Karya : Wai Nasution
Melihat kode itu,
Indra hanya bisa mengangguk kaku, sementara Rudi masih mematung, belum berani
menoleh untuk memastikan siapa pemilik suara yang telah mengacaukan frekuensi
jantungnya itu.
"Ada apa, Ndra?
Wajahmu mendadak pucat seperti melihat hantu," tegur Rudi heran. Ia lalu
memutar tubuhnya perlahan.
Begitu mata mereka
beradu, sebuah sengatan listrik seolah menjalar di saraf Rudi. Ia
terpaku. Apakah aku salah lihat? Yanti yang dulu cungkring dan biasa
saja, kini menjelma menjadi gadis yang luar biasa. Indra tidak bohong... dia
benar-benar cantik, batin Rudi, takjub.
"Boleh... saya
bergabung?" tanya Yanti sekali lagi, membuyarkan lamunan Rudi.
"Eh... ya,
silakan. Duduklah," jawab Rudi agak terbata.
"Kenapa bengong
begitu, Rud?" goda Yanti, berusaha tampak tenang.
Padahal, di balik
sikap tenangnya, hati Yanti bersorak riuh. Pria di depannya ini adalah sosok
yang sangat ia sukai sejak sekolah dulu, meski jahilnya bukan main.
"Siapa yang
bengong? Aku cuma sedang memastikan... ini benar Yanti, kan?"
"Masak kau lupa
padaku?" Yanti tersenyum simpul.
Rudi berdeham, lalu
memberikan kode rahasia melalui tatapan mata kepada Indra agar segera
menyingkir. Indra yang paham langsung berdiri dan pindah ke kursi dekat pintu
masuk. Walah, Bang... Bang. Lihat perempuan cantik saja, garangmu
langsung luntur. Jauh sekali dibanding saat berhadapan dengan penjahat, batin
Indra sambil menahan tawa.
"Aku Yanti, Rud.
Orang yang sering sekali kau jahili dulu," Yanti membuka percakapan
setelah suasana sedikit lengang.
"Oh... iya, Yanti
yang itu, ya?" Rudi mendadak salah tingkah.
"Iya, Si
Cungkring yang hampir setiap hari kau buat menangis," tambah Yanti dengan
tawa kecil yang merdu.
Melihat senyuman itu,
pertahanan Rudi runtuh. Jantungnya berulah lagi. Gila! Ada apa
denganku? Kenapa rasanya seperti ini? Apakah ini yang mereka bilang jatuh
cinta?
"Ah, itu kan
dulu, Yan. Entah kenapa, dulu melihatmu saja membuat tanganku gatal ingin menjahili,"
kilah Rudi, mencoba menetralisir suasana.
"Iya, tapi
sakitnya di sini," sahut Yanti sambil menunjuk dadanya dengan tatapan
jenaka namun bermakna dalam.
Rudi tertawa kecil,
mencoba bersikap santai. "Masak, sih? Aku kok tidak tahu kalau sesakit itu."
"Bahkan sampai
sekarang sakitnya tidak hilang, Rud. Aku tidak bisa melupakan setiap hal yang
kau lakukan padaku saat itu."
Rudi menatap Yanti
dalam-dalam. "Habisnya, dulu kamu imut sekali."
"Imut
udelmu!" Yanti tertawa lepas.
Tawa itu terasa begitu
renyah di telinga Rudi. Tuhan, senyum dan tawanya bisa membuat
jantungku berhenti berdetak, batinnya penuh kekaguman.
"Eh, sebelum kita
bicara melantur lebih jauh, kamu mau minum apa, Yan?" tawar Rudi, berusaha
menutupi kegugupannya yang kian menjadi.
"Jus tomat saja,
Rud," ujar Yanti singkat.
Bersambung................


Posting Komentar
0Komentar