Dengan pede aku mendekat dan memencet hidung bangir cewek di depanku sambil berkata, "iihhh...manis kali kau sekarang, Dwi...."
Kontan tanpa aba-aba gadis itu menjerit.
Suaranya melengking kayak mau membangunkan isi kamar mayat.
Seiring dengan itu suara derap kaki berat terdengar dan disusul dengan sebuah tangan kekar mencengkram lenganku.
"Adu...duh...," aku melintir menahan sakit.
Waktu aku mendongak, ya ampuuun.... Sejak kapan kumis bapak si Yudi melintang gitu. Badannya kekar lagi.
Tak lama rumah itu dipenuhi orang-orang. Pak Erte dan Bu Erte juga sudah hadir.
Aku disidang karena sembarangan memencet hidung anak gadis orang.
Terbata-bata aku menjelaskan.
Akhirnya atas bantuan Pak Erte, aku diizinkan pergi. Setelah memeriksa isi dompetku tentu saja. Untung kartu tanda siswa selalu kubawa.
Hari makin siang. Perutku sudah keroncongan. Mana penampilan sudah acak-acakan. Sambil termangu-mangu di bawah pohon di pinggir jalan, aku mengingat-ingat obrolanku dengan si Yudi.
Tiba-tiba...
Aku menepuk paha keras-keras.
Baru aku ingat, si Yudi kan nulis angka di jendela dari sebelah dalam. Dari luar kubaca 18... Berarti rumah si Yudi nomor....
Aku bergegas berbalik arah....
***
"Eh, udah sampe kau, Do?" sambut si Yudi begitu aku sampai.
Aku malas menanggapinya. Langsung saja aku masuk dan menjatuhkan tubuh di sofa rumah si Yudi.
Apes betul aku.
Gara-gara terlambat bangun ya begini....
Kotapinang, 29 Maret 2021
Rosmainy, SMA N 1 Bilah Hilir


Posting Komentar
0Komentar