Muara Penantian Sang Detektif

Media Barak Time.com
By -
0

 



Karya : WAI Nasution

 

Pria itu duduk menyudut, tenggelam dalam remang cahaya kafe. Postur atletisnya terbungkus jaket kulit hitam yang mulai kusam di bagian siku. Rambutnya yang setengah gondrong dibiarkan berantakan, namun justru mempertegas garis rahangnya yang keras—sebuah perpaduan antara ketidakteraturan dan kharisma yang maskulin. Sepasang matanya menatap tajam, menguliti setiap pengunjung yang melintasi pintu masuk.

"Informasi sampah," batinnya masygul.

Sudah setengah jam dia mematung, hanya ditemani segelas kopi yang mulai mendingin. Tak satu pun sosok yang lewat sesuai dengan ciri-ciri yang dijanjikan bawahannya. Amarah mulai merayap ke tengkuknya. Dengan gerakan kasar, ia menyambar ponsel di atas meja kayu itu.

"Halo! Di mana kau, Indra?" serunya begitu sambungan tersambung, tanpa memberi celah bagi lawan bicaranya untuk sekadar berdeham. "Aku tidak mau tahu, lima belas menit dari sekarang kau harus sudah menampakkan batang hidungmu di sini!"

"Siap, Ndan!" sahut suara di seberang sana, singkat dan tegang.

Tak sampai lima belas menit, Indra muncul dengan napas memburu. Ia segera menghampiri meja atasannya yang sedang duduk sendiri. Langkah Indra seketika tertahan. Loh, kenapa Bang Rudi sendirian? Mana Yanti? Gawat ini, batinnya mulai was-was.

"Siap, salah, Bang!" ucap Indra sambil berdiri tegak, berusaha menutupi kegugupannya.

Rudi mendongak, matanya menyipit berbahaya. "Siap salah, katamu? Mana perempuan itu? Hampir satu jam aku duduk seperti orang bodoh di sini, dan tak satu pun yang muncul. Kau sedang mengerjaiku, ya?"

"Suer, Bang! Tidak ada maksud sedikit pun membuat Abang menunggu begini," Indra mengangkat tangannya, seolah sedang bersumpah di pengadilan.

"Suer... suer! Sebenarnya siapa Yanti itu?" Suara Rudi sedikit melunak, meski sisa kejengkelan masih jelas terdengar. "Duduklah, jangan berdiri terus seperti tugu."

Indra menarik kursi dengan ragu, lalu duduk di hadapan Rudi. "Anu, Bang... sebenarnya, aku juga tidak mengenalnya secara pribadi."

Rudi nyaris tersedak udara. "Apa?! Kau menyuruhku menunggu di sini, sementara kau sendiri tidak kenal siapa gadis itu? Keterlaluan!"

"Maksudku bukan begitu, Bang..."

"Bukan begitu bagaimana? Ini fakta! Jangan mencoba berkelit lagi," potong Rudi cepat.

Indra menarik napas panjang, mencoba menjelaskan sebelum emosi atasannya kembali meledak. "Memang aku tidak mengenalnya secara mendalam, Bang. Tapi dia yang mengenali Abang. Katanya, dia teman lama Abang waktu sekolah dulu. Kejadiannya kebetulan sekali; kemarin saat aku sedang menunggu informan di kafe ini, aku tidak sengaja bersenggolan dengannya. Kami bicara panjang lebar, dan tiba-tiba saja nama Abang disebut sebagai kawan lamanya."

Bersambung.....

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)