Memang sial kali kurasa pagi ini, bah. Gara-gara main ML tadi malam, aku terlambat bangun. Mungkin sampai bosan Mamakku menggedor kamarku. Bukan tak kudengar, kupikir masih subuh saja. Mamakku sukak kali gitu. Masih jam lima, sudah jam tujuh katanya. Sekarang, lintang-pukang aku gosok gigi sambil sarapan. Entah kayak mana itu, gak usah pala kelen bayangkan. Pokoknya kayak dikejar malekat nungkar nangkir. (Entah malekat apa pulak itu.)
Pukul tujuh lewat lima menit baru siap aku di atas kereta. Kustarter tanpa pemanasan langsung tancap gas.
Kok berat pulak. Kutengok ke bawah...
Alamak...bannya kempes.
Adoooh... .
Jingkrak-jingkrak aku di pinggir jalan. Disangka gecong biarlah.
Kudorong kereta ke bengkel Bang Amin.
Masih tutup. Ke belakang bengkelnya lah aku. Karena di situ rumahnya. Kutengok Bang Amin masih menggigil berselimut. Tempel koyok kayak stempel Pak Camat di kepalanya. Aiih...kenapa pulak kumat malaria Abang ni pas ban keretaku kempes.
"Tinggalkan ajalah kereta kau, Do," suaranya bergetar-getar menahan gigil, "nanti siang Abang bolo," katanya lagi.
Jadi kayak mana aku ke sekolah, batinku.
Akhirnya aku berdiri di pinggir jalan menunggu bus Bilah Pane.
Tiba-tiba...brrrr...
Tanpa basa-basi hujan turun sederas-derasnya. Pantas kupikir masih subuh. Rupanya mendung.
Makin sengsara aku sekali ini. Sudah jatuh ditimpa tangga kejatuhan kelapa lagi. Dari jauh, ada bus mendekat. Buru-buru kustop.
Aku berlari-lari untuk naik, malah penumpangnya penuh hampir ke pintu. Akhirnya aku berdiri di dekat bangku belakang.
Tengah menghayal-hayalkan jawaban kalau ditanya guru, tanganku ditepok orang.
"Eh, kau Rido, kan?" tanya orang itu.
Kuingat-ingat...
"Ooo..kau Yudi. Ngapain kau naik Bilpan?"
Si Yudi kawanku waktu SMP. Sekarang sudah pindah ke Ranto. Kami ngobrol sepanjang jalan hingga tak sadar sudah sampai di depan sekolahku. Hujan agak reda.
"Aku duluan ya Yud," pamitku.
"Jangan lupa hari minggu ke rumahku," Yudi balas teriak.
"Di mana alamatnya?" teriakku dari pinggir trotoar. Sementara hujan mulai deras lagi.
Jalan Melati. Kubaca dari gerak bibir Yudi. Kemudian dia menulis sebuah angka di jendela yang berembun. 18.
Jalan Melati 18.
Aku mengacungkan jempol sambil berlari ke dalam sekolah.
***
Hari Minggu pagi.
Aku sudah berpakaian rapi dan wangi. Baju motif bunga yang sedang ngetren adalah hadiah kakak pertamaku. Sedangkan celana dari kakak ketigaku yang kerja di Suzuya.
Udahlah...
Nggak usah aku cerita soal sepatu, topi, sampai minyak rambut. Itu semua pemberian kakak-kakakku. Namanya aku adik paling kecil. Laki-laki satu-satunya di keluarga. Kecuali Bapakku.😁😁
Turun dari Bilah Pane, aku naik becak ke Jalan Melati. Nomor 18 pas, becak berhenti.
Wah, rumah si Yudi bagus juga. Banyak bunga-bunga. Aku ingat adik si Yudi cewek. Pasti dia yang menanam bunga-bunga itu.
Kupencet bel sekali. Sepi.
Sekali lagi lebih kencang. Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa. Lalu pintu dibuka.
Waaahhh....😃
Matahari pindah ke rumah si Yudi. Adek si Yudi udah gadis. Padahal dulu masih sering ingusan waktu aku main ke rumahnya.
Cantik, man....😁😁
Bersambung...........
Kotapinang, 29 Maret 2021
Rosmainy, SMA N 1 Bilah Hilir


Posting Komentar
0Komentar