Oleh Ades Iskandar Nsution
Di sudut Kotapinang,
Labuhanbatu Selatan, terdapat sebuah oase spiritual yang menyimpan kisah
kegigihan seorang ulama dalam mencari rida Ilahi. Beliau adalah Syech
Khalifah Ali Nasution, sosok yang sepanjang hidupnya tak pernah merasa puas
mereguk manisnya ilmu agama. Meski telah berpulang 30 tahun silam, api
semangatnya tetap menyala di hati para jemaah.
Jejak Sang Pencari
Ilmu
Lahir di Sidonok pada 1903, perjalanan spiritual Ali Nasution dimulai sejak
remaja. Pada usia 13 tahun, ia merantau ke Temu Tua untuk berguru pada ulama
besar, Haji Ibrahim Baijuri. Bakat dan ketaatannya memikat sang guru, hingga
pada usia 22 tahun, Ali memberanikan diri melamar putri sulung gurunya, Oyong
Salmiyah. Hubungan ini pun menjadikannya bagian dari keluarga besar Mufti
Kesultanan Kotapinang.
Dahaga akan ilmu
membawanya melalang buana. Pada 1960, ia mendalami Tarekat Naqsabandiyah di
bawah bimbingan Syech Wahid di Kubu, Riau, hingga mendapat gelar Khalifah. Tak
berhenti di sana, ia melanjutkan pengembaraan rohaninya ke Langkat untuk
berguru pada Syech Daud, sebelum akhirnya kembali ke Temu Tua pada 1970 untuk
mendirikan Persulukan Al-Kholidi Naqsabandiyah.
Membangun Kembali dari
Keterbatasan
Sepeninggal Syech Khalifah Ali Nasution pada 30 Desember 1996, estafet
kepemimpinan berlanjut melalui Khalifah Haji Muhammad Yunus hingga kini
diteruskan oleh sang cucu, Khalifah Hasanuddin Nasution bersama Khalifah Haji
Ramlan Lubis.
Perjalanan persulukan
ini tidaklah selalu mulus. Sempat meredup, aktivitas zikir dan suluk kembali
dihidupkan pada 2022. "Kondisinya saat itu sangat memprihatinkan,"
kenang Khalifah Haji Ramlan Lubis. Namun, berkat kecintaan yang mendalam terhadap
warisan sang Syech, para penerus bahu-membahu membangun kembali tempat suci ini
dari nol.
Menanti Uluran Tangan
untuk Rumah Ibadah
Kini, Persulukan Temu Tua terus berkembang sebagai pusat dakwah dan ziarah bagi
mereka yang mencari berkah. Namun, situs yang bernilai sejarah tinggi ini masih
berjuang dengan fasilitas yang terbatas. Akses jalan yang sulit, kondisi rumah
suluk, hingga sarana sanitasi (kamar mandi) masih jauh dari kata layak bagi
para jemaah.
Sebagai tempat yang
pernah menjadi bagian penting dari sejarah Kesultanan Kotapinang, Persulukan
Temu Tua menaruh harapan besar. Uluran tangan dari pemerintah Kabupaten
Labuhanbatu Selatan maupun para dermawan sangat dinantikan agar tempat ini
kembali megah—menjadi sarana ibadah yang nyaman bagi mereka yang ingin
mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.


Posting Komentar
0Komentar