SEBUAH KELUHAN DAN SURAT TERBUKA TERKAIT SISTEM UKT

Media Barak Time.com
By -
0

 



Kami keluarga PNS seolah-olah terjebak di tengah, tidak termasuk ke dalam golongan yang berhak dibantu, tapi juga tidak memiliki kapasitas ekonomi yang kuat. Pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi jalan meningkatkan kualitas hidup, justru menjadi beban yang memperdalam kesulitan ekonomi. Anak-anak dari keluarga PNS tidak meminta perlakuan istimewa, kami hanya menginginkan sistem yang lebih mampu melihat kenyataan di balik angka-angka administratif.


Penentuan nilai UKT seharusnya tidak hanya berdasarkan pekerjaan orangtua, tapi juga mempertimbangkan penghasilan bersih, jumlah tanggungan dan kondisi geografis. PNS di daerah terpencil dengan tunjangan terbatas tentu tidak bisa disamakan dengan PNS kota besar yang bahkan TPP-nya melebihi Ditjen Pajak.


Persoalan UKT ini belum berhenti pada angka yang harus di bayarkan setiap semester. Ada berlapis masalah lain yang sering kali luput dari perhatian. Seperti kami yang tinggal di pulau ini misalnya, perjuangan menyekolahkan anak ke perguruan tinggi tidak hanya soal biaya pendidikan, tapi juga biaya hidup di perantauan. Banyak PNS ditempatkan jauh dari pusat kota atau bahkan antar pulau. Ketika anak diterima di perguruan tinggi yang umumnya berada di kota besar, maka muncul permasalahan baru yang lebih berat: Tempat tinggal sementara yang menjadi kebutuhan wajib. Biaya ini kadang melebihi UKT itu sendiri. Di sinilah beban itu terasa berlipat.

Demikian.


Kalau ada yang salah, silakan dikoreksi, atau ada pembaruan informasi yang belum saya ketahui, silakan ditambahkan.

 

Pulau Sabang, Aceh, 8 April 2026,

Ismi Marnizar,

Ibu Rumah Tangga, Istri seorang PNS Daerah.

Di kutip dari akun FB Ismi Mamizar

 

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)