Menjemput Jejak Sunyi Sang Penakluk Meriam: Ziarah ke Makam Tuan Syech Muhammad Nur Hasibuan

Media Barak Time.com
By -
0

 



 Oleh : Ades Iskandar Nasution


Bagi sebagian orang, menyusuri makam-makam tua mungkin terasa sia-sia—sebuah perjalanan tanpa tujuan di antara nisan yang membisu. Namun bagi kami, setiap nisan adalah sebuah buku yang menunggu untuk dibaca. "Biarkan saja orang bicara apa," bisik saya pada tim saat kaki kami mulai menapaki jalanan menuju Dusun Parsorean, "yang penting, ada sejarah yang tak boleh mati, ada cerita yang harus sampai ke telinga dunia.

 

Tujuan kami kali ini adalah sebuah titik kecil di peta Desa Mandalasena, Silangkitang: peristirahatan terakhir seorang ulama legendaris, Tuan Syech Muhammad Nur Hasibuan.

 

Musafir yang Menemukan Rumah di Pinggir Sungai

Tuan Syech bukanlah putra asli tanah Labuhanbatu Selatan. Beliau adalah seorang musafir tangguh yang datang dari jauh, dari tanah Dalu-Dalu, Rokan Hulu. Sekitar tahun 1840-an, setelah melanglang buana membawa cahaya Islam, langkah kakinya terhenti di Parsorean—sebuah kampung yang baru saja dibuka oleh Malim Malelo Siregar.

 

Pertemuan dua tokoh ini bak takdir yang sudah digariskan langit. Memiliki visi yang sama untuk membumikan syiar Islam, mereka bahu-membahu membangun persulukan. Parsorean yang tadinya sunyi di pinggir sungai, perlahan berubah menjadi magnet bagi para pencari ilmu. Di sanalah, Sang Syech menanamkan nilai-nilai agama, mengumpulkan masyarakat dalam satu naungan zikir yang teduh.

 

Melampaui Logika: Karomah dari Balik Kelambu

Nama Syech Muhammad Nur Hasibuan tidak hanya diingat karena dakwahnya, tapi juga karena deretan kisah ajaib yang melampaui nalar manusia. Karomah beliau diceritakan turun-temurun oleh para sesepuh seperti KH. Sobar Siregar dan Mahyudin Sitorus.

 

Konon, saat Perang Aceh berkecamuk melawan Belanda, Sang Syech melakukan "perlawanan" dengan caranya sendiri. Meski raganya tetap berada di dalam kelambu zikir di Parsorean, kekuatan makrifatnya dipercaya mampu menjangkau medan perang. Beliau dikisahkan mampu membungkam moncong meriam Belanda hingga tak sanggup meledak hanya melalui kekuatan zikirullah. Tak hanya itu, kisah beliau yang kerap terlihat berada di Mekkah saat musim haji—tanpa pernah menaiki kapal laut—menjadi buah bibir yang menegaskan derajat kewaliannya di mata masyarakat.

 

Misteri Gundukan Semut dan Aura yang Memeluk

Saat saya dan rekan saya, Iqra Harahap, memasuki pondok kayu tempat beliau dimakamkan, ada sebuah aura hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam tubuh. Bukan rasa takut, melainkan sebuah getaran mistis yang membuat bulu kuduk meremang sekaligus membawa rasa hormat yang mendalam.

 

Kesan itu kian mengental saat kami menyingkap kelambu yang menaungi makam beliau. Pemandangan di baliknya sungguh di luar dugaan: nisan Sang Syech tidak tertancap di atas tanah datar, melainkan tersandar pada sebuah gundukan sarang semut raksasa yang membumbung tinggi.

 

Ada rasa miris yang menyelinap di hati melihat kondisi ini. Namun, warga setempat punya alasan sendiri. Mereka tak ada yang berani menyentuh apalagi meratakan gundukan semut tersebut. Ada rasa segan yang besar, bercampur ketakutan akan "sesuatu" yang tak diinginkan jika mereka mengusik rumah semut yang telah bertahun-tahun menjaga jasad sang ulama.

 

Harapan untuk Sang Ulama yang Tak Berketurunan

Meski tampak "liar" dan kurang terawat, makam ini tak pernah sepi. Banyak peziarah datang dari jauh untuk membayar nazar atau sekadar memanjatkan doa di ujung Silangkitang ini. Herman Siregar, salah satu warga, bertutur bahwa banyak hajat yang terkabul melalui wasilah doa di tempat ini.

 

Syech Muhammad Nur Hasibuan berpulang tanpa meninggalkan keturunan darah. Artinya, kitalah—masyarakat dan para penikmat sejarah—yang kini menjadi "anak-cucunya" yang wajib menjaga warisan ini. Kami dari tim KJ-SWIB sempat bermimpi untuk merenovasi makam ini agar lebih layak tanpa menghilangkan kesakralannya, meski hingga kini impian itu masih menunggu tangan-tangan baik untuk bergerak bersama.

 

Semoga ke depannya, makam sang "Penakluk Meriam Belanda" ini tak lagi dibiarkan sunyi dan merana. Sebab menghargai makam para ulama bukan sekadar merawat bangunan, tapi menjaga marwah sejarah yang telah membentuk jati diri kita hari ini.

 

(Jejak Perjalanan tim KJSWIB pada tanggal 14 Nopember 2021)

 

Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)