Baraktime|Aceh Singkil - Jauh sebelum
pemukiman padat terbentuk di wilayah Gunung Meriah, hamparan kebun di wilayah
Rimo dan Lae Butar sudah dibuka oleh perusahaan asing pada era Hindia Belanda
sekitar tahun 1938, yang kemudian dinasionalisasi menjadi joint venture
PT Socfindo.
Kini, lanskap sosiologis itu telah
berubah. Wilayah yang dulunya hutan belantara telah menjelma menjadi pusat
ekonomi baru. Keberadaan PT Socfindo terbukti menjadi magnet bagi para pendatang
dari berbagai daerah untuk membangun kehidupan, mulai dari membuka usaha warung
hingga penyediaan jasa tepat di batas kebun. Pertumbuhan penduduk yang pesat
ini membuat pemukiman warga kini mengepung dan menempel langsung dengan area
operasional pabrik.
Meski secara hukum perkebunan hadir
lebih awal, PT Socfindo memilih pendekatan humanis. Perusahaan memandang
kepadatan pemukiman di Ring Satu bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai
mitra strategis untuk tumbuh bersama.
Komitmen ini diwujudkan melalui
program Corporate Social Responsibility (CSR) yang terukur. Di sektor
ketahanan pangan dan ekonomi, perusahaan menyalurkan bantuan 10 ekor kambing
kepada pemuda Desa Lae Butar serta menggelar pelatihan Best Management
Practice (BMP) bagi kelompok tani kelapa sawit lokal. Tak hanya itu,
bantuan alat panen dan alat semprot juga dibagikan demi menggenjot
produktivitas petani.
Di sisi lain, kepekaan sosial juga
ditunjukkan melalui kebijakan non-formal yang menyentuh urusan dapur warga.
Manajemen secara terbuka mengizinkan masyarakat lokal masuk ke area kebun (di
luar blok aktif) untuk mencari daun pakis, jamur sawit, lidi untuk sapu, hingga
menggembala ternak. Demi mendukung para pemetik pakis tradisional, perusahaan
bahkan sengaja tidak menyemprot habis tanaman pakis di area tertentu.
“Salah satu program kita yaitu
dengan memberikan izin warga masuk ke lokasi perkebunan untuk mencari daun
pakis, jamur sawit dan lidi sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap
masyarakat sekitar,” ungkap Erik Obaza Barus dalam sesi wawancara, Rabu (8/7).
Langkah konkrit ini menjadi bukti
bahwa jalannya roda industri tidak harus menyingkirkan masyarakat lokal,
melainkan bisa saling menopang demi kemandirian ekonomi bersama. (MP)


Posting Komentar
0Komentar