oleh Arby Romadona Nasution
(Mahasiswa UIN Jakarta/Wartawan Baraktime.com Jaksel)
Gerakan ini didirikan pada tahun 2018 oleh girdian muhamad, beliau mendirikan gerakan mengajar desa karena keresahannya pada saat beliau melakukan pengabdian masyarakat di desa cianjur, Ia kaget ketika saat ia mengumpulkan 15-20 ada satu orang anak datang terlambat dengan pakaian ala-ala anak geng motor dengan motor mogenya.Kemudian setelah selesai mengajar, Girdian muhammad didalam siaran 3-hour news show bercerita pada wawancaranya, dia mengajak anak itu berdiskusi kenapa ia tidak lanjut sekolah, kemudian anak itu menjawab "saya tidak sekolah karena orang tua saya sudah kaya secara ekonomi".
Dalam konteks itu Girdian langsung punya ide untuk mendirikan gerakan mengajar desa, hal ini didasari karena keresahan dari anak-anak yang tidak mampu sekolah disebabkan ketimpangan ekonomi sehingga orang tua mereka tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya.
Kita lihat sekarang kondisi negara Republik Indonesia disektor pendidikannya menganggarkan sebesar 700 triliun lebih, tapi ironisnya masih ada 125.000 sekolah ruang kelas yang rusak, masih ada gaji guru honorer yang di gaji 200.000,- perbulan dan rata-rata lama sekolah usia di Indonesia 9 tahun smp karena memakai sistem pola pendidikan dasar.
Disamping itu negara juga menganggarkan 71 triliun untuk dana desa, tapi ada 9.000 desa yang hitungannya masih tertinggal. Demikian menurut Virdian Aurellio dalam akun media sosialnya, dia mengajak para mahasiswa dan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan "GERAKAN MENGAJAR DESA" pada bulan Juni sampai Agustus,” mari sama - sama kita kembangkan pendidikan yang ada di Indonesia dengan gerakan mahasiswa Mengajar Desa , dimana para mahasiswa memutuskan untuk mengabdi dan berjuang untuk mempertahankan pendidikan yang ada di Indonesia agar lebih maju dan berkembang.
Hal ini sangat urgen demi kepentingan pendidikan masyarakat Indonesia khususnya bagi masyarakat kurang mampu. Mahasiswa sebagai agen of change harus mampu memposisikan dirinya sebagai agen perubahan dengan memberikan ide-ide kreatif dalam membangkitkan semangat belajar di tatanan masyarakat desa. Pengabdian tanpa harus pamrih menjadi landasan utama idealisme mahasiswa dalam membaktikan dirinya untuk bangsa dan Negara. Dengan demikian, mahasiswa yang notabenanya kaum intelektual dapat menjadi agen perubahan dengan segala kemampuan yang dimiliki. Manja dan tidak memiliki ide kreratif tidak mencerminkan jati diri seorang mahasiswa, lantas bagaimana kita mampu menyebutkan diri kita sebagai mahasiswa jika dalam konteks sosial kemasyarakatan tidak peduli sama sekali. Bagaimana kita dapat dikatakan sebagai agent of change, jika kita hanya taunya nongkrong di kalangan orang-orang sejenis dengan mengabaikan penderitaan sosial kemasyarakatan.
Karenanya, mahasiswa harus dapat “memantaskan diri” untuk dapat dikatakan sebagai agen perubahan di dalam tatanan berbangsa dan bernegara. Bukan hanya sebatas euphoria berlabelkan mahasiswa yang membuat kita pongah dan merasa lebih tinggi dari yang lain. Karenanya dengan Gerakan Mengajar Desa (GMD) merupakan pilar utama bagi mahasiswa untuk menunjukkan eksistensinya di tengah-tengah masyarakat .


Posting Komentar
0Komentar