Muara Penantian Sang Detektif (III)

Media Barak Time.com
By -
0


 

Karya : Wai Nasution


Melihat kode itu, Indra hanya bisa mengangguk kaku, sementara Rudi masih mematung, belum berani menoleh untuk memastikan siapa pemilik suara yang telah mengacaukan frekuensi jantungnya itu.


"Ada apa, Ndra? Wajahmu mendadak pucat seperti melihat hantu," tegur Rudi heran. Ia lalu memutar tubuhnya perlahan.


Begitu mata mereka beradu, sebuah sengatan listrik seolah menjalar di saraf Rudi. Ia terpaku. Apakah aku salah lihat? Yanti yang dulu cungkring dan biasa saja, kini menjelma menjadi gadis yang luar biasa. Indra tidak bohong... dia benar-benar cantik, batin Rudi, takjub.


"Boleh... saya bergabung?" tanya Yanti sekali lagi, membuyarkan lamunan Rudi.

"Eh... ya, silakan. Duduklah," jawab Rudi agak terbata.

"Kenapa bengong begitu, Rud?" goda Yanti, berusaha tampak tenang.


Padahal, di balik sikap tenangnya, hati Yanti bersorak riuh. Pria di depannya ini adalah sosok yang sangat ia sukai sejak sekolah dulu, meski jahilnya bukan main.

"Siapa yang bengong? Aku cuma sedang memastikan... ini benar Yanti, kan?"

"Masak kau lupa padaku?" Yanti tersenyum simpul.


Rudi berdeham, lalu memberikan kode rahasia melalui tatapan mata kepada Indra agar segera menyingkir. Indra yang paham langsung berdiri dan pindah ke kursi dekat pintu masuk. Walah, Bang... Bang. Lihat perempuan cantik saja, garangmu langsung luntur. Jauh sekali dibanding saat berhadapan dengan penjahat, batin Indra sambil menahan tawa.


"Aku Yanti, Rud. Orang yang sering sekali kau jahili dulu," Yanti membuka percakapan setelah suasana sedikit lengang.

"Oh... iya, Yanti yang itu, ya?" Rudi mendadak salah tingkah.

"Iya, Si Cungkring yang hampir setiap hari kau buat menangis," tambah Yanti dengan tawa kecil yang merdu.


Melihat senyuman itu, pertahanan Rudi runtuh. Jantungnya berulah lagi. Gila! Ada apa denganku? Kenapa rasanya seperti ini? Apakah ini yang mereka bilang jatuh cinta?

"Ah, itu kan dulu, Yan. Entah kenapa, dulu melihatmu saja membuat tanganku gatal ingin menjahili," kilah Rudi, mencoba menetralisir suasana.


"Iya, tapi sakitnya di sini," sahut Yanti sambil menunjuk dadanya dengan tatapan jenaka namun bermakna dalam.

Rudi tertawa kecil, mencoba bersikap santai. "Masak, sih? Aku kok tidak tahu kalau sesakit itu."

"Bahkan sampai sekarang sakitnya tidak hilang, Rud. Aku tidak bisa melupakan setiap hal yang kau lakukan padaku saat itu."


Rudi menatap Yanti dalam-dalam. "Habisnya, dulu kamu imut sekali."

"Imut udelmu!" Yanti tertawa lepas.

Tawa itu terasa begitu renyah di telinga Rudi. Tuhan, senyum dan tawanya bisa membuat jantungku berhenti berdetak, batinnya penuh kekaguman.


"Eh, sebelum kita bicara melantur lebih jauh, kamu mau minum apa, Yan?" tawar Rudi, berusaha menutupi kegugupannya yang kian menjadi.

"Jus tomat saja, Rud," ujar Yanti singkat.

Bersambung................

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)