Bener Meriah|Baraktime.com –
Alih-alih mendapatkan kenyamanan setelah tertimpa musibah, warga terdampak
bencana di Kabupaten Bener Meriah justru harus bertaruh nyawa di Hunian
Sementara (Huntara). Kualitas bangunan yang buruk kini menjadi sorotan tajam,
mulai dari atap bocor hingga ancaman maut akibat korsleting listrik pada rangka
baja ringan.
Ketua Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) DPW Bener
Meriah, Adis Atim Rohmansah, mengecam keras dugaan praktik "main
mata" antara vendor dan pihak terkait. Pasalnya, di lapangan ditemukan
fakta memilukan: lantai bangunan retak, dinding rembes, hingga instalasi
listrik yang membahayakan penghuni.
“Di beberapa unit bahkan warga tersengat listrik (nyetrum)
karena kabel menyentuh rangka baja. Ini fatal! Jangan jadikan alasan belum
serah terima sebagai tameng untuk lari dari tanggung jawab,” tegas Adis, Jumat
(24/4).
Kondisi terparah terpantau di Huntara Wonosobo, Kecamatan Wih
Pesam. Sejumlah unit ditinggalkan penghuninya karena air hujan bebas masuk ke
dalam rumah akibat drainase yang buruk. Proyek bernilai ratusan juta hingga
miliaran rupiah ini dianggap jauh dari standar Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Hukum Harus Bertindak Tegas
Persoalan ini memantik reaksi keras dari Pakar Hukum Pidana Internasional,
Prof. Dr. Sutan Nasomal. Melalui sambungan telepon dari Jakarta, ia menegaskan
bahwa siapapun yang bermain-main dengan proyek kemanusiaan harus dihukum berat.
“Permasalahan di lingkaran Huntara Bener Meriah ini harus
dilibas habis untuk efek jera. Jangan sampai ada oknum yang tega ‘melahap’ uang
rakyat kecil yang sedang tertimpa musibah. Hukum tidak boleh buta, harus hadir
berpihak pada korban,” ujar Prof. Sutan dengan nada geram.
Ia mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera turun tangan
melakukan penyelidikan menyeluruh. Jika ditemukan unsur korupsi atau kelalaian
yang sengaja, para pelaku harus segera diproses secara pidana tanpa pandang
bulu.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata dari BPBD Bener Meriah.
Akankah negara hadir memperbaiki nasib pengungsi, atau justru membiarkan mereka
terus terancam di rumah yang seharusnya melindungi mereka?


Posting Komentar
0Komentar