Sejarah sebuah wilayah bukan sekadar catatan tanggal dan peristiwa, melainkan hembusan napas perjuangan para tokoh dan masyarakat di dalamnya. Memahami asal-usul tempat kita berpijak adalah cara terbaik untuk mengapresiasi kegigihan para perintis. Salah satunya adalah kisah tentang Kepenghuluan Pasir Limau Kapas, sebuah wilayah yang lahir dari perpaduan alam yang megah dan tekad yang kuat.
Pohon Legendaris di
Tepian Pematang
Dahulu kala, di pesisir pantai Kampung Pasir,
membentang sebuah pematang pasir putih yang panjang dan tinggi. Pematang ini
bukan sekadar gundukan tanah; ia adalah benteng kokoh yang memisahkan air tawar
dan asin, pelindung alami antara daratan dan lautan.
Di atas pematang inilah, tumbuh sebatang
pohon Limau Kapas yang begitu rimbun dan menakjubkan.
Keindahannya menjadi buah bibir hingga akhirnya masyarakat mengabadikan nama
pohon tersebut menjadi nama pemukiman mereka: Pasir Limau Kapas.
Bayangkan suasana kala itu: para pelaut yang
melintas dapat melihat jajaran kelapa yang melambai, hamparan padi yang
menguning di tepian pantai, dan deburan ombak yang mencium pematang. Saat malam
bulan purnama tiba, suasana teduh yang kontras dengan cahaya terang rembulan
menciptakan pesona yang memikat banyak orang untuk datang dan menetap. Tak
heran jika kampung ini menjadi kuali peleburan budaya, mulai dari suku Melayu,
Jawa, Mandailing, Tionghoa, Banjar, hingga suku pendatang yang cukup dominan,
yakni Bugis.
Datuk Awal: Sang
Pembuka Hutan
Tokoh kunci dalam berdirinya kampung ini
adalah Datuk Awal, seorang perintis asal Kubu. Beliau dikenal
dengan sapaan akrab Tuk Anggut karena janggutnya yang panjang.
Bersama kedua istrinya, Siput dan Sibah, ia bertekad membangun peradaban baru
di sana.
Datuk Awal adalah sosok visioner. Di tengah
musim kemarau panjang, ia membuka hutan secara besar-besaran untuk dijadikan
lahan pertanian kelapa dan padi. Saking dihormatinya, beliau bahkan mendapat
izin dari Sultan Siak untuk membangun anjung peranginan bagi putrinya. Dari
pernikahannya dengan Sibah, lahirlah tujuh orang anak: Singah, Siah, Itam,
Udul, H. Muhammad Said, Mutohil, dan Jamil.
Dinamika Kepemimpinan
dan Kisah Pulau Jemur
Sepeninggal Datuk Awal, estafet kepemimpinan
menjadi titik balik sejarah. Meski putranya, Datuk Udul, berambisi meneruskan
jasa ayahnya, takdir berkata lain. Sultan Siak mengangkat Datuk Amin
(Rangkayo Muhammad Amin) sebagai Penghulu pertama.
Datuk Amin adalah putra dari Datuk
Tanolok (Depunging), seorang Panglima Kerajaan Siak asal Makassar yang
sangat berpengaruh. Keluarga Datuk Tanolok bukan orang sembarangan; ia adalah
penguasa Pulau Jemur berdasarkan hibah Sultan Siak. Kekuasaan
keluarga ini atas Pulau Jemur berlangsung turun-temurun hingga akhirnya daerah
tersebut dinyatakan sebagai daerah tertutup pada masa konfrontasi
Indonesia-Malaysia.
Pelarian Spiritual
Datuk Udul
Pasca pelantikan Datuk Amin, Datuk Udul
memilih jalan sunyi. Ia pindah ke Bubun (Tanjung Pura, Langkat) dan mengabdi
sebagai bilal di bawah bimbingan ulama besar, Tuan Guru Syeikh Abdul
Wahab Rokan.
Datuk Udul dianugerahi suara yang sangat
merdu. Konon, setiap kali ia bermunajat atau melantunkan tarahim,
jemaah akan menangis tersedu-sedu karena hanyut dalam keindahan suaranya.
Namun, untuk menjaga kerendahan hati dan mencegah fitnah ilmu suara tersebut,
Tuan Guru melarangnya dan memberinya sirih hingga keajaiban suaranya memudar.
Warisan yang Kembali
Pulang: Mimbar Masjid Al-Ihsan
Di bawah kepemimpinan Datuk Amin, Pasir Limau
Kapas tumbuh menjadi wilayah yang makmur. Salah satu peninggalan paling ikonik
dari masa itu adalah sebuah Mimbar Masjid yang terbuat dari
kayu teras Nyirih Batu.
Mimbar ini diukir dengan sangat indah oleh
seniman kakak-beradik, Jamaluk dan Jamalus. Saking tersohornya,
banyak orang dari luar daerah datang hanya untuk menyaksikan kemahsyuran ukiran
tersebut. Sempat terabaikan saat pemukiman lama ditinggalkan, papan ukiran
bersejarah ini berhasil diselamatkan oleh Datuk Kh. Yunus. Berkat upaya H.
Muallim A. Rahman P. dan Kh. Hakim, kini warisan megah tersebut telah terpasang
kembali di Masjid Al-Ihsan Pasir Limau Kapas, menjadi saksi bisu
kejayaan masa lalu yang tetap lestari hingga kini.
Oleh : Juliadi
Sumber : Tulisan H.Muallim Abd. Rahman. P (1995).

.jpg)
Posting Komentar
0Komentar