Karya : Rosmaini
Aku cuma bisa nyengir saja. Pada Kak Eva kujelaskan
kalau aku keberatan ikut dengan teman-temannya si Keylin yang kurasa agak
nyentrik itu. Tapi Kak Eva punya pertimbamgan lain.
“Kamu harus ikut, karena kalau tidak kasihan si Ipah. Dia pasti gak berani
melawan si Keylin. Kalau nanti sudah waktunya berangkat sekolah cepat-cepat
minta diantar pulang.” Itu kata-kata Kak Eva yang jadi pertimbanganku akhirnya
ikut skenarionya si Keylin.
Mobil carry dan ketiga penumpangnya itu memang tidak menjemput kami di rumah.
“Teman-teman” si Keylin itu hanya mau menunggu di rumah bilyar di depan gang.
Waktu akhirnya aku duduk di dalam mobil itu, seorang pria mencoba bersikap
ramah dengan menanyakan namaku. Aku hanya menjawab seperlunya. Aku lebih banyak
diam sambil mengawasi pengemudi dan Keylin yang duduk di bangku depan. Memasuki
daerah lapangan Benteng, mobil tidak berbelok ke kanan tempat restoran 'Surya'
berada. Tapi malah ke kiri.
“Lho, kita mau kemana?” tanyaku agak keras.
“Kita mau ke Sembahe, mandi-mandi. Abang yang nyetir itu sedang berulang
tahun,” yang menjawab pria yang tadi menanyakan namaku. Semua orang yang
tinggal di kota Medan pasti tahu tempat apa Sembahe itu.
“Kalau begitu aku gak ikut. Ini hari Jum’at, nanti jam dua kami mau masuk
sekolah,” aku berkeras agar mereka berhenti.
“Sekali-kali libur kan gak pa-pa, sich,” Keylin yang menjawab.
“Kalau Keylin mau ikut terserah saja. Antarkan kami pulang,” jawabku dengan
mantap. Ipah hanya memegangi lenganku.
Akhirnya mereka menurunkan kami di depan Deli Plaza. Aku tidak tahu apa yang
dikatakan para pria itu pada si Keylin. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku
merasa seperti seorang tawanan yang baru dibebaskan.
Bulan Februari. Awal tahun 90-an sedang ngetren Valentine’s day. Dengan penuh
ide-ide yang aneh, Keylin merencanakan acara valentine-an di rumahnya. Sejak
awal bulan kami sudah diminta membantunya menyiapkan surat-surat undangan.
Surat-surat undangan itu nanti akan di jual kepada orang-orang yang mau ikut
acara valentine di rumah kami.
Memang anak itu punya pergaulan yang lumayan juga. Semua surat undangannya laku
sebelum hari H. Jadilah kami sibuk mempersiapkan acara yang akan di adakan pada
malam valentine itu. Masak-memasak dan dekorasi kami siapkan dengan bantuan
tetangga. Wuih, seperti mau hajatan nikah.
Malamnya, jam tujuh tamu-tamu mulai berdatangan. Tapi masya Allah, sampai
ruangan penuh yang hadir cuma para cowok. Mulai dari ABG sampai yang ukuran
om-om. Tapi “the show must go on”. Meski dibilang para cewek hanya Keylin dan
beberapa teman-teman kak Eva, pestanya tetap meriah juga.
Jangan tanya aku berada dimana, ya. Aku ngumpet di dapur sambil bantu-bantu
nyiapin makanan. Dalam benakku ada pertanyaan “ kok mamanya terlalu permisif
sekali”. Sepertinya beliau terkesan takut menolak kemauan si Keylin itu.
Perasaan miris kurasakan menyelinap di hatiku melihat Keylin berdansa berpindah-pindah
dari satu pria ke pria lain. Sampai pesta itu berakhir aku tidak berani muncul
ke arena pesta. Aku hanya mengintip dari balik jendela yang menghadap ke
halaman belakang.
Keylin jatuh pingsan. Itu terjadi beberapa bulan kemudian. Pacar barunya, Joy, anak
seorang pengusaha, yang kebetulan ada di rumah juga tidak tahu kenapa Keylin
tiba-tiba jatuh pingsan. Sejak sore dia memang terlihat pucat dan lemas.
Berkali-kali dia memegangi perutnya. Karena keadaannya sangat lemah kami
membawanya ke rumah sakit. Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi kulihat para
perawat memasukkan banyak cairan ke dalam mulutnya lewat sebuah selang. Kata
dokter yang merawatnya, Keylin keracunan obat. Ketika sadar, dia mengaku sudah
menelan empat butir pil Paramex. Katanya untuk melihat kesungguhan cinta si
Joy. Astaga.
Tahun kedua di kota itu aku pindah kost ke tempat lain. Sejak itu, aku lama tak
bertemu dengan mereka. Tapi kabarnya Keylin menikah dengan Joy tak lama setelah
aku pindah kost. Terakhir ku dengar dia bercerai setelah melahirkan anak
pertamanya.
__________________________________________________________________
Epilog.
Aku tersadar ketika seorang pelayan meletakkan nasi goreng pesananku. Namaku
Raini. Aku adalah seorang peliput berita di sebuah majalah wanita yang cukup
terkenal. Sudah seminggu aku di kota ini untuk meliput tentang kehidupan
perempuan malam. Dan di kota ini aku melihat “dia”.
Pertama kali, aku melihat wanita itu di seberang tenda kafe tempatku duduk
malam ini. Berdiri di bawah lampu jalan sambil sesekali menyapa para pria yang
lewat. Dan malam ini aku kembali melihatnya. Berlalu dalam keremangan bersama
seorang pria. Wanita itu berusia sebaya denganku. Berambut ikal dengan tahi
lalat di sudut kiri dagunya. Dulu aku mengenalnya bernama Keylin.
***
Kotapinang, 18 Maret 2012.

.jpg)
Posting Komentar
0Komentar