"Warisan Abadi Sang Guru: Nafas Pengabdian yang Tak Pernah Padam"

Media Barak Time.com
By -
0

 

 


 

Mengenal Sosok Ulama Kharismatik,  Syekh Abu Tanah Merah

Di tanah Aceh Singkil yang religius, terpatri sebuah nama yang tak lekang oleh waktu: Syekh Abu Tanah Merah. Di balik nama besar itu, bersemayam sosok ulama kharismatik, Syeikh H. Bahauddin Tawar, seorang pendidik jiwa sekaligus pendiri Pondok Pesantren Darul Muta'allimin yang legendaris. Pengaruh ruhaninya tak sekadar menetap di Simpang Kanan, namun meluas hingga menjamah sanubari umat di seantero wilayah sekitarnya.


Lahir pada  5 Februari 1927 di Desa Seping, perjalanan hidupnya adalah sebuah garis takdir yang telah dipersiapkan. Ia tumbuh dalam pelukan keluarga yang menjadikan agama sebagai nafas kehidupan. Di bawah bimbingan ayahnya, Muhammad Tawar (Ma’tawar)—seorang alim yang dihormati—dan kasih sayang ibundanya, Siti Zainab, Abu Tanah Merah muda ditempa menjadi pribadi yang haus akan cahaya ilmu sebelum akhirnya bertransformasi menjadi mercusuar bagi ribuan pencari kebenaran.

 

Langkah dakwahnya dimulai dari sebuah gubuk kesederhanaan. Saat baru menginjak usia enam tahun, Abu telah mencecap manisnya iman melalui didikan langsung kedua orang tuanya. Di bawah atap rumah yang penuh keberkahan itulah, fondasi akhlak dan kecintaannya pada Sang Pencipta dipancangkan dengan kuat.


Tak lama berselang, ia mulai menapakkan kaki di Sekolah Rakyat (SR) Pemuka, sebuah sekolah bersahaja di jantung Desa Pemuka. Tiga tahun lamanya ia menimba ilmu di sana, namun takdir seolah memiliki rencana lain; ia menyelesaikan masa sekolahnya tanpa selembar ijazah di tangan. Namun, ketiadaan kertas formal itu sama sekali tak memadamkan api semangatnya. Bagi Abu, ilmu bukanlah sekadar simbol di atas kertas, melainkan cahaya yang harus dikejar. Kecintaan yang mendalam pada ilmu agama sejak belia inilah yang kelak menempa dirinya tumbuh menjadi sosok ulama luar biasa yang disegani zaman.


Panggilan ilmu akhirnya membawa langkah Abu Tanah Merah berkelana lebih jauh. Pada tahun 1947, ia menambatkan takdirnya di Pesantren Darussalam, Labuhan Haji, sebuah kawah candradimuka bagi para pencari kebenaran di Aceh Selatan. Di sana, Abu melewati setiap anak tangga keilmuan dengan tekun—mulai dari jenjang Tsanawiyah, Aliyah, hingga puncaknya di Ma’had Bustanul Muhaqqiqin.


Rasa haus akan hakikat ketuhanan membuat Abu tak pernah mengenal kata menyerah. Ia menyerap setiap tetes ilmu bak tanah kering yang merindukan hujan. Keistimewaan luar biasa ia dapatkan ketika diperkenankan mereguk samudera ilmu langsung dari sang guru besar, Syeikh H. Muhammad Waly Al-Khalidy. Di bawah bimbingan langsung ulama kharismatik penganut Mazhab Syafi’i tersebut, kecerdasan dan spiritualitas Abu kian terasah tajam.


Dua belas tahun lamanya (1947–1958) waktu ia habiskan dalam sunyinya pengabdian dan riuhnya mutala’ah buku-buku kuning. Hingga akhirnya, ia menuntaskan studinya bukan sekadar sebagai lulusan, melainkan sebagai sosok alim yang siap menyinari kampung halamannya.


Sekembalinya ke pangkuan tanah kelahiran pada tahun 1958, Abu membawa misi besar untuk menyemai benih-benih ilmu yang telah ia petik. Ia pun mendirikan Pondok Pesantren Darul Muta'allimin, sebuah institusi yang kelak menjadi benteng spiritual bagi umat. Langkah besar kembali diambil pada tahun 1962, saat ia memutuskan untuk memindahkan pusat pengajarannya ke sebuah desa yang kemudian dikenal abadi sebagai Tanah Merah.


Kini, Darul Muta'allimin telah bertransformasi menjadi ikon abadi pendidikan Islam di Kabupaten Aceh Singkil hingga Kota Subulussalam. Pesantren ini bukan sekadar tempat belajar, melainkan rahim yang melahirkan tokoh-tokoh penting dan para penggerak pembangunan di dua daerah tersebut. Keberkahan dakwah Abu Tanah Merah kian nyata dengan tumbuhnya lebih dari 100 cabang madrasah yang berakar dari pohon keilmuan Darul Muta'allimin, menyebarkan harumnya ilmu ke berbagai penjuru.


Sosok Abuya Syeikh Bahauddin Tawar bukan sekadar seorang guru; ia adalah tempat bernaung bagi ribuan jiwa yang haus akan kedamaian. Di mata para santrinya, beliau adalah sosok yang amat dicintai, sementara bagi masyarakat Aceh Singkil hingga Subulussalam, namanya dikagumi sebagai mercusuar moral yang disegani. Setiap untaian kalimat yang keluar dari lisan beliau bukanlah sekadar kata-kata, melainkan petuah sakti yang terukir abadi dalam ingatan kolektif umat.


Namun, di antara sekian banyak pesan bijak sang ulama, ada satu wasiat ruhani yang hingga kini masih menggetarkan sanubari para pemuda dan santrinya. Sebuah bait nasihat yang menjadi api penyemangat dalam menghadapi terjalnya kehidupan:


"Jangan surut di tengah jalan, walaupun penuh dengan rintangan. Itulah pemuda-pemudi sejati, yang dalam hidupnya selalu berbakti."

 

Nasihat ini bukan hanya sekadar kalimat penutup, melainkan sebuah warisan semangat agar setiap generasi terus melangkah maju, menerjang badai tantangan demi pengabdian yang tulus kepada Ilahi dan negeri.


Beliau wafat pada tanggal 3 April 2008 dan di makamkan  di Desa Seping, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh.

 

 

Kompasiana.com, "Mengenal Sosok Syeikh H. Bahauddin Tawar (Abuya Tanah Merah) di Aceh Singkil

Wikipedia dan masyarakat setempat.

 



Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)