Baraktime.com|Aceh
Singkil – Krisis ekonomi nyata
tengah melanda ribuan petani kelapa sawit swadaya di Kabupaten Aceh Singkil.
Harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat pengepul lokal tercatat anjlok drastis
hingga lebih dari 36 persen dalam waktu singkat, merosot dari posisi Rp2.700
per kilogram menjadi hanya Rp1.980 per kilogram. Kondisi pahit ini memicu
kecaman keras dari pengamat dan pemerhati daerah, yang menilai pemerintah
daerah justru pasif dan tidak berpihak pada rakyat kecil.
Pemerhati
daerah, Budi Harjo, mengecam keras sikap Bupati Aceh Singkil, H. Safriadi,
SH—yang akrab disapa Oyon—serta jajaran Pemerintah Aceh. Menurutnya, seluruh
janji dan retorika besar yang selama ini digembar-gemborkan di hadapan publik
dan media hanyalah bualan politik tanpa tindakan nyata.
Budi
menegaskan, pemerintah daerah telah kehilangan wibawa dan ketegasan di hadapan
korporasi perkebunan. Akibatnya, ketika pemerintah daerah di provinsi lain
mampu melakukan terobosan melindungi nilai jual petani, para pekebun mandiri di
Aceh Singkil justru dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan harga yang
mencekik leher.
Selama
menjabat, Bupati H. Safriadi (Oyon) kerap melontarkan narasi serupa di setiap
forum resmi maupun media massa. Ia selalu menekankan posisi strategis komoditas
ini bagi daerah:
"Sekitar
70 hingga 80 persen perekonomian masyarakat Aceh Singkil menggantungkan hidup
sepenuhnya pada sektor perkebunan kelapa sawit. Sawit adalah urat nadi ekonomi
daerah, dan kami berkomitmen memastikan Pabrik Kelapa Sawit (PKS) mematuhi
aturan harga agar tidak merugikan pekebun lokal." Tutur budi dalam reale
perssnya kepada awak media ini Kamis (28/05/2026).
Namun,
fakta di lapangan berbicara sebaliknya. Komitmen tersebut terbukti hanya
sekadar kalimat manis. Penurunan tajam hingga menyentuh angka di bawah Rp2.000
per kilogram di tingkat pengepul menjadi bukti nyata bahwa skema penetapan
harga di papan perusahaan berjalan sepihak dan sangat merugikan petani.
"Di
mana taji dan ketegasan Pak Oyon untuk mengintervensi perusahaan? Mengapa
pemerintah seolah buta dan tuli saat harga di tingkat rakyat hancur lebur tanpa
ada pembelaan sedikit pun?" tegas Budi Harjo.
Kontras Tajam: Singkil Pasif, Daerah Lain
Agresif
Situasi
di Aceh Singkil sangat kontras jika dibandingkan dengan daerah penghasil sawit
besar lainnya di Indonesia, seperti Riau, Jambi, hingga Kalimantan. Di
provinsi-provinsi tersebut, pemerintah daerah tidak tinggal diam. Melalui
pengawasan ketat dan intervensi langsung bersama Satgas Pangan, pemerintah
setempat memaksa korporasi untuk menjaga stabilitas harga beli.
Hasilnya,
meskipun petani di sana juga harus melewati jalur pengepul, harga yang diterima
petani mandiri di luar Aceh masih bertahan kokoh di kisaran Rp2.500 hingga
Rp2.800 per kilogram.
Sebaliknya,
di bawah kepemimpinan Oyon, nasib petani Singkil tergantung sepenuhnya pada
kebijakan sepihak pabrik. Akibat ketiadaan tekanan dari pemerintah, pengepul
lokal memaksa harga jatuh hingga ke angka Rp1.980 per kilogram.
"Sangat
miris melihat fakta ini. Petani di luar Aceh dilindungi kerja nyata
pemerintahnya, sementara di sini, rakyat dibiarkan diperas. Oyon dan Pemprov
Aceh hanya suka omongan besar, tapi nol aksi," kritik Budi.
Nihil Intervensi di Tengah Beban Ganda
Berdasarkan
pantauan Budi Harjo, hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun langkah
taktis yang diambil Pemkab Aceh Singkil untuk menekan korporasi. Beberapa fakta
krusial yang ditemukan di lapangan antara lain:
✅
Tidak Ada Pemanggilan Resmi: Pemerintah daerah sama sekali tidak berinisiatif
memanggil pimpinan PKS untuk mengevaluasi alasan penurunan harga sepihak
sebesar 36 persen yang meremukkan ekonomi warga.
✅
Pengawasan Nihil: Berbeda dengan daerah lain yang menurunkan tim ke lapangan
untuk memantau transaksi, Pemkab Aceh Singkil membiarkan tata niaga berjalan
liar tanpa kendali.
Temukan lebih banyak
Politik
Olahraga
✅
Beban Biaya Melambung: Ironisnya, kejatuhan harga ini terjadi bersamaan dengan
lonjakan biaya produksi. Harga pupuk kimia non-subsidi (seperti Urea Nitrea)
kini tembus Rp550.000 per karung 50 kg, sementara harga obat-obatan pertanian
juga melambung tinggi. Petani menanggung kerugian ganda: pendapatan anjlok,
biaya produksi melonjak.
Tuntutan Tegas Kepada Bupati
Merespons
situasi darurat ini, Budi Harjo selaku pemerhati daerah menyampaikan empat
tuntutan tegas kepada Bupati H. Safriadi:
1. Hentikan
Pencitraan: Berhenti membuat narasi manis di ruang publik. Fokuskan energi dan
wewenang pada kebijakan nyata yang menstabilkan harga sawit.
2. Panggil
Korporasi: Segera lakukan pemanggilan resmi terhadap seluruh manajemen PKS di
Aceh Singkil untuk meninjau ulang standar harga beli yang saat ini merugikan
petani.
3. Turunkan
Satgas Pangan: Mendesak pemerintah daerah menurunkan Satgas Pangan guna
mengaudit transparansi indeks harga dan sistem timbangan di pabrik, agar bebas
dari praktik pemotongan sepihak.
4.
Bersuara ke Pusat: Pemerintah Aceh dan Pemkab Singkil harus berani menyuarakan
aspriasi petani ke pemerintah pusat, jangan hanya diam dan menjadi penonton.
Budi
menegaskan akan terus mengawal isu ini secara ketat dan objektif. Ia
mengingatkan, kelapa sawit adalah urat nadi, dan jika pemerintah tidak segera
bertindak, maka perekonomian ribuan keluarga di Aceh Singkil terancam lumpuh.
"Jangan
biarkan urat nadi ekonomi Aceh Singkil mati hanya karena bupatinya pandai
berteori tapi tak punya nyali untuk berjuang bagi rakyatnya," pungkas Budi
Harjo. (Mnk)


Posting Komentar
0Komentar