Bagi sebagian orang,
menyusuri makam-makam tua mungkin terasa sia-sia—sebuah perjalanan tanpa tujuan
di antara nisan yang membisu. Namun bagi kami, setiap nisan adalah sebuah buku
yang menunggu untuk dibaca. "Biarkan saja orang bicara apa," bisik
saya pada tim saat kaki kami mulai menapaki jalanan menuju Dusun Parsorean,
"yang penting, ada sejarah yang tak boleh mati, ada cerita yang harus
sampai ke telinga dunia.
Tujuan kami kali ini
adalah sebuah titik kecil di peta Desa Mandalasena, Silangkitang: peristirahatan
terakhir seorang ulama legendaris, Tuan Syech Muhammad Nur Hasibuan.
Musafir yang Menemukan
Rumah di Pinggir Sungai
Tuan Syech bukanlah
putra asli tanah Labuhanbatu Selatan. Beliau adalah seorang musafir tangguh
yang datang dari jauh, dari tanah Dalu-Dalu, Rokan Hulu. Sekitar tahun 1840-an,
setelah melanglang buana membawa cahaya Islam, langkah kakinya terhenti di
Parsorean—sebuah kampung yang baru saja dibuka oleh Malim Malelo Siregar.
Pertemuan dua tokoh
ini bak takdir yang sudah digariskan langit. Memiliki visi yang sama untuk
membumikan syiar Islam, mereka bahu-membahu membangun persulukan. Parsorean
yang tadinya sunyi di pinggir sungai, perlahan berubah menjadi magnet bagi para
pencari ilmu. Di sanalah, Sang Syech menanamkan nilai-nilai agama, mengumpulkan
masyarakat dalam satu naungan zikir yang teduh.
Melampaui Logika:
Karomah dari Balik Kelambu
Nama Syech Muhammad
Nur Hasibuan tidak hanya diingat karena dakwahnya, tapi juga karena deretan
kisah ajaib yang melampaui nalar manusia. Karomah beliau diceritakan
turun-temurun oleh para sesepuh seperti KH. Sobar Siregar dan Mahyudin Sitorus.
Konon, saat Perang
Aceh berkecamuk melawan Belanda, Sang Syech melakukan "perlawanan"
dengan caranya sendiri. Meski raganya tetap berada di dalam kelambu zikir di
Parsorean, kekuatan makrifatnya dipercaya mampu menjangkau medan perang. Beliau
dikisahkan mampu membungkam moncong meriam Belanda hingga tak sanggup meledak
hanya melalui kekuatan zikirullah. Tak hanya itu, kisah beliau yang kerap
terlihat berada di Mekkah saat musim haji—tanpa pernah menaiki kapal
laut—menjadi buah bibir yang menegaskan derajat kewaliannya di mata masyarakat.
Misteri Gundukan Semut
dan Aura yang Memeluk
Saat saya dan rekan
saya, Iqra Harahap, memasuki pondok kayu tempat beliau dimakamkan, ada sebuah
aura hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam tubuh. Bukan rasa takut, melainkan
sebuah getaran mistis yang membuat bulu kuduk meremang sekaligus membawa rasa
hormat yang mendalam.
Kesan itu kian
mengental saat kami menyingkap kelambu yang menaungi makam beliau. Pemandangan
di baliknya sungguh di luar dugaan: nisan Sang Syech tidak tertancap di atas
tanah datar, melainkan tersandar pada sebuah gundukan sarang semut raksasa yang
membumbung tinggi.
Ada rasa miris yang
menyelinap di hati melihat kondisi ini. Namun, warga setempat punya alasan
sendiri. Mereka tak ada yang berani menyentuh apalagi meratakan gundukan semut
tersebut. Ada rasa segan yang besar, bercampur ketakutan akan
"sesuatu" yang tak diinginkan jika mereka mengusik rumah semut yang telah
bertahun-tahun menjaga jasad sang ulama.
Harapan untuk Sang
Ulama yang Tak Berketurunan
Meski tampak
"liar" dan kurang terawat, makam ini tak pernah sepi. Banyak peziarah
datang dari jauh untuk membayar nazar atau sekadar memanjatkan doa di ujung Silangkitang
ini. Herman Siregar, salah satu warga, bertutur bahwa banyak hajat yang
terkabul melalui wasilah doa di tempat ini.
Syech Muhammad Nur
Hasibuan berpulang tanpa meninggalkan keturunan darah. Artinya,
kitalah—masyarakat dan para penikmat sejarah—yang kini menjadi
"anak-cucunya" yang wajib menjaga warisan ini. Kami dari tim KJ-SWIB
sempat bermimpi untuk merenovasi makam ini agar lebih layak tanpa menghilangkan
kesakralannya, meski hingga kini impian itu masih menunggu tangan-tangan baik untuk
bergerak bersama.
Semoga ke depannya,
makam sang "Penakluk Meriam Belanda" ini tak lagi dibiarkan sunyi dan
merana. Sebab menghargai makam para ulama bukan sekadar merawat bangunan, tapi
menjaga marwah sejarah yang telah membentuk jati diri kita hari ini.
(Jejak Perjalanan tim
KJSWIB pada tanggal 14 Nopember 2021)


Posting Komentar
0Komentar