Oleh R’ainy Yusuf
Membaca
novel DETIK TERAKHIR karya Alberthienne Endah serasa mendengar penuturan
langsung. Bahasanya enak dan renyah, mudah dicerna karena berhubungan dengan
kehidupan yang mungkin terjadi pada siapa saja dan dimana saja. Dalam kondisi
apapun.
Cerita
dimulai dari penuturan seorang wartawan yang penasaran terhadap seorang gadis
setelah mewawancarai narapidana mantan pengedar narkoba. Dari si narapidana,
wartawan itu mendapat sebuah nama. Arimbi, nama gadis itu membuat rasa ingin
tahu dan jiwa kewartawanannya tergoda untuk menggali lebih dalam tentang
kehidupan sang gadis.
Setelah
melewati penantian panjang, kesempatan itu datang. Arimbi bersedia ditemui.
Bahkan tak hanya bertemu, Arimbi juga memaparkan jalan hidunya yang berliku,
setelah sang wartawan menyebut sebuah nama, Rajib.
Begitulah
cerita itu bergulir tentang pertumbuhan Arimbi sejak kecil dalam gelimang
kemewahan tetapi kering kasih sayang. Ayah dan ibunya yang sama-sama sibuk
hanya memberi materi bagi Arimbi kecil. Keduanya sibuk dengan rutinitasnya
masing-masing. Hingga Arimbi merasa dirinya tak lebih dari sebuah barang hiasan
yang ada di rumah mewah ‘berpilar enam’ milik orangtuanya. Bahkan mungkin
hiasan di rumahnya lebih dianggap berharga daripada seorang Arimbi.
Seiring
waktu Arimbi kian menangkap ada yang tak biasa dalam istana mewah ‘berpilar
enam’ itu. Ayahnya yang kerap menyakiti ibunya, sikap diam ibunya ketika
disiksa oleh ayahnya, ketidakpedulian mereka yang di sebut orang tuanya itu
pada dirinya.
Lalu
tiba-tiba muncul perasaan lain dalam dirinya. Pemberontakan terhadap keadaan
sekitar rumah ber’pilar enam’ itu membuat Arimbi kehilangan jati diri. Arimbi
ingin membuktikan dirinya tak akan bisa disakiti lelaki seperti ibunya. Arimbi
ingin membuktikan tidak sekejam ayahnya. Arimbi bimbang. Arimbi tak dapat
menjawab semua. Hingga pergaulannya dengan teman-teman lelakinya membuatnya
sadar jika dirinya menyukai sesama jenis. Ya Arimbi menjadi seorang lesbi.
Pada
saat itu rupanya gelombang kesengsaraan bagi jiwanya belum berhenti. Arimbi
menemukan kedua orangtuanya kian sibuk dengan dunianya sendiri. Papanya
berselingkuh dengan seorang model, ibunya mempunyai kekasih gelap seorang
pelukis muda. Lengkaplah sudah. Arimbi merasa tak mengenal kedua orang yang
menyebabkannya lahir ke dunia itu. Dan Arimbi yakin kedua orang itu pun tak
mengenali dirinya.
Arimbi
mulai mengenal kehidupan malam. Merokok mulanya setelah mengetahui papa bersama
seorang model remaja yang tengah naik daun dalam kamar hotel. Mama yang selalu
sibuk dengan ponsel dan kekasih gelapnya. Dan ‘jalan keluar’, dalam bahasa
Arimbi, kian terbuka ketika dia menemukan bubuk putih yang melenakan dari
Rajib. Arimbi menjadu pecandu putaw. Bagi Arimbu narkoba hanyalah jalan
bagi dirinya untuk menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Arimbi merasa
dirinya secara sadar mengkonsumsi bubuk haram itu. Rajib pula yang
memperkenalkannya kepada Vela, kekasih sesama jenis Arimbi.
Novel
yang membuat saya terengah membacanya. Haru dan sedih. Terharu dengan kehidupan
orang-orang seperti Arimbi, Rajib, Vela, dan banyak tokoh dalam novel ini yang
sebenarnya bernasib sama. Sedih sebab hampir seluruhnya pula tak menemukan
jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi.
Walaupun
novel ini bercerita tentang kehidupan yang tak tenang dan pencarian jati diri
remaja. Tapi hingga novel ini berakhir sebenarnya tak ada solusi yang didapat
Arimbi selain tuntutan agar dirinya dipahami. Agar orang-orang di sekitarnya
menerima jalan hidup yang dipilihnya. Arimbi merasa dirinya tidak apa-apa setelah
lepas dari jerat narkoba. Arimbi tidak merasa dirinya sakit. Pilihannya menjadi
lesbian dianggapnya sebagai bukti bahwa manusia berhak untuk mencintai dan
dicintai dengan cara yang diinginkannya.
Novel
ini memang tidak memberikan solusi. Semuanya dibiarkan mengambang menurut alur
pikiran pembaca. Novel ini hanya memaparkan beginilah kehidupan seorang
manusia. Bahkan rohaniwan, sekolah, psikiater terkemuka yang dibawa orangtua
Arimbi untuk menyembuhkannya tak mampu melakukan apapun, mereka dianggap hanya mengganggu
kebahagiaan yang telah ditemukan Arimbi dengan pilihan sebagai homoseksual.
Padahal
solusi batin manusia haruslah ditemukan dalam ruang batin juga. Pencarian
Arimbi adalah pencarian batin. Rohani, jiwa, cinta semuanya tentang rohani.
Bagaimana manusia akan bahagia secara batin jika dia mencari kebahagiaan itu di
alam lahir.
Amat
mudah bagi Arimbi mencari jawab terhadap persoalan yang dihadapinya jika saja
Arimbi mengenal kata TUHAN.
Jadi
novel ini bagus sekali, tetapi kita butuh kesadaran penuh dalam membacanya agar
dapat menentukan pilihan. Bagaimana pun narkoba bukan sarana untuk menemukan
kebahagiaan hakiki, lantas bisa ditinggalkan begitu saja setelah kita merasa
tak membutuhkannya.


Posting Komentar
0Komentar