Karya : Wai Nasution
Angin malam berembus membawa aroma aneh—perpaduan antara tanah
basah, melati busuk, dan sesuatu yang amis. Tak ada suara jangkrik, tak ada
gonggongan anjing. Kesunyian di sini terlalu padat, sampai-sampai suara detak
jantungku sendiri terdengar seperti palu yang menghantam dada.
“Gila..!, kampung apa sebenarnya ini. Padahal kemaren saat
pertama datang, sikap orang kampung begitu hangat dan ramah. Kenapa saat akan
diadakannya ritual di malam purnama, keadaanya terbalik alias mencekam” goda
hatinya bingung.
Tiba-tiba, di ujung lorong yang gelap, bayangan panjang merayap
di dinding bambu. Itu bukan bayangan pohon. Bayangan itu bergerak patah-patah,
mengikuti irama malam yang kelam. Lalu, dari balik pintu rumah yang sedikit
terbuka, terdengar suara bisikan parau yang menyebut nama Bayu dengan sapaan
yang hanya diketahui oleh orang yang sudah lama mati.
Merasa penasaran, dengan sedikit keberanian, Bayu mencoba
mendeati rumah yang isinya warga kampung yang tengah musawarah terkait ritual
yang akan mereka lakukan.
Namun Langkah Bayu terhenti tepat di depan sebuah gerbang kayu
yang sudah lapuk. Bisikan itu tidak lagi terdengar seperti angin, melainkan
napas berat yang terasa panas di tengkukmu.
“Pulang... atau menetap selamanya...”
Bayu memberanikan diri menoleh. Di bawah bayangan atap rumah
panggung yang tinggi, sesosok figur berdiri kaku. Ia mengenakan kain kafan yang
sudah berwarna tanah, compang-camping, dan basah kuyup. Wajahnya tertutup
rambut panjang yang legam, namun di sela-selanya, sepasang mata berwarna merah
redup menatapnya dengan kebencian yang murni.
“Aduh….bukankah itu kuntilanak!
“Tapi kenapa harus aku
yang menjadi penghalang dan secara nyata mengusirku dari kampung ini”
Beberapa pertanyaan menari-nari di otak Bayu memikirkan sebait
kata azimat yang menusuk jantung.
Bukan itu yang membuat darah Bayu membeku. Tapi cara sosok itu
bergerak. Ia tidak berjalan, melainkan melayang rendah dengan gerakan
menyentak, seolah tulang-tulangnya dipaksa patah berkali-kali. Setiap kali ia
mendekat, lampu minyak di teras rumah-rumah sekitar padam satu per satu,
meninggalkan kegelapan total yang hanya diterangi cahaya rembulan yang semakin
memucat.
Tanah di bawah kakimu terasa bergetar. Dari balik retakan tanah
kampung tua itu, jemari pucat dengan kuku hitam yang panjang mulai bermunculan,
mencengkeram pergelangan kaki Bayu. “Kampung ini bukan sekadar tempat tinggal
yang ditinggalkan; kampung ini adalah sebuah perangkap yang baru saja tertutup
rapat.” Bathin Bayu sambil membuat gerakan menyentak sekuatnya agar cengkraman
kuku makhluk astral itu terlepas.
Dengan sentakan kuat itu Bayu berhasil melepaskan diri dan tanpa berpikir panjang, Bayu berlari dan menubruk
pintu rumah panggung terdekat yang sedikit terbuka.
Brak!
Pintu kayu itu tertutup rapat dengan sisa tenaga Bayu menyandarkan
punggungnya ke daun pintu yang kasar, Terlihat Nafas Bayu memburu kasar dan
pendek. Di luar, suasana mendadak sunyi senyap, seolah-olah sosok kuntilanak dan
jemari dari tanah tadi hanyalah halusinasi. Namun, bau amis dan melati busuk
itu kini terasa lebih tajam, seakan terperangkap bersamamu di dalam ruangan ini.
Dalam keadaan yang mencekam itu, Bayu menghidupkan senter
ponselnya, tapi layarnya hanya berkedip-kedip lalu mati total. Dalam remang
cahaya bulan yang menembus celah-celah dinding bambu, Bayu sadar bahwa rumah
yang didobraknya masuk tadi adalah rumah kosong.
“Mending aku disini untuk memantau dan mengatur nafas,”
bathinnya.
Karena ponselnya mati total, Bayu terduduk lesuh diruangan yang
bermodalkan sinar purnama yang pasih. Untuk menghilangkan rasa takutnya, Bayu
mengeluarkan rokok dari saku jaketnya dan menyulutnya. (bersambung....)


Posting Komentar
0Komentar