Menulislah...
Lepaskan alur pikirmu yang tak bersekat
Biarkan jemari menari di atas kertas yang semula sunyi
Hingga kau mencecap nikmat yang meresap ke dalam batin
Dan kelak, kau akan memahami bahasa jiwamu sendiri.
Menulislah...
Sebab riuh di kepalamu perlu ditenangkan
Beri napas pada aksara hingga ia menjadi mahakarya
Syukurilah wangi alam yang masih bisa kau hirup hari ini
Serta indahnya hidup, meski ia kerap hadir sebagai teka-teki.
Menulislah...
Simaklah bisik hatimu yang penuh hasrat
Tuangkan segala resah pada hamparan kertas polos yang tabah
Agar kelak kau mengerti betapa berharganya segores tinta
Yang mengalir jernih, menyentuh palung hati setiap pembaca.
Menulislah...
Biarkan tanganmu bergerak liar, melampaui coretan tanpa makna
Izinkan ia bercerita tentang siapa dirimu dalam kata
Jangan biarkan ragu membelenggu luasnya cakrawala pikiranmu
Sebab kau adalah penulis bagi nasibmu sendiri.
Menulislah...
Selagi waktu masih melingkar di pergelangan hidup yang semu
Selagi napasmu masih berembus bebas tanpa batas
Selagi jemarimu masih mampu menggenggam mata pena
Sebelum maut mengetuk pintu rumahmu tanpa suara.
Menulislah... Menulislah... Menulislah...
Dalam jalinan aksara dan deretan kata
Untukmu, untukku, dan untuk kita semua
Agar setiap napas tulisanmu terpatri abadi dalam jiwa
Agar jejakmu tetap terbaca, meski raga telah tiada.
Kotapinang, 1
September 2020


Posting Komentar
0Komentar