Oleh : Rosmaini
Fikri mengetukkan bolpoint di
tangannya ke ujung meja. Suara ujung bolpoint beradu dengan meja terdengar
cukup keras hingga manarik perhatian Bang Salman yang duduk bersebelahan
dengannya.
“Ada apa, Fik,” tanya Bang Salman. Fikri menoleh
dengan agak terkejut. Dia tak menyangka Bang Salman masih berada di kantor.
Gara-gara hanyut dalam pikiran sendiri dia tak sadar dengan sekeliling.
“Gak pa-pa, Bang. Bolpoint sekarang sering macet,”
jawabnya sekenanya untuk menghindari tatapan Bang Salman. Di sekolah ini Bang
Salman sudah dianggapnya sebagai saudara. Setiap ada masalah dia selalu
bertukar pikiran dengan Bang Salman. Tetapi saat ini dia tak ingin Bang Salman
tahu permasalahan yang dihadapinya. Tepatnya belum ingin bercerita.
Bang Salman hanya tersenyum menanggapi kata-kata Fikri
tadi. Setelah megucapkan salam, beliau pamit untuk masuk ke dalam kelas.
Sekarang tinggal Fikri sendiri di kantor guru. Jam mengajarnya sedang kosong.
Jadi sekarang dia punya cukup waktu untuk merenungi masalah yang sedang
dihadapinya.
Bulan Rabiul Awal yang lalu, Fikri baru saja
menyempurnakan sebagian agamanya dengan menyunting Faradila Umar, seorang ukhti
sahabat Mbak Nining, istri Bang Salman. Selama dua bulan memadu kasih dalam
mahligai pernikahan, Fikri mulai mengenal segala sifat istrinya lahir batin.
Fikri bersyukur karena Fara seorang wanita salihah yang benar-benar dambaan
hatinya. Tetapi ada hal yang mengganggu kebahagiaannya. Dan dia khawatir telah
menikahi gadis yang salah.
“Tolong ambilkan kitab di atas meja kerja, sayang,”
ujar Fikri ketika Fara menyelesaikan qira’ah Al Qur’an-nya. Fara meletakkan Al
Qur’an yang baru dibacanya. Mulutnya berkomat-kamit menggumamkan sesuatu.
Mengambil kitab yang diminta Fikri. Berkomat-kamit lagi. Lalu berjalan ke arah
suaminya dan sebelum menyerahkan kitab itu berkomat-kamit lagi.
“Kitab yang ini, sayang?” tanya Fara sambil
menyodorkan kitab di tangannya.
“Hm, ya,” jawab Fikri dengan masygul. Ini untuk
kesekian kali dia mengamati kebiasaan Fara. Setiap akan melakukan apa saja
selalu mulutnya berkomat-kamit tak jelas. Ketika menyediakan makanan,
meletakkan hidangan di meja, masuk ke kamar tidur, pokoknya setiap melakukan
pergerakan. Saat mengerjakan pekerjaan di rumah ataupun berbicara, pasti Fara
berkomat-kamit tak jelas. Bahkan ketika dia akan mendekati Fara di tempat tidur
pun dia melihat bibir istrinya itu berkomat-kamit.
Mulanya Fikri mengira istrinya sedang bersungut-sungut
dengan tugas-tugasnya di rumah. Tetapi mimik wajah Fara tetap jernih dan teduh.
Tak ada indikasi kalau Fara sedang kesal atau jenuh. Hanya saja Fikri tak habis
pikir mengapa Fara selalu berkomat-kamit tak jelas. Hingga suatu kali timbul
sangkaan dalam hatinya. Jangan-jangan Fara sedang melafalkan mantra-mantra.
Siapa tahu Fara tergolong orang yang percaya dengan takhyul.
“Kamu jangan su’udzan. Siapa tahu itu hanya perkiraan kamu saja. Lagipula apa
kamu pernah melihat istrimu melakukan ritual yang aneh-aneh,” kata Mbak Dina
waktu Fikri menceitakan hal itu lewat telepon. Iseng-iseng dia mengadukan
masalahnya pada kakaknya semata wayang.
“Melakukaan hal-hal aneh, sih, tidak, Mbak. Tapi kalau selalu komat-kamit nggak
jelas gitu apa juga tidak aneh,” Fikri balas bertanya.
“Kenapa tidak kamu tanyakan langsung pada Fara?” saran Mbak Dina.
Bertanya pada Fara? Itu hampir dilakukannya. Tetapi
dia takut menyinggung perasaan isrinya itu. Sebenarnya dia juga ingin
menceritakan hal itu pada Bang Salman, tetapi mengingat Bang Salman yang telah
memperkenalkannya dengan Fara, dia merasa tidak enak hati. Jadilah masalah itu
tetap dipendamnya hingga saat ini.
Sore ini Fikri sedang leyeh-leyeh di
halaman depan. Sebuah bangku panjang di bawah pohon mangga cukup memberi tempat
sejuk untuk beristirahat. Udara panas siang tadi mulai redup ketika matahari
bergeser ke ufuk barat. Fikri memandangi bunga-bunga mangga yang mulai bersemi
di pucuk-pucuk dahan. Dilatari langit jernih dengan gumpalan-gumpalan awan,
bunga-bunga mangga itu terlihat seperti ukiran di tengah kanvas biru. Fikri
menoleh ketika mendengar suara sandal bergerak pelan. Fara dengan gamis putih
berbunga kecil-kecil datang membawa segelas minuman dingin. Jilbab panjangnya
yang berwarna merah muda berkibar ditiup angin sore. Minuman dingin itu
diletakkan Fara di meja rendah dekat suaminya yang sedang tiduran menikmati
udara sejuk sore itu. Seperti biasa bibirnya berkomat-kamit lagi.
“Silakan diminum, sayang,” ujarnya lembut.
Bersambung............


Posting Komentar
0Komentar