kenapa saat akan diadakannya ritual di malam purnama, keadaanya terbalik alias mencekam” goda hatinya bingung.


Tiba-tiba, di ujung lorong yang gelap, bayangan panjang merayap di dinding bambu. Itu bukan bayangan pohon. Bayangan itu bergerak patah-patah, mengikuti irama malam yang kelam. Lalu, dari balik pintu rumah yang sedikit terbuka, terdengar suara bisikan parau yang menyebut nama Bayu dengan sapaan yang hanya diketahui oleh orang yang sudah lama mati.


Merasa penasaran, dengan sedikit keberanian, Bayu mencoba mendeati rumah yang isinya warga kampung yang tengah musawarah terkait ritual yang akan mereka lakukan.


Namun Langkah Bayu terhenti tepat di depan sebuah gerbang kayu yang sudah lapuk. Bisikan itu tidak lagi terdengar seperti angin, melainkan napas berat yang terasa panas di tengkukmu.

“Pulang... atau menetap selamanya...”


Bayu memberanikan diri menoleh. Di bawah bayangan atap rumah panggung yang tinggi, sesosok figur berdiri kaku. Ia mengenakan kain kafan yang sudah berwarna tanah, compang-camping, dan basah kuyup. Wajahnya tertutup rambut panjang yang legam, namun di sela-selanya, sepasang mata berwarna merah redup menatapnya dengan kebencian yang murni.

“Aduh….bukankah itu kuntilanak!


“Tapi kenapa harus  aku yang menjadi penghalang dan secara nyata mengusirku dari kampung ini”


Beberapa pertanyaan menari-nari di otak Bayu memikirkan sebait kata azimat yang menusuk jantung.

Bukan itu yang membuat darah Bayu membeku. Tapi cara sosok itu bergerak. Ia tidak berjalan, melainkan melayang rendah dengan gerakan menyentak, seolah tulang-tulangnya dipaksa patah berkali-kali. Setiap kali ia mendekat, lampu minyak di teras rumah-rumah sekitar padam satu per satu, meninggalkan kegelapan total yang hanya diterangi cahaya rembulan yang semakin memucat.


Tanah di bawah kakimu terasa bergetar. Dari balik retakan tanah kampung tua itu, jemari pucat dengan kuku hitam yang panjang mulai bermunculan, mencengkeram pergelangan kaki Bayu. “Kampung ini bukan sekadar tempat tinggal yang ditinggalkan; kampung ini adalah sebuah perangkap yang baru saja tertutup rapat.” Bathin Bayu sambil membuat gerakan menyentak sekuatnya agar cengkraman kuku makhluk astral itu terlepas.


Dengan sentakan kuat itu Bayu berhasil melepaskan diri dan  tanpa berpikir panjang, Bayu berlari dan menubruk pintu rumah panggung terdekat yang sedikit terbuka.

Brak!

Pintu kayu itu tertutup rapat dengan sisa tenaga Bayu menyandarkan punggungnya ke daun pintu yang kasar, Terlihat Nafas Bayu memburu kasar dan pendek. Di luar, suasana mendadak sunyi senyap, seolah-olah sosok kuntilanak dan jemari dari tanah tadi hanyalah halusinasi. Namun, bau amis dan melati busuk itu kini terasa lebih tajam, seakan terperangkap bersamamu di dalam ruangan ini.


Dalam keadaan yang mencekam itu, Bayu menghidupkan senter ponselnya, tapi layarnya hanya berkedip-kedip lalu mati total. Dalam remang cahaya bulan yang menembus celah-celah dinding bambu, Bayu sadar bahwa rumah yang didobraknya masuk tadi adalah rumah kosong.

“Mending aku disini untuk memantau dan mengatur nafas,” bathinnya.


Karena ponselnya mati total, Bayu terduduk lesuh diruangan yang bermodalkan sinar purnama yang pasih. Untuk menghilangkan rasa takutnya, Bayu mengeluarkan rokok dari saku jaketnya dan menyulutnya. (bersambung....)

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)