By. Rosmaini
Hari
ini puncak Bukit Barisan tertutup kabut. Kehijauan puncaknya terlihat samar
karena tertutup kabut putih. Dari tingkat dua ruang kelas di SMA Negeri 2 Ratu,
aku memandangi kabut tipis itu dengan perasaan galau.
Hatiku
memang tengah gundah. Bagaimana tidak? Jam pertama aku sudah dibuat gerah oleh
rumus-rumus fisika dari Pak EP. Jam kedua, guruku memberikan quiz mendadak.
Kimia. Gurunya Ibu RT yang selalu tenang, tetapi terus terang saja tak ada yang
berani membantah beliau. Ujian mendadak yang biasanya kami sambut dengan
gerutuan, ketika berhadapan dengan Bu RT, jadi hal yang diterima dengan pasrah.
Tetapi
kegundahanku sebenarnya dimulai sejak dari rumah tadi pagi. Ketika keluar dari
kamar, aku kaget menemukan rumah sudah kosong. Jam menunjukkan pukul enam lewat
empatpuluh menit. Dua puluh menit lagi bel pertama berbunyi. Mengapa tak ada
yang membangunkanku? Kemana orang-orang serumah, ya?
“Ma…,
mama…!” aku mengetuk pintu kamar mama untuk membangunkannya. Tak ada jawaban.
Aku
langsung ke kamar mandi. Tanpa sempat menggosok badan, aku menyikat gigi dan
menyeka tubuh seperlunya. Biarin jorok, daripada terlambat dan diomeli Pak
Mukri, satpam sekolah yang terkenal killer. Cepat-cepat aku berpakaian dan
menyambar tas di atas meja belajar. Buku-buku kususun seadanya dan memastikan
tak ada yang tertinggal. Melewati kamar mama, aku lagi-lagi heran. Pintu kamar
mama masih terkunci rapat. Dentang jam dinding menunjukkan pukul tujuh tepat
membuatku tak sempat berpikir panjang. Melewati pintu depan yang terasa lebih
ringan dari biasanya aku langsung menyetop becak. Sompret, si abang becak malah
cuek aja. Berlari kecil aku mengejar becak yang seolah tak mampeduikanku. Aku
melompat naik.
“Ratu
2, Bang,” kataku pada tukang becak yang tetap cuek.
Becak
melaju santai. Berkali-kali aku melotot pada tukang becak, tapi dia tetap cuek
seolah menganggapku tak ada.
“Becak,”
panggil seorang ibu.
Herannya
becak menepi dan si ibu yang bertubuh subur naik hingga aku hampir terjepit.
Cepat-cepat aku melompat turun sambil menggerutu. Memangnya angkot. Becak sudah
ada penumpangnya kok di stop. Mana becaknya mau lagi. Memangnya tak ada becak
lain. Aku ngedumel panjang-pendek. Akhirnya aku berjalan ke sekolah yang memang
tidak terlalu jauh. Beberapa teman yang kutemui terlihat murung dan berbicara
sesekali dengan suara pelan. Tak ada yang bercanda dan meledekku seperti biasa.
“Rrrrrrrrrrrrrrmmm”
sebuah sepeda motor bersuara sembret melintas meninggalkan debu jalan. Sepeda
motor itu berbelok ke halaman sekolah. Aku tahu pemiliknya adalah Ray, cowok
terpopuler di sekolah.
Akhirnya
sampai juga aku di depan gerbang. Pak Mukri berdiri di depan pos. aku
melewatinya sambil menunduk. Dia paling sering menegurku karena aku suka
melinting lengan bajuku. Tapi kali ini beliau tak mempedulikan aku. Mungkin dia
bosan menegurku terus, pikirku.
Dan
mulailah hari yang membosankan. Sepanjang ujian yang kian tegang dengan
kediaman teman-temanku. Juga ketidakpedulian Bu RT ketika dia memergoki aku
menyontek pada Ray. Bahkan cowok itu tetap tenang walau Bu RT berada tepat di
depannya ketika aku melongok kertas jawabannya. Juwita yang duduk di sebelahku
tak mau menjawab ketika aku bertanya soal ujian fisika dari Pak EP. Lalu Keke
malah menangis waktu menoleh ke tempat aku duduk. Dasar aneh, pikirku.
Bel
istirahat berbunyi nyaring. Dengan pasrah aku menyerahkan hasil ujian fisika
yang hanya separuh terisi. Kulihat Nining menarik tangan Rika dan berlalu
menuju kantin. Mereka sama sekali tak melihat padaku. Apa hari ini hari cuek
pada Lila? Tanyaku dalam hati.
Jam
terakhir, kami diizinkan pulang lebih dulu.
“Kita
akan ke rumah Lila,” hanya itu saja kata-kata yang disampaikan Bu Ririn,wali
kelasku.
Wah,
apakah ini bagian dari kejutan. Mereka mau ke rumahku dan aku tak dipedulikan sepanjang
waktu. Aku mau bertanya sesuatu tetapi Bu Ririn telah berlalu. Dan kelas jadi
riuh oleh teman-temanku yang berkemas untuk pergi ke rumahku. Aku masih tinggal
di dalam kelas hingga mereka semua pergi. Dengan langkah gontai aku berjalan ke
luar kelas dan berdiri di teras memandangi puncak bukit barisan yang mengelabu
tertutup kabut. Setiap musim penghujan, puncak bukit itu selalu terlihat samar.
Bagaimana rasanya melayang di ketinggian puncak bukit itu?
Kuturuni
tangga menuju gerbang sekolah. Tak satupun lagi teman-temanku yang terlihat.
Kuputuskan pulang berjalan kaki saja. Hari ini memang aneh. Bahkan tukang becak
pun tak menganggapku ada. Suara deru angkot dan klakson sepeda motor silih
berganti meramaikan siang yang kian panas. Mungkin akan turun hujan malam
nanti. Awan mendung menggelayut di ufuk barat kota ini.
Sesampai
di jalanan depan rumahku, terlihat banyak orang-orang berkumpul. Sebuah
ambulans terparkir tak jauh dari pagar rumah kami. Aku berlari menerobos
keramaian untuk mengetahui apa yang terjadi. Seperti melewati selaput
tipis, aku menyelinap di antara orang-orang yang menyemut.
“Apa
yang terjadi, Kak?” tanyaku pada Kak Tiara.
Kakakku
semata wayang itu tidak menjawab. Hanya air mata kian menderas di pipinya.
Kemudian dia berlalu ke dalam rumah mengikuti sebuah tandu yang baru saja
dikeluarkan dari ambulans. Aku aingin ikut masuk tetapi mataku tertumbuk pada
sebuah papan bunga. Kubaca tulisan yang tertera di atasnya. Tiba-tiba sekujur
tubuhku terasa dingin. Perlahan hujan mulai menggerimis. Hujan itu tak menunggu
malam tiba dan aku merasa diriku itu meluruh bersama butirannya.
“Turut
berduka cita atas berpulangnya LILA DWIYANTI pada kecelakaan pendakian gunung
Sibayak bersama MAPALA SMA RATU 2.”
***
Bersambung...........


Posting Komentar
0Komentar