AKU DAN KEYLIN (II)

Media Barak Time.com
By -
0


  

Karya : Rosmaini


Tiba-tiba datang Windi bersama papanya menjemput kami di depan rumah. Barulah Keylin nongol dari kamar. Kami bertiga digiring pulang. Aku dan Ipah sudah gemetar karena takut kena marah, tapi dia tetap tenang. Dan benar saja begitu sampai di rumah aku dan Ipah yang diceramahi. Si Keylin? Kabur ke dalam kamar.


Suatu sore kami sedang duduk-duduk di teras. Aku membaca novel sesuai dengan kebiasaanku, sedangkan Ipah mengerjakan tugas stenografinya. Keylin membersihkan kuku-kuku tangannya yang panjang-panjang. Kuku-kukunya terlihat bagus dan terpelihara.


“Kawanku ada yang mau ultah, lho,” Keylin buka cerita sambil terus membersihkan kuku.
“Wah, enaklah bisa makan-makan gratis,” sambung Ipah.
“Iya,” sambil menghaluskan ujung kuku, “dia ngajak kita makan-makan di restoran, hari Jum’at nanti. Mau kalian?” ujar Keylin lagi.


“Maulah,” akhirnya aku yang menjawab. Maklum kalau sudah urusan makan gratis, anak kost pasti jagonya.
“Ya sudah, nanti hari Jum’at kita siap-siap, berangkatnya jam sepuluh,” kata Keylin lagi.
“Oke!” aku dan Ipah serempak.


Hari Jum’at yang ditunggu-tunggu pun tiba. Karena masuk sekolah siang hari, aku setuju ikut ke acara ulang tahun temannya si Keylin. Sembari menunggu temannya, Keylin mandi. Kami di suruh menunggu di depan, siapa tahu temannya datang.


“Mereka bertiga. Mobilnya carry. Koq datang panggil aja. Dia belum tahu rumah kita,” pesan Keylin sebelum masuk ke kamar mandi.
Sepuluh menit berlalu belum ada yang lewat. Sampai setengah jam belum juga ada yang datang. Tepat jam sepuluh, ketika Keylin sedang berdandan, ada mobil yang lewat. Suzuki carry. Tapi isinya tiga orang yang sudah cukup dewasa.


“Ah mungkin temanmu gak jadi datang, Lin,” kata kak Eva, tetangga depan yang sering main ke rumah kami.
“Iya,” timpalku membenarkan, “ada carry yang lewat tapi yang nyetir sudah agak tua, gendut lagi kayak om-om.”
“Lho, gak kau panggil?” Keylin membelalakkan matanya yang bundar.
“Yang mana?” tanyaku heran, “om-om itu?” .
“He-eh, itulah kawanku,” jawab Keylin lagi.


Aku tidak tahu apa yang mereka perdebatkan berikutnya, yang pasti aku langsung diam-diam masuk kamar dan ngumpet di bawah kolong tempat tidur.
Sambil sembunyi aku berfikir. Apa yang ada di benak si Keylin itu. Orang bodoh pun pasti tahu kalau ketiga lelaki yang ada di mobil tadi lebih pantas jadi pamannya. Koq katanya teman? Kalau menurut pikiran anak desa sepertiku, anak kelas 3 SMP, ya gaulnya sama anak SMP juga.


“Aku gak mau ikutlah, Lin,” suara Ipah berusaha menolak untuk ikut.
“Alah, payah kali kau, udah gak pa-pa,” Keylin memaksa.
Kasihan Ipah. Pasti dia nggak berani menolak ajakan si Keylin. Kan dia asli numpang di sini.
“Kemana si Raini tadi?” kak Eva menanyakanku.
“Entah, mau diajak makan aja betingkah,” Keylin sewot.


Jelas saja aku bertingkah, masak diajak kencan sama om-om. Yang benar saja, biar dari daerah, aku sudah biasa membaca berita di koran tentang kasus-kasus remaja yang jadi korban lelaki iseng. Ya modusnya hampir mirip seperti ini.


“Sepatuku dimana?” Keylin masih sewot.
“Coba lihat di bawah tempat tidur, kemarin ku simpan di situ.” Itu suara Ipah.
“Tempat tidur mana?”
“Tempat tidur kami.”
Deg! Jantungku berdegup keras. Aku kan sedang bersembunyi di kolong tempat tidur. Waduh pasti ketahuan ini.
“Udah biar kakak yang ambilkan.” Itu suara kak Eva.
“Ha, ini rupanya si Raini!”

Bersambung.....

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)